Menu
Categories
Pesan Pastoral Oktober 2026 (MEWARISKAN IMAN KEPADA ANAK DI ZAMAN DIGITAL)
5 Oktober 2026 DEPARTEMEN KESAKSIAN

MEWARISKAN IMAN KEPADA ANAK DI ZAMAN DIGITAL

  1. Pendahuluan

Sebagai orang tua dan sebagaigereja, kitasedangberhadapandengansebuahkenyataan yang tidakdapatkitahindari: anak-anakbertumbuhdalam dunia yang berbedadari dunia tempatkitadahulubertumbuh. Jika dahulu orang tuamenghabiskan masa kanak-kanakdenganbermain di halamanrumah, membacabuku, berbincangdenganteman, ataumenontontelevisi pada jam-jam tertentu, anak-anakhariinidapatmembawahampirseluruh dunia kedalamgenggamantanganmerekamelaluisebuahteleponpintar. Sejakusiadini, anaksudahmengenalYouTube, TikTok, Instagram, game online, mesinpencari, kecerdasanbuatan, dan berbagaibentuk media sosial. Dunia digital tidaklagisekadaralat yang digunakansesekali, melainkantelahmenjadibagiandarilingkungantempatanakbelajar, bermain, berkomunikasi, membangunpertemanan, mencariinformasi, bahkanmembentukgambarantentangdirinyasendiri.

Data menunjukkanbahwa pada 2024 pengguna internet di Indonesia telahmencapaisekitar 221,56 juta orang atau 79,5% dari total populasi. Pada saat yang sama, UNICEF menyorotibahwateknologimemiliki dua sisimatapisau: teknologidapatmembukakesempatanbelajar, kreativitas, komunikasi, dan pengembanganketerampilan, namun juga membawarisikoberupapaparankontenberbahaya, pelanggaranprivasi, eksploitasi, dan kekerasanseksualberbasisonline. Karena itu, pertanyaan orang tuatidaklagicukupberhenti pada, “Berapa lama anakbolehbermain HP?” atau “Bagaimanasupayaanaktidakkecanduan gadget?” Pertanyaan yang jauhlebihmendasaradalah: bagaimanakitamempersiapkananakuntukhidup di dunia digital tanpakehilanganiman, karakter, nilai, kemanusiaan, dan relasidengankeluarganya?

Kita tidakmungkinmenghilangkanteknologidarikehidupananak. Bahkan, teknologidapatmenjadisarana yang sangat baikuntukbelajarbahasa, membacaAlkitab, mengikutipendidikan, mengenalbudayalain, dan mengembangkanberbagaiketerampilan. Persoalannyabukansemata-matateknologiitusendiri, melainkanbagaimanaanakmenggunakanteknologi dan nilaiapa yang membimbingpenggunaannya. Di sinilahtugaskeluargamenjadi sangat penting: gerejadapatmengajarkaniman, sekolahdapatmemberikanpengetahuan, namunkeluargaadalahruangpertamatempatanakmengalamikasih, belajartentangbenar dan salah, membangunidentitas, dan mengenalsepertiapaiman yang diwujudkandalamkehidupansehari-hari.

Dengan demikian, mewariskaniman di zaman digital bukanberartimenjauhkananakdariteknologi, melainkanmemberikankepadaanakakariman yang cukupkuatsehinggaiamampumenggunakanteknologitanpakehilanganarah. Tulisan iniakanmenelusuribagaimanaanakbertumbuh di tengahpeluang dan risiko dunia digital, bagaimanakeluargaberperansebagaiekosistempertumbuhaniman, bagaimanaketeladanan orang tuamenjadijalanutamapewarisaniman, bagaimana digital parenting dapatdihidupisecarapraktisdalamkeluarga, hinggabagaimanagerejahadirmendampingikeluargadalamseluruhperjalananini.

