
Keluarga Adalah Sekolah Pertama Cinta Dan Iman
Dalam teologi Kristen keluarga dipandang sebagai sebuah komunitas yang dipanggil untuk hidup dalam kasih, persekutuan dan pelayanan kepada Tuhan dan sesama. Keluarga juga merupakan institut awal dan utama bagi anak-anak untuk belajar tentang cinta dan iman kepada Tuhan.
Peranan orang tua sebagai guru pertama mengajarkan anak-anak tentang kasih Tuhan, dan menerapkan nilai-nilai Kristen dalam kehidupan sehari-hari lewat teladan nyata. Hal ini akan membentuk karakter anak agar utuh secara spiritual dan moral, melampaui peran sekolah formal serta menjadi saksi kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Keluarga Kristen juga merupakan tempat dimana anak belajar tentang pentingnya doa, membaca Alkitab dan beribadah bersama.
Dalam hal ini, peran orang tua tentu sangat penting, dan semestinya orang tua harus menjadi teladan bagi anak-anaknya, sehingga anak boleh menghidupinya. Peran orang tua sebagai pewarta iman pertama bagi anak-anak mereka, membentuk pemahaman tentang Allah dan kasih-Nya secara mendalam.
Melalui perilaku sehari-hari yang mencerminkan ajaran Kristus, orang tua mengajarkan integritas, kesabaran dan pengampunan, itulah yang disebut berperan sebagai teladan hidup. Jadi, boleh dikatakan bahwa keluarga adalah sekolah pertama cinta dan iman. Dimana anak-anak belajar tentang kasih Tuhan dan bagaimana menerapkan nilai-nilai Kristen dalam kehidupan sehari- hari.
Peran Keluarga Sangat Dominan Dalam Membangun Karakter
Ada pepatah mengatakan bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, ini merujuk pada hubungan antara anak dan orang tua. Perilaku dan karakter anak dipengaruhi oleh perilaku dan karakter orang tua serta lingkungan keluarga. Karakter mencakup nilai perilaku yang bersifat vertikal dan horizontal, artinya punya dua hal penting yakni hubungan dengan Tuhan dan secara horizontal berhubungan dengan diri sendiri dan orang lain, yang terwujud dengan nilai-nilai dan sikap. Jadi kekuatan karakter khususnya anak dalam usia dini akan terbentuk dengan sendirinya jika ada dorongan dan dukungan dari lingkungan sekitar dalam hal ini keluarga.
Peran keluarga sangat dominan dalam membangun karakter anak. Hubungan positif dalam kasih yang dibangun sejak dini dalam keluarga akan memberikan kontribusi pada kemampuan anak-anak dalam menjalin relasi atau hubungan dengan orang lain dalam kasih Kristus. Pembentukan karakter dalam keluarga dapat dilakukan dengan menerapkan model pengasuhan otoritatif atau demokratis, yang mendorong anak untuk mandiri namun tetap menerapkan batasan pada perilaku mereka.
Keluarga Kristen merupakan persekutuan hidup yang dalam hal ini bahwa ayah, ibu dan anak harus menjadikan Tuhan Yesus sebagai kepala keluarga atau pusat dan dasar hidup berdasarkan ajaran-Nya, saling mengasihi serta menjadi “gereja kecil”, tempat dimana pertama kali diajarkan iman, bertumbuh dalam kasih dan menjadi berkat bagi sesama. Landasan utamanya adalah kasih dan ketaatan pada firman Tuhan, dan setiap anggota keluarga berperan aktif menyatakan kasih itu dibawah kepemimpinan Kristus.
Dalam hal perannya, masing-masing ada, suami/bapak yang memimpin dengan kasih dan hikmat, agar setiap anggota keluarga tunduk pada otoritas Allah dan menjadi teladan. Sementara peran istri/ibu: membantu menghormati suami serta taat pada Kristus, dan anak: taat pada orangtua sebagai bagian dari ketaatan pada Tuhan.
Secara menyeluruh bolehlah diibaratkan bahwa sebuah keluarga seperti laboratorium iman dan kasih, dimana nilai-nilai Kristiani diterapkan, permasalahan dihadapi bersama dibawah pimpinan Kristus dan setiap anggota bertumbuh menuju kesempurnaan dalam Kristus.
