Sebanyak 123 pengurus Namaposo (pemuda) dari berbagai Jemaat dan Resort di GKPS Distrik VII seru-seruan sekaligus belajar bareng di Graha Leonie Kinasih, Depok, Jawa Barat, pada Sabtu-Minggu, 22-23 Agustus 2026. (Foto: Kevin Sinaga)
PEMATANGSIANTAR.GKPS.OR.ID – Sebanyak 123 pengurus Namaposo (pemuda) dari berbagai Jemaat dan Resort di GKPS Distrik VII seru-seruan sekaligus belajar bareng di Graha Leonie Kinasih, Depok, Jawa Barat. Lewat acara pembinaan yang digelar pada Sabtu dan Minggu, 22–23 Agustus 2026, mereka mendalami sub tema keren: “Care Leadership”.

Kegiatan ini dibuat khusus sebagai wadah buat upgrading kualitas kepemimpinan dan pelayanan para pengurus. Di sini, visi, hati, dan skill melayani mereka diasah biar makin mantap dan sesuai dengan nilai-nilai Kristiani.
Para peserta yang hadir datang dari berbagai resort, mulai dari Cempaka Putih, Cengkareng, Bogor, Cikoko, Cililitan, Karawang, Tangerang, Yogyakarta, Cibubur, Salemba, hingga Bekasi yang kali ini sukses jadi tuan rumah.
Sesi Inti: Pemimpin Itu Melayani, Bukan Cari Panggung!
Selama dua hari, rangkaian acara berjalan seru berkat kerja keras tim kerja dari Pengurus Namaposo Resort Bekasi yang dikomandoi oleh Willy Adinata Saragih bersama Leonardo Sinaga, Sutry Sunia Saragih, Rayana Olvi br. Saragih, dan Katarina Ekoliawati Sinaga. Setelah ibadah pembuka dan kata sambutan, para peserta langsung masuk ke sesi pembinaan yang dibagi jadi dua materi utama.
Sesi pertama bertajuk “Care to Lead” dibawakan oleh Pdt. Albert Henrison Purba, M.Th. Di sesi ini, Pdt. Albert mengingatkan kalau model kepemimpinan gereja itu adalah servant leadership (kepemimpinan yang melayani), mencontoh teladan Yesus (Markus 10:43-44).

Beliau menekankan kalau tugas pengurus Namaposo itu fokus melayani, bukan malah mencuri perhatian atau cari panggung. Pemimpin itu bukan bos, tapi pelayan yang pakai kata “kita” bukan “aku”, siap memperbaiki kesalahan bersama, dan menghargai orang lain.
Tidak cuma teori, acara dilanjutkan dengan sharing talents leadership. Di sini mereka belajar cara me-manajemeni “karunia rohani” untuk kepentingan bersama. Prinsipnya, seorang leader itu nggak boleh single fighter, melainkan harus bisa kerja tim (teamwork).
Mereka juga dibekali pemahaman soal aturan GKPS, pentingnya tata tertib internal (seperti rapat dan pembagian jobdesk), serta pola kepemimpinan kolektif-kolegial. Artinya, keputusan diambil lewat musyawarah bersama sebagai sesama mitra pelayanan.
Sementara itu, sesi kedua diisi oleh Pdt. Jan Kris Sinaga, S.Th. (Praeses Distrik VII) dengan topik “Care to Serve”. Pdt. Jan Kris mengingatkan kalau pelayanan yang sehat itu baru tercipta waktu kita stop bertanya “siapa yang paling penting?”, dan mulai mikir “siapa yang perlu dirangkul dan diberdayakan?” (Filipi 2:2-3).

Menurutnya, ada dua kunci utama dalam Care to Serve:
- Respect: Ramah, merangkul, mendengarkan tanpa menghakimi, dan tidak menciptakan kubu-kubuan (eksklusif).
- Empowerment: Memberi kepercayaan lewat delegasi tugas yang tepat, melibatkan anak muda yang baru atau kurang aktif, dan menyiapkan pemimpin masa depan.
Setelah materi selesai, para peserta langsung dibagi ke dalam sembilan kelompok untuk diskusi interaktif dan mempresentasikan ide-ide mereka.
Makin Akrab Lewat Games, Talent Show, dan Marsombuh Sihol
Pertemuan dua hari tersebut semakin berkesan. Panitia menyiapkan banyak acara seru buat membangun kebersamaan. Ada teka-teki silang seputar Alkitab dan tebak gambar yang dipandu oleh Yosdora br. Girsang, Regina Bella Roulina br. Sinaga, dan Rahel Karmelista. Suasana makin pecah dan meriah berkat iringan musik dari Yohanes Simanjorang, Benny Anggi Siregar, dan Angga Dwi Septian Saragih.

Malam harinya, acara dilanjutkan dengan Talent Show. Di sini tiap kelompok ditantang buat unjuk gigi menampilkan kreativitas mereka, mulai dari tarian tradisional (tortor), menyanyi, modern dance, drama kocak tentang kepengurusan, sampai main musik. Lewat acara ini, mereka belajar mempraktikkan materi siang harinya: kerja sama tim, saling menghargai ide, dan kompak bareng.
Tidak ketinggalan, malam minggu itu ditutup hangat dengan acara Marsombuh Sihol yang dipandu oleh Leonardo Sinaga. Lewat momen ini, Namaposo diajak untuk terus menjaga, melestarikan, dan bangga sama budaya Simalungun, sekaligus mempererat rasa persaudaraan dan kepedulian sesama pengurus.
Ditutup dengan Ibadah yang Menyentuh
Memasuki hari kedua, seluruh peserta mengikuti Kebaktian Minggu yang dikemas dengan Tata Ibadah Minggu Sahabat Khusus GKPS. Ibadah ini dilayani oleh St. Radiman Simanjorang sebagai paragenda, Regina Bella Roulina br. Sinaga sebagai siboan doding, tim kerja Resort Bekasi sebagai singers, tim kreatif Distrik VII di bagian multimedia, serta Wina Saragih dan Royana sebagai kolektan.
Pdt. Melisa br. Saragih (Pendeta Namaposo Distrik VII) yang membawakan khotbah menyampaikan pesan mendalam. Beliau mengingatkan kalau Tuhan memberikan karunia yang berbeda-beda bukan untuk pamer atau menonjolkan diri, tapi supaya kita bisa saling menolong. Di dalam tubuh Kristus, semua orang—mulai dari pengurus Namaposo, lansia, hingga teman-teman difabel—punya ruang yang sama untuk bertumbuh.
“Ukuran pertumbuhan iman itu bukan dilihat dari seberapa sibuknya kita di gereja, tapi apakah hidup kita makin menyerupai Kristus,” tegas Pdt. Melisa. Beliau juga mendorong Namaposo untuk lebih peka dan peduli pada sahabat-sahabat di sekitar yang butuh bantuan. Ibadah minggu ini juga makin syahdu dengan persembahan pujian dari pengurus Resort Cililitan.
Setelah ibadah selesai, Korpel Namaposo Distrik VII, Indriani Kahendou, menyampaikan informasi, mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, dan menutup seluruh rangkaian acara dengan doa.
Lewat pembinaan ini, diharapkan seluruh pengurus Namaposo se-Distrik VII bisa bawa pulang karakter Care Leadership ke daerah masing-masing: memimpin karena peduli, dan melayani karena kasih. (hks/bgs)
Pewarta: Indriani kahendou Sipayung
Foto: Kevin Sinaga