 

 

 

  1. Isi

2.1 Anak di Zaman Digital: Peluang dan Tantangan

Anak zaman digital sesungguhnyamemilikikesempatan yang luarbiasa. Dengan sebuahteleponpintarsaja, seoranganakdapatbelajarbahasaasing, membacaAlkitab, mengaksesberbagaimateripendidikan, mengikutikelasonline, mengenalbudayabangsalain, bahkanmempelajariberbagaiketerampilan yang dahulusulitdiperoleh. Oleh sebabitu, sayainginmengajaksetiap orang tuauntuktidakselalumemandangteknologisebagaimusuhbagianak. UNICEF sendirimenegaskanbahwadigitalisasidapatmemberdayakananakmelaluipembelajaran, kreativitas, konektivitas, dan pengembanganketerampilanuntuk masa depanmereka. Dengan kata lain, persoalannyabukanterletak pada teknologiitusendiri, melainkan pada bagaimanateknologidigunakan dan bagaimanaanakdilindungiketikamenggunakannya.

Namun, di sisi lain, kita juga tidakbolehmenutupmatabahwaanakmenghadapirisiko yang semakinkompleks. Kekerasanterhadapanakkinitidaklagihanyaterjadi di ruangfisik, tetapi juga dapatberlangsungmelaluipesanpribadi, media sosial, game online, manipulasigambar, perundungansiber, hinggaeksploitasiseksualonline. Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak melaluisistem SIMFONI PPA menunjukkanbahwa pada tahun 2024 tercatatsekitar 19.628 kasuskekerasanterhadapanakdengan 21.648 korban, sebuahangkatertinggidalamrentang data 2020–2024 yang pernahdilaporkan. Melihatkenyataanini, kitaperlumenyadaribahwaanakmembutuhkanlebihdarisekadarlarangan. Mereka membutuhkan orang dewasa yang hadir, mendengar, mendampingi, dan membangunkepercayaan.

Selain ancamankekerasan, terdapat pula persoalan yang tidakkalahserius, yaitukesehatan mental anak dan remaja. WHO memperkirakanbahwasekitarsatudaritujuhremajaberusia 10–19 tahun di dunia mengalamigangguankesehatan mental, dengankecemasan, depresi, dan gangguanperilakusebagaimasalah yang menonjol pada masa remaja. Meskidemikian, WHO juga menegaskanbahwalingkungankeluarga yang mendukungmerupakan salah satufaktorpelindungpentingbagikesehatan mental remaja. Dengan demikian, anak zaman sekarangtidakhanyamembutuhkan orang tua yang mampumembelikanperangkatteknologi, tetapi juga orang tua yang mampumenjaditempatpulangsecaraemosional dan spiritual.

Dalamkontekstersebut, adabeberapatantangan yang perlumenjadiperhatian orang tuaketikamendampingianak di era digital.

  1. PaparanInformasi dan Konten yang tidaksesuaiUsia

Anak-anakhidup di tengaharusinformasi yang sangat cepat dan luas. Mereka dapatdenganmudahmenemukanberbagaikonten, sementarakemampuanuntukmenyaring dan memahamiinformasitersebutbelumselaluberkembangdenganbaik. Misalnya, ketikaanakmembuka YouTube untukmencari video pembelajaran, merekadapatdenganmudahberpindahkekontenkekerasan, bahasakasar, ataukonten yang belumsesuaidenganusianya.

  1. Ketergantungan pada Gadget dan BerkurangnyaInteraksiNyata

Gadgetdapatmembuatanakmenghabiskanbanyakwaktu di depanlayarsehinggawaktuuntukbelajar, bermain, beristirahat, dan berinteraksidengankeluargamenjadiberkurang. Misalnya, ketika orang tuamengajakanakberbicarasaatmakan, anaktetapsibukbermaingameataumenonton video. Perlahan, anakdapatmenjadilebihnyamanberkomunikasimelaluilayardaripadamembangunrelasisecaralangsung.

 

 

  1. Tekanan Sosial, Cyberbullying, dan Perbandingan Diri

Media sosialdapatmenjadiruangbagianakuntukmengalamitekanandaritemansebaya. Anak dapatdiejekmelaluigruppercakapan, dipermalukanmelaluikomentar, ataudikucilkandarikelompokpertemanan. Mereka juga dapatmembandingkandirinyadengankehidupan orang lain yang terlihatsempurna di media sosial, sehinggamerasakurangcantik, kurangpintar, kurangpopuler, ataukurangberharga.