Sesungguhnya fungsi sebagai “sekolah” dari keluarga yang utama adalah dalam pembentukan karakter dan iman anak, mengintegrasikan nilai-nilai Alkitabiah secara holistik melalui teladan orangtua, pengajaran rutin (doa, ibadah), berkarakter Kristus, mengasihi Tuhan, dan mampu membangun hubungan yang baik dengan sesama, melengkapi pendidikan dari sekolah formal dan gereja.
Dominasi peran keluarga dalam hal ini orangtua dalam membangun karakter anak sangatlah penting, hubungan dengan positif yang dibangun sejak dini dalam keluarga sangat memberikan kontribusi terhadap kemampuan anak dalam menjalin hubungan dengan orang lain.
Keluarga Dalam Perspektif Pastoral
Secara pastoral, tujuan keluarga adalah untuk menciptakan sebuah komunitas yang sehat, harmonis dan berpusat pada Tuhan Yesus. Setiap anggota keluarga haruslah bertumbuh dalam iman dan menjadi saksi Kristus bagi orang lain.
Tujuan Pendidikan Iman Dalam Keluarga
Adapun tujuan pendidikan iman dalam keluarga adalah:
Secara prinsipil bahwa keluarga Kristen dipanggil untuk menjadi “gereja rumah tangga” (ecclesia domestica) yang menghidupi, merayakan dan meneruskan iman secara konkret melalui hidup sehari-hari, sehingga sesungguhnya keterlibatan orangtua dalam proses kehidupan anak adalah yang utama.
Memang harus diakui bahwa tugas tersebut tidaklah mudah, sangat sulit memberikan contoh kepada anak-anak apalagi soal hidup beriman bila tidak hidup dalam diri orang tua sendiri. Namun bukan berarti tidak bisa, tidak mungkin atau tidak harus. Mulailah dengan cara yang sederhana berdoa bersama, membacakan firman Tuhan, mengingatkan anak untuk tertib dalam setiap ibadah, dan sikap sebagaimana perilaku yang baik dan sesuai dengan ajaran Kristiani.
Memberi koreksi pada anak ketika anak melakukan kesalahan itu juga penting, namun caranya haruslah mengutamakan kasih. Mempraktikkan hidup yang beriman sebagai pola asuh yang nyata dalam kehidupan keseharian orang tua di tengah-tengah keluarga. Praktik hidup yang demikian akan menjadi teladan yang membuat anak-anak akan lebih mudah menghidupinya.
Memang kenyataan yang sering kita temukan adalah, tidak sedikit orang tua yang berpikir asalkan sudah mengirimkan anak-anak ke Sekolah Minggu atau pendidikan Katekisasi Sidi, maka tugas membina iman anak sudah selesai. Pemikiran ini tentu tidak tepat, karena peran guru Sekolah Minggu atau Pembimbing Bina Iman tersebut hanya sebatas membantu untuk pertumbuhan itu. Pada akhirnya memang yang utama adalah peran orang tua bagi pertumbuhan iman anak.
Sesibuk apapun pekerjaan dan aktivitas orang tua, rasa-rasanya tugas dan tanggungjawab ini tidak bisa dialihkan atau diserahkan kepada asisten rumah tangga atau pengasuh anak, karena mereka hadir sebagai sosok/pihak yang mendukung peran penting orangtua tersebut.
Point Penting Mengenai Keluarga Kristen Sebagai Sekolah Pertama Cinta
Ciri Keluarga Kristen Yang Sehat
Melihat harapan dan peran keluarga bagi kehidupan anggota keluarga itu, tentu sangatlah penting juga melihat bagaimana atau apa indikator keluarga Kristen yang sehat.
Adapun ciri keluarga Kristen yang sehat meliputi dasar iman yang kuat pada Tuhan, kasih tanpa syarat, komunikasi terbuka, saling menghormati dan mengampuni, komitmen, waktu berkualitas dan hidup rohani bersama. Semua itu diwujudkan lewat praktik hidup yang sabar, baik hati, setia, dan bersyukur serta kemampuan menyelesaikan konflik dengan damai dan mengajarkan tanggung jawab (termasuk finansial/perpuluhan). Dalam hal ini, karakter yang harus dihidupi ialah: berakar pada iman, saling mengasihi dan menerima, rendah hati dan tetap bersyukur.
Hal lain yang juga sangat penting untuk melihat keluarga Kristen yang sehat adalah: komunikasi positif, dimana berbicara membangun, mendengarkan dengan empati dan keterbukaan dalam setiap masalah dan perjuangan yang dihadapi. Setiap anggota keluarga haruslah memiliki komitmen setia untuk membangun keluarga.
