Menu
Categories
Menghargai Jasa Leluhur, Makam Tokoh Simalungun dr. Djasamen Saragih Resmi Dipugar di Pamatang Raya
5 Agustus 2026 BERITA

PEMATANGSIANTAR, GKPS.OR.ID — Rangkaian acara syukuran peresmian pemugaran makam Op. Djalam Saragih, Op. Djaoedin Saragih, dan Op. dr. Djasamen Saragih tuntas digelar dengan khidmat pada Selasa (4/8/2026) pagi. Prosesi sakral yang berpusat di Aman Raya, Pamatang Raya, Kabupaten Simalungun ini sukses menyatukan keluarga besar Sumbayak, tondong marga Purba Sigumonrong, pemuka agama, serta jajaran pimpinan daerah dalam satu visi kebangkitan literasi sejarah.

Acara ini dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari Bupati Simalungun, Dr. H. Anton Achmad Saragih, S.E., M.M.; Wali Kota Pematangsiantar, Wesly Silalahi, S.H., M.Kn.; Wakil Ketua DPRD Simalungun, Jefra Hasudungan Manurung, S.H.; Pimpinan Sinode GKPS (Ephorus), Pdt. John Christian Saragih, S.Th., M.Sc.; Ketua Umum DPP Pemangku Adat dan Cendekiawan Simalungun (DPP PACS), dr. med. Sarmedi Purba, Sp.OG; hingga perwakilan Kapolres Simalungun dan Kajari Simalungun.

Kehadiran para pejabat dan tokoh ini menegaskan bahwa pemugaran makam tersebut bukan sekadar urusan keluarga, melainkan momentum penting bagi pelestarian sejarah kedokteran dan pendidikan di Tanoh Simalungun.

Visi Pendidikan Melintasi Zaman

Dalam sambutannya mewakili keluarga Sumbayak, Jan Patra Saragih Sumbayak memaparkan bukti autentik visi besar keluarga pada masa lampau. Salah satunya adalah kegigihan Op. Djaoedin Saragih Sumbayak yang berhasil menyekolahkan anaknya ke sekolah kedokteran di Surabaya—lembaga yang kini bertransformasi menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair). Langkah berani ini menjadi fondasi lahirnya putra pertama Simalungun yang berhasil meraih gelar kedokteran.

Apresiasi senada disampaikan oleh dr. med. Sarmedi Purba, Sp.OG. Ia menggarisbawahi beratnya perjuangan dr. Djasamen Saragih yang menempuh pendidikan kedokteran pribumi pada tahun 1930-an, dimana buku-buku tentang ilmu kedokteran cukup langkah. Selanjutnya setelah peralihan penjajah dari Belanda ke Jepang, Djasamen harus menguasai bahasa Jepang agar tidak tertinggal mendalami ilmu kedokteran, hingga mengabdi di rumah sakit pada era pergolakan 1943–1944.

Sarmedi menyebutkan perjuangan dr. Djasamen diapresiasi banyak pihak salah satunya dari Partuha Maujana Simalungun. Apresiasi diwujudkan dengan memperjuangkan agar dr. Djasamen Saragih diabadikan sebagai nama rumah sakit Pematangsiantar. perjuangan Partuha Maujana Simalungun (PMS) berbuah manis, nama dr. Djasamen kini diabadikan sebagai nama RSUD di Kota Pematangsiantar.

Target Wisata Sejarah

Bupati Simalungun dan Wali Kota Pematangsiantar kompak hadir memberikan penghormatan. Dalam sambutannya, Wali Kota Pematangsiantar mengajak masyarakat meneladani dedikasi dr. Djasamen untuk membangun wilayah Siantar-Simalungun yang harmonis.

Sementara itu, Bupati Simalungun mengupas tiga keteladanan utama dr. Djasamen berdasarkan falsafah Habonaran do Bona: gigih menuntut ilmu, mengabdi untuk semua kalangan masyarakat hingga ke Tanah Karo, dan setia pada tanah kelahiran.

Bupati berharap makam ini tidak hanya menjadi tempat ziarah keluarga, melainkan berkembang menjadi destinasi wisata sejarah dan pendidikan. Bupati meminta Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama Dinas Pendidikan memasukkan kisah perjuangan dr. Djasamen Saragih ke dalam muatan lokal sejarah di sekolah-sekolah.

Para Pangulu dan guru di Kecamatan Raya pun diharapkan membawa anak-anak berkunjung ke makam ini, agar mereka tahu bahwa dari Kabupaten Simalungun ini pernah lahir seorang putra yang namanya harum sepanjang masa. “Tempat ini harus hidup sebagai objek wisata pendidikan dan objek wisata perjuangan,” tegas Bupati. Ia juga menjadikan momen ini sebagai pelecut bagi pemerintah kabupaten untuk fokus membenahi pelayanan medis dan menekan angka tengkes (stunting).

Pesan Spiritual Ephorus GKPS

Acara peresmian pemugaran makam diawali dengan ibadah syukur yang dipimpin langsung oleh Pimpinan Sinode GKPS (Ephorus). Bersandarkan pada Wahyu 14:13, Ephorus memberikan bimbingan pastoral yang menyentuh hati mengenai pengorbanan air mata para leluhur.

Pdt. John Christian Saragih memaparkan bahwa Aman Raya merupakan tanah sakral yang sarat sejarah. Lokasi ini merupakan pemberian Raja Raya untuk tempat pelayanan penginjil pertama Simalungun, August Theis, dan berdekatan dengan makam Pahlawan Nasional, Tuan Rondahaim Saragih.

Ephorus juga menyinggung soal nama besar Pamatang Raya sebagai kota Pendidikan, dan untuk mengembalikan marwah Pamatang Raya sebagai kota pendidikan, Ephorus mengumumkan langkah konkret gereja.

“Guna meneruskan fondasi para pendahulu, tahun ini GKPS resmi membuka sekolah berasrama (boarding school) di Pamatang Raya,” ungkap Ephorus.

Membahas firman Tuhan mengenai berbahagialah orang yang mati dalam Tuhan, Ephorus menyebut bahwa kebahagiaan sejati mengalir kepada keluarga yang merawat ingatan akan perjuangan leluhur. Langkah memperindah makam ini dipuji sebagai tindakan yang visioner.

Prasasti Perjuangan dan Simbol Persatuan

Rangkaian acara ditutup dengan penandatanganan prasasti pemugaran makam oleh Bupati Simalungun dengan disaksikan oleh para tokoh dan keluarga. Prasasti ini resmi menjadi dokumen literasi sejarah baru bagi warga GKPS dan masyarakat Simalungun.

Melalui peresmian ini, tempat peristirahatan terakhir Op. Djalam, Op. Djaoedin, dan Op. dr. Djasamen Saragih tidak lagi dipandang sebagai makam. Sebaliknya, makam yang telah dipugar indah ini bertransformasi menjadi sumber kekuatan baru, pengingat persatuan, serta motivasi bagi generasi muda Simalungun untuk terus berkarya.

 

Pewarta: Pdt. Bima Gustav Saragih

Foto: Joe Munthe

 

Comments are closed
**