  1. Risiko Keamanan dan Pembentukan Nilai Diri

Anak belumselalumemahamibahayamembagikaninformasipribadiatauberkomunikasidengan orang yang tidakdikenal di internet. Pada saat yang sama, apa yang terus-menerusmerekalihat di dunia digital dapatmemengaruhicaramerekamemandangdiri, tubuh, keberhasilan, hubungan, dan nilai-nilaikehidupan. Misalnya, anakmulaimerasadirinyaberhargahanyaketikamendapatkanbanyaklikes, komentar, ataupengakuandari orang lain.

 

2.2 KeluargasebagaiEkosistemPertumbuhan Iman

ntukmemahamimengapakeluargabegitupenting, kitadapatmenimbadaripemikiran Urie Bronfenbrenner, seorangpsikologperkembangankelahiran Rusia-Amerika yang dikenalmelaluiEcological Systems Theory, atauteorisistemekologisperkembanganmanusia. Bronfenbrenner melihatbahwaperkembanganseoranganaktidakpernahterjadidalamruangkosong. Anak berkembangmelaluihubungan yang terus-menerusdenganberbagailingkungan di sekitarnya: keluarga, sekolah, temansebaya, komunitas, budaya, kondisisosial, bahkanperubahan zaman turutmemengaruhiperkembangannya. Teori inikemudianberkembangmenjadibioecological model, yang menekankanhubungan timbal balikantaraindividu dan berbagailingkungankehidupannya. Sederhananya, seoranganaktidakhanya “dibentuk oleh orang tua”, melainkandibentuk oleh seluruhekosistem di sekitarnya. Jika dahuluanakmenerimapengaruhterutamadari orang-orang yang secarafisikberada di sekitarnya, sekarangpengaruhitudapatdatangdariberbagaiarahmelaluilayar. Seoranganakdapatbangunpagi dan langsungmenerimapesandariteman, melihat video seorang influencer, membacakomentar orang lain, menemukanberita yang belumtentubenar, masukkekomunitasgim, bahkanberinteraksidengan orang yang tidakpernahditemuinyasecaralangsung.

Dengan demikian, keluargatidakmungkinlagimengontrolseluruhlingkungananak. Namunkeluargamasihdapatmelakukansesuatu yang jauhlebihpenting, yaitumembangunfondasinilai di dalamdirianakitusendiri. Orang tuadapatmembiasakananakuntukbertanyakepadadirinyasendirisebelumbertindak: “Apakahinibenar?”, “Apakahinibaik?”, “Apakahiniaman?”, “Apakahinimenghormati orang lain?” “ApakahtindakaninisesuaidengankasihKristus?” “Kalau Yesusada di sampingsayasekarang, apakahsayatetapakanmelakukanini?” Itulahpendidikaniman yang relevandengan zaman digital. Tujuan pendidikan Kristen bukanmenghasilkananak yang tidakpernahbertanya, melainkanmenghasilkananak yang mampuberpikir, mampumembedakan, mampumengambilkeputusan, dan tetapmemilikiarahimanketikaberhadapandenganberbagaisuara yang datangdariluardirinya.

 

2.3 Pewarisan Iman dalamKeluarga: KeteladananOrangtua

  1. Anak Belajardari Apa yang Dilihat

Salah satuteori yang sangat pentinguntukmemahamipendidikananakadalahSocial Learning Theorydari Albert Bandura, psikolog Kanada-Amerika yang banyakmemberikankontribusidalambidangpsikologisosial dan pembelajaran. Bandura menunjukkanbahwamanusiatidakbelajarhanyamelaluipengalamanlangsung, tetapi juga denganmengamati orang lain, memperhatikanperilakumereka, mengingatnya, dan kemudianmenirunya. PemikirannyaberkembangdariSocial Learning TheorymenjadiSocial Cognitive Theory, denganperhatianbesar pada proses modeling, yaitubelajarmelaluipengamatanterhadap model. Bandura sendirimenjelaskanbahwateknologikomunikasimemperluasjangkauan symbolic modeling: manusiadapatbelajardari model yang hadirmelalui media, bukanhanyadari orang yang beradasecarafisik di dekatnya — dan justru di titikinilahteorinyamenjadi sangat relevandengan zaman digital.

