Peserta LWF Asia Youth Gathering mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan budaya dan tradisi dari daerah asal mereka. (Foto: Chrisna)
PEMATANGSIANTAR. GKