RENUNGAN REMAJA GKPS
Tanggal : 18 Set Trinitatis: Minggu, 04 Oktober 2026
Nats : Amsal 3: 27-31
Tema : Berbuat Baik
Dunia modern sekarang yang serba cepat dengan perkembangan teknologi yang pesat sering membuat manusia terjebak dengan budaya “setiap orang untuk dirinya”. Di tengah tekanan hidup yang terjadi, dampak paparan kemajuan teknologi dan media sosial membuat pergejolakan di dalam hati, memicu rasa iri, dengki, galau-dilema dan lain sebagainya. Hal ini berdampak pada nilai-nilai kepedulian sudah terpinggirkan dan menjadi sesuatu yang asing. Hidup masa sekarang ini hanya memperhatikan orang lain melalui layar ponsel dan merasa enggan untuk bertindak secara nyata. Berdasarkan situasi tersebut, Firman Tuhan dalam Amsal ini hadir sebagai teguran dan panduan bagaimana seharusnya seorang Kristen/Pengikut Kristus harus bersikap dan bertindak di tengah-tengah gempuran media sosial dan perkembangan teknologi ini, sehingga tidak menjadi terlena dan menyimpang karenanya.
Pasal dalam Amsal ini merupakan salah satu pasal yang paling menarik, karena di dalamnya terdapat alasan-alasan dan pengarahan yang mendorong kita supaya kita hidup sesuai dengan kehendak Allah. Dalam Amsal ini diberitahukan kepada kita tentang hidup bukan hanya tentang apa yang kita capai, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain di sekitar kita. Di sini kita mendapati berbagai ketetapan hikmat yang sangat bagus, yang berkaitan dengan sesama kita:
Di zaman yang serba cepat, ternyata melakukan kebaikan juga harus dilakukan secara cepat. Secara khusus, memberikan kepada semua orang apa yang layak mereka terima, baik karena alasan keadilan maupun untuk kebenaran, dan tidak menunda-nunda untuk melakukannya. “Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya”. Hal yang diperhatikan berkaitan dengan menunda-nunda melakukan perbuatan baik adalah Pertama: melakukan kebaikan adalah kesempatan yang Tuhan berikan bagi kita, sehingga menunda kebaikan berarti menolak kesempatan yang Tuhan berikan; Kedua: Kebaikan adalah keharusan dan bukan sebuah opsional/pilihan sehingga menunda berbuat baik berarti kita tidak menjadikan Tuhan sebagai prioritas hidup ; ketiga: Kebaikan yang dilakukan membawa berkat kepada kita, jadi menunda melakukan kebaikan sama artinya dengan menolak jalannya berkat bagi kita.
Merancangkan dan melakukan kejahatan kepada orang lain merupakan perbuatan yang paling hina dan keji. Hal ini menegaskan bahwa merencanakan kejahatan terhadap orang yang percaya kepada kita adalah dosa besar, karena kita telah merusak rasa aman yang seharusnya dijaga. Hal ini juga sering dikaitan dengan “Musuh di balik selimut”, yang merupakan contoh nyata dari perilaku yang dilarang: berpura-pura baik, tetapi menyimpan maksud merugikan. Mengkhianati orang yang percaya pada kita sama dengan menghancurkan kepercayaan yang sulit dipulihkan. Jika kita dianggap baik oleh sesama kita dan mereka menyangka bahwa kita tidak akan mencelakai mereka, lalu kemudian kita mengambil kesempatan untuk menipu dan melukai mereka, maka itu adalah tindakan yang teramat hina dan tidak tahu berterima kasih. Tentu hal itu hanya akan membawa kehancuran kepada kita.
Janganlah bertengkar secara semena-mena/tidak sebanding dengan seseorang. Janganlah berusaha mendapatkan sesuatu yang bukan menjadi hakmu. Janganlah membuat masalah/perkara yang kecil menjadi hal yang besar yang dapat memicu pertengkaran. Jangan merepotkan sesamamu dengan keluhan dan tuduhan macam-macam. Jangan menuntut mereka secara hukum, padahal tidak ada kejahatan yang dilakukan terhadapmu atau tidak ada sesuatu yang layak diperdebatkan, atau masih ada cara untuk menyelesaikannya secara damai. Karena sama seperti Kristus datang ke dunia untuk memberikan kedamaian, maka hendaklah juga kita mencintai kedamaian dan menjauhi pertengkaran. Sebab hidup damai dengan semua orang bukan saja merupakan tugas kita, melainkan juga kepentingan kita sendiri.
Kita tidak boleh iri hati dengan kejayaan, kehebatan bahkan kesuksesan dari para pelaku kejahatan (ay. 31). Peringatan ini sama dengan peringatan yang telah sering kali ditekankan Mzm. 37:1-2 “Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; 2 sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau”. Janganlah iri hati kepada orang yang melakukan kelaliman. Meskipun dia kaya dan makmur, meskipun dia hidup bergelimang kemudahan dan kenikmatan dan membuat semua orang di sekelilingnya terkagum-kagum dibuatnya, janganlah mengira bahwa dia bahagia, dan janganlah memiliki keinginan seperti itu, keadaan yang nikmat karena kejahatan. Janganlah memilih satu pun dari jalannya. Jangan meniru dia ataupun mengikuti caranya dalam memperkaya dirinya. Jangan pernah berpikir untuk melakukan apa yang dia lakukan, sekalipun engkau yakin akan dapat memperoleh apa yang dia punyai, sebab semuanya harus dibayar dengan harga yang amat mahal. Karena keberhasilan seorang penjahat/ orang yang melakukan kelaliman hanya memberikan kesenangan yang semu dan sementara. Terlihat hebat namun membawa pada kebinasaan.
Melalui Amsal ini kita belajar bagaimana sesungguhnya seorang yang berhikmat dalam kehidupan sehari-hari, secara khusus kehidupan sebagai remaja Kristen. Tentu kehidupan seorang remaja Kristen haruslah berbeda dengan kehidupan remaja pada umumnya. Kita harus menunjukan identitas kita, hidup sebagaimana yang Tuhan kehendaki. Dan melalui Firman Tuhan ini, kita diberitahukan tentang apa yang harus kita perlihatkan sebagai orang Kristen. Hidup benar memang tidak selalu mudah dan tidak selalu terlihat “hebat” di mata dunia. Tetapi hidup benar adalah jalan yang Tuhan berkati. Lakukan kebaikan tanpa menunda, jaga hati dari niat jahat, hidup dalam damai, dan tetap setia pada kebenaran. Karena pada akhirnya, yang benar di hadapan Tuhan jauh lebih berharga daripada sekadar terlihat berhasil di mata manusia. Amen