Dahulu, model utamaseoranganakmungkinadalah ayah, ibu, guru, pendeta, dan temanbermain. Sekarang model itu juga dapatberupa influencer, YouTuber, selebritas, tokohgim, ataukreatorkonten mana pun yang tampil di layar. Bandura menjelaskan proses belajarmelaluipengamataninidenganempattahap: attention, retention, reproduction, dan motivation. Artinya, anakpertama-tamamemperhatikansesuatu, kemudianmengingatnya, lalumencobamelakukannya; dan apakahiaakhirnyabenar-benarmelakukanperilakutersebutturutdipengaruhi oleh motivasi dan konsekuensi yang iasaksikansendiri. Di sinilah orang tuaperluberhentisejenak dan bertanyakepadadirisendiri: “Apa yang sedanganaksayapelajaridarisaya?” bukanhanyadarinasihat yang kitaucapkan, melainkandarikehidupan yang kitajalani di depanmatanya. Kita mungkinberkata, “Jangan main HP terus!”, tetapianakmelihat ayah yang terusmemegang HP. “Janganberkatakasar!”, tetapianakmendengar orang tuaberbicarakasarkepada orang lain. Kita berkata, “Harus rajinberdoa”, tetapianaktidakpernahmelihat orang tuaberdoaketikamenghadapimasalah. Sebaliknya, ketikaanakmelihat orang tuaberkata, “Mari kitaberdoa,” saatkeluargasedangmengalamikesulitan, iabelajarbahwadoabukansekadar ritual gereja. Ketika anakmelihat orang tuamemintamaaf, iabelajarkerendahanhati. Dan ketikaanakmelihat orang tuameletakkan HP dan mendengarkansungguh-sungguhsaatiaberbicara, iabelajarbahwamanusiajauhlebihberhargadaripadalayar. Keteladanan orang tuaadalahkurikulumpertamaanak. Bahkandalamkonteks digital, anakbukanhanyamemperhatikanbagaimana orang tuamemperlakukansesamamanusia, tetapi juga bagaimana orang tuamemperlakukanteknologiitusendiriapakahteknologimenjadi tuan yang mengendalikanwaktu dan perhatiankeluarga, ataumenjadialat yang tunduk pada nilai dan kasih yang lebihbesar.

  1. Peran Orang Tua: Mengajarkan dan Menghidupi Iman

Mewariskanimansering kali dipahamisebatasmengajarkananakberdoa, membacaAlkitab, pergikegereja, dan menghafalkanayat. Semuaitupenting, namunimantidakakanbenar-benardiwariskanhanyamelaluiinformasi. Anak perlumelihatbahwaimanmemilikihubungan yang hidupdengankenyataansehari-hari. Di sinilahUlangan 6:6–7 menjadi sangat relevan. Pendidikan imandigambarkansebagaisesuatu yang berlangsungdalamritmekehidupansehari-hari: ketika duduk di rumah, ketikaberjalan, ketikaberbaring, dan ketikabangun. Dengan demikian, pendidikanimanbukansekadar acara satu jam pada hariMinggu, melainkancarakeluargamenjalaniseluruhkehidupannya.

Penelitiantentangtransmisiimandalamkeluargamenekankanpentingnyapercakapankeluargamengenai Allah, Kitab Suci, doa, dan kehidupan spiritual sebagaibagiandari proses pewarisaniman. Maka, sebuahpercakapansederhana di mejamakansesungguhnyadapatmenjadipendidikaniman yang sangat berharga. Misalnya, ketikaanakberkata, “Ma, taditemansayamenghinatemannya di grup,” orang tuadapatmenjawab, “Menurutmu, bagaimanaperasaan orang yang dihina?”, lalumelanjutkan, “Kalau kitasebagai orang Kristen, bagaimanaseharusnyakitamemperlakukandia?” Percakapansesederhanaituadalahpendidikaniman. Dengan caraini, imanmenjadibahasauntukmembacakehidupan, bukansekadarrangkaiandoktrin yang dihafalkan.