Dan yang tidak kalah penting adalah quality time untuk berinteraksi dan membangun kebersamaan. Saling mendukung walau ada banyak perbedaan atau konflik dan digerakkan dengan prinsip harus mengutamakan kebersamaan.
Hal yang harus juga dibangun dalam keluarga Kristen yang sehat yakni terkait relasi antara orang tua dan anak-anak. Selain komunikasi yang terbuka dan mendengarkan tanpa menghakimi, membangun kepercayaan dan rasa aman, saling menghormati dan menghargai. Ada percakapan yang tulus, dimana orang tua menjadi teladan dan memberikan dukungan emosional agar anak merasa dihargai, dicintai dan berkembang optimal secara mandiri.
Sebagai sekolah pertama untuk cinta dan iman, keluarga haruslah memiliki komunikasi efektif: yakni dua arah sehingga anak merasa nyaman bercerita tanpa takut dimarahi atau dihakimi dan orang tua mendengar dengan empati. Peran orang tua tidak menginterogasi atau langsung memberi solusi, tapi membiarkan anak untuk bercerita. Keluarga memberi momen untuk berbagi perasaan, bukan hanya masalah. Setiap anggota keluarga haruslah merasa aman dan merasakan orang tua sebagai tempat berlindung dari tekanan sosial dan akademik. Orang tua memberi teladan dalam sikap yang siap memaafkan dan minta maaf saat ada kesalahan, hal ini sangat membangun kepercaayaan (mutual trust).
Sekolah atau Pendidikan yang didapatkan lewat keluarga ialah: saling menghormati dan menghargai, dimana orang tua mengakui pikiran dan perasaan anaknya dan menghargai pendapatnya. Memberi ruang eksplorasi dan tidak mengawasi berlebihan, dan hal itu merupakan upaya untuk membangun harga diri anak.
Hal yang sering menjadi kendala dalam menghadirkan diri sebagai “sekolah pertama” bagi anak di tengah keluarga adalah kesibukan atau waktu yang minim bahkan tidak ada di tengah keluarga bagi masing-masing. Sering disebut quality time itu sangatlah penting, jadwal makan bersama, membeli buku dan membacanya bersama tanpa gangguan gadget. Selaku orang tua sebaiknya memberi waktu khusus untuk memahami minat anak dan kepribadian mereka. Tradisikanlah untuk makan bersama dan hidupilah ibadah bersama untuk membangun iman dan cinta anak dan orang tua dalam keluarga.
Apa yang penting lainnya adalah kesehatan mental (mental health) dan dukungan emosional. Lingkungan yang harmonis membantu anak dan orang tua menjaga kesehatan mental dan emosi, suasana yang positif juga memotivasi keluarga untuk menerapkan gaya hidup sehat.
Dengan menerapkan hal-hal ini, hubungan orang tua dan anak akan menjadi lebih kuat, harmonis dan mendukung perkembangan positif anak secara menyeluruh.
Keluarga Sebagai Sekolah Cinta (School of Love)
Keluarga sebagai “sekolah cinta” (school of love) tempat belajar kasih karena keluarga adalah komunitas cinta yang kuat, tempat dimana setiap anggota belajar memberi dan menerima cinta tanpa pamrih. Bila pengajaran cinta itu hidup dalam keluarga maka akan ada pengampunan, kesetiaan dan pengorbanan diri untuk sesama. Hubungan keluarga yang diikat oleh cinta akan menciptakan rasa aman dan kehangatan yang memperkuat emosi positif serta mental setiap anggotanya.
Keluarga sebagai sekolah iman yang tangguh tentunya sangatlah erat dengan teladan iman orang tua sebagai pendidik iman utama, memberi teladan dan membimbing anak dalam pengenalan akan Tuhan. Melibatkan anak dalam tindakan pelayanan (kasih kepada sesama) untuk menumbuhkan iman yang hidup.
Dengan menjadikan keluarga sebagai sekolah cinta dan iman, anggota keluarga tidak hanya tumbuh secara manusiawi, tapi juga berakar kuat dalam iman dan kasih yang teguh, berdampak positif bagi sesama, menjadi berkat dan mandiri serta produktif (martangkupas). Seperti yang disebutkan dalam Amsal 22: 6, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari jalan itu”. (hks/bgs)
Kucinta k’luarga Tuhan, terjalin mesra sekali. Semua saling mengasihi, betapa s’nang ‘ku menjadi k’luarga nya Tuhan.
Pdt. Erni. Julianti Purba, M.Th