  1. Iman yang Bertumbuh

Pemikiran James W. Fowler juga pentinguntukdipahamiketikakitaberbicaratentangpewarisaniman. Fowler adalahteolog dan akademisi yang dikenalmelaluiteoriStages of Faith Development, tahap-tahapperkembanganiman, yang dituangkandalambukunyaStages of Faith: The Psychology of Human Development and the Quest for Meaning, terbit pada 1981. Fowler memahamiimansebagaisesuatu yang berkembangdalamcaramanusiamemberimaknaterhadapkehidupan, dan perkembanganitutidakberhenti pada masa kanak-kanak, melainkanberlangsungsepanjanghidup, sejalandenganperkembangankognitif, moral, dan psikososialseperti yang juga digambarkan oleh Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg.

Secarasederhana, Fowler menunjukkanbahwacaraseoranganakmemahamiTuhantidaksamadengancaraseorangremajamemahaminya, dan caraseorangdewasamemahamiiman juga terusberkembanglebihjauhmulaidaritahapprimal faith, intuitive-projective faith, mythic-literal faith, synthetic-conventional faith, hinggaindividuative-reflective faith dan tahap-tahapberikutnya. Anak kecilmungkinmemahamiceritaAlkitabsecarakonkret dan penuhimajinasi, membayangkanTuhandengancara yang sangat sederhana. Namunketikaanakbertumbuh, pertanyaan-pertanyaanbarumulaimuncul: “BenarkahTuhanada?”, “Kalau Tuhanbaik, mengapaadapenderitaan?”, “Apakahsemuadoadijawab?”, “Mengapasayaharuspergikegereja?”, “Apakahimansayaharussamapersisdenganiman orang tua?” Pertanyaan-pertanyaansepertiinitidakselaluberartianaksedangmeninggalkanimanbisajadiiajustrusedangbertumbuh di dalamnya. Karena itu, ketikaanakbertanya, orang tuatidakperlulangsungpanik dan menjawab, nanti juga kamu tau, gak usahbanyak kali pertanyaanmu, anakkecil tau apa? Respon yang lebihpositifadalahmenerimapertanyaantersebut, Pertanyaanmubagus, Mari kitacarijawabannyabersama. Dengan demikian, rumahmenjaditempat yang amanuntukbertumbuhdalammewariskaniman, dan anakmerasakanbahwaorangtuanyamendukung dan mendampinginyadalam proses pertumbuhaniman, pencarianmakna, dan pertumbuhankarakter.

 

2.4 Digital Parenting dalamKeluarga: Mengawasi dan Mendampingi

Digital parenting kerapdipahamibahwa orang tuaharusmenjadipolisi yang setiapharimemeriksaisi HP anak. Digital parenting berarti orang tuamemahami dunia digital anak, membangun batas yang sehat, mengajarkanliterasi digital, dan yang paling penting, membangunhubungan yang cukupkuatsehinggaanakberanidatangkepada orang tuaketikamenghadapimasalah. Beberapaprinsippentingperludipegangbersamakehadiranlebihpentingdaripadasekadarpengawasan, keluargamembutuhkanaturan digital yang sehat dan konsisten, orang tuaperlumengajarkanliterasi digital dan literasiimansecarabersamaan, dan teknologisesungguhnyadapatdigunakansebagaisaranapertumbuhaniman, bukanhanyasumberkekhawatiran. Sebagaikerangkapraktis yang mudahdiingat dan dijalankan, kitadapatmemakaipolasederhana:

  1. a. Connect (MembangunHubungan)

Sebelummembuataturankepadaanak, orang tuadiharapkanmembangunhubunganterlebihdahulu. Anak yang merasadekatdengan orang tuaakanjauhlebihmungkindatangberceritaketikamengalamisesuatu yang buruk di dunia maya. Salah satucontohkalimatsederhana dan positif yang perludisampaikanorangtuakepadaanakadalahkalaukamumelihatsesuatu yang membuatmutakutatautidaknyaman di internet, kamubolehceritakepada mama dan papa. Kalimatsederhanasepertiinidapatmenjadipintukeselamatanbagianak pada saat-saat yang paling iabutuhkan.

  1. Guide (Membimbing)

Orang tuaperlumengajarkananakcaramenggunakanteknologi, bukansekadarmelarangnya. Bukanhanya, “Janganbukaitu!”, melainkan, “Mengapakamutidakbolehmembukanya?”, “Bagaimanakamutahuinformasiitubenar?”, dan “Apa yang haruskamulakukankalauada orang asingmengirimpesankepadamu?” Pertanyaan-pertanyaansepertiinimelatihanakuntukberpikir, bukanhanyapatuh.

  1. Model (Menjadi Teladan)

Anak belajarbukanhanyadariapa yang dikatakan orang tua, tetapiterutamadariapa yang merekalihatsetiaphari. Karena itu, orang tuaperlumenjaditeladandalammenggunakanteknologisecarabijaksana. Ketika anaksedangberbicara, letakkan HP dan berikanperhatianpenuhkepadanya, karenamelaluitindakansederhanaituanakbelajarbahwadirinyalebihberhargadaripadalayar. Keteladananinilah yang membuatnasihat orang tuamemilikikekuatan, sebabanaktidakhanyamendengarapa yang dikatakan, tetapimengalamilangsungnilai yang diajarkan.

  1. Pray (Mendoakan)

Dunia digital juga perlumenjadibagiandarikehidupandoakeluarga. Orang tuatidakhanyamendoakankesehatan dan keberhasilananak, tetapi juga pergaulan, apa yang merekalihat dan dengar di dunia digital, orang-orang yang merekaikuti, sertakeberanianuntukmenolakhal-hal yang tidakbaik. Doakan agar anakmemilikihikmat, mampumembedakan yang benar dan salah, sertatetapmemilikiiman dan karakter yang kuatketikaberhadapandenganberbagaipengaruh di dunia digital. Dengan demikian, teknologitidakmenjadiruang yang terpisahdarikehidupaniman, tetapimenjadibagiandarikehidupan yang setiapharidibawakehadapanTuhan.

Ada juga solusisederhana yang dapatdigunakan:

  1. EmpatPertanyaansebelum Anak Mengklik

Orang tuatidakmungkinmendampingianaksepanjangwaktu. Karena itu, kitaperlumembekalianakdengansatu “alatberpikir” yang dapatiabawake mana pun iapergi, bahkanketikasedangsendirianmemeganggawainya.

  1. Benarkah? — Apakahinformasiinibenar? Janganlangsungpercaya dan menyebarkannya.
  2. Baikkah? — Apakahkontenatautindakaninimembangun, ataujustrumenyakiti orang lain?
  3. Amankah? — Apakahsayasedangmembagikaninformasipribadi? Apakah orang inibenar-benarsayakenal?
  4. Perlukah? — Apakahsayabenar-benarperlumelakukanataumelihatini?

Empatpertanyaansederhanainidapatmenjadibagiandaripendidikanimansehari-hari. Anak belajarbahwamenjadi orang Kristen bukanhanyatentangapa yang ialakukan di gereja, tetapi juga bagaimanaiamenggunakanjempolnyaketikaberada di depanlayar.

  1. Menit-menitdalam Ruang Iman Keluarga yang Mengubahkan

Banyak orang tuamerasabersalahkarenatidakmemilikiwaktuuntukmelakukan ibadah keluarga yang panjang. Padahal, kitatidakselalumembutuhkanwaktu yang panjanguntukmenanamkaniman. Cobalahkebiasaansederhana “10 Menit Iman” setiaphari, yang dapatdijalankanbahkan oleh keluargadenganjadwal paling padatsekalipun:

  1. 1 menit: diamsejenak dan bersyukur.
  2. 3 menit: membacasatubagianpendekAlkitab.
  3. 3 menit: berbicaratentangkehidupanhariitu.
  4. 2 menit: setiapanggotakeluargamenyebutkansatuhal yang ingindidoakan.
  5. 1 menit: berdoa bersama.

Sepuluhmenitmungkinterlihatkecil, tetapiimandapatdibangunmelaluisatupengalamanbersamakeluarga. Iman dibangunmelaluikebiasaankecil yang dilakukanberulang-ulang. Seperti air yang terusmengalir dan perlahanmembentuk batu, percakapaniman yang sederhananamunkonsistenakanperlahanmembentukcaraanakmelihat dan menjalanikehidupannya.

 

2.5 Peran Gereja: MendampingiKeluarga di Era Digital

Jika keluargaadalahtempatpertamapewarisaniman, makagerejamemilikitugasuntukmemperkuatkeluarga, bukanmenggantikannya. Gerejaperlumemperlengkapi orang tua, denganmenyediakan seminar parenting, pendidikanperlindungananak, literasi digital, pendampinganremaja, ruangpercakapankeluarga, pendidikanseksualitas yang sehat, pencegahankekerasan, sertapendampingan pastoral bagikeluarga yang sedangbergumul. Gereja juga perlumenciptakanruang yang amanbagianak dan remajauntukbertanya, bercerita, dan mencaripertolongantanpa rasa takutdihakimi. Dengan kata lain, orang tuabukansekadarpesertakegiatangereja, melainkanmitrautamagerejadalampelayanankepadaanak. Gerejamengajarkankasih, tetapikeluargalah yang menunjukkanbagaimanakasihitudipraktikkansehari-hari. Gerejamengajarkandoa, tetapikeluargalah yang menunjukkanbagaimanadoamenjadikekuatanketikamenghadapimasalah. Gerejamengajarkanpengampunan, tetapikeluargalahtempatpertamaanakbenar-benarmengalamipengampunanitusendiri. Karena itu, pelayanananak dan pelayanankeluarga di gerejatidakbolehberjalansendiri-sendiri, melainkanharusberjalanbergandengantangan, salingmenguatkan, demi satutujuan yang sama: agar imansungguh-sungguhdiwariskan, bukansekadardiajarkan.

 

Penutup

Orang tuatidakdapatmenghentikanperkembanganteknologi, dan orang tua juga tidakdapatselaluberada di sampinganakketikamerekaberada di dunia digital. Oarngtuamungkintidakmampumengawasiseluruh dunia yang dilihatanak, tetapikitadapatmenanamkansesuatu yang akantetapbersamanyaketikakitatidaklagiberada di sana: iman yang menjadiakar, nilai yang menjadikompas, karakter yang menjadikekuatan, dan kasihkeluarga yang menjaditempatiaselaludapatkembali.

Pada akhirnya, dalamkemajuan dan perkembanganteknologi, orang tualah yang  memilikiperanutama. Karena anakmembutuhkan orang tua yang hadir; orang tua yang maumendengar; dan yang terutama, orang tua yang terusmeyakinkananaknya: “Apa pun yang terjadi, kamutetapberharga. Nilaimutidakditentukan oleh likes, followers, prestasi, penampilan, ataukomentar orang lain. Kamu berhargakarenakamuadalahciptaan Allah dan kamudikasihi-Nya.”Teknologidapatmenghubungkananakdengan dunia, tetapikeluargalah yang memberinya rasa memiliki. Teknologidapatmemberikaninformasi, tetapiimanmemberikanarah. Dan ketikasuatuharinantianakberjalanlebihjauhdarijangkauan orang tuanya, kiranyaiatetapmembawasesuatu yang tidakdapatdiberikan oleh teknologiapa pun: iman yang berakar, karakter yang kuat, hati yang penuhkasih, dan keyakinanbahwaiaadalahpribadi yang dikasihi Allah. Itulahmaknaterdalamdarimewariskanimankepadaanak di zaman digital. Selamat mewariskan Iman. Tuhan besertakita.

 

 

Comments are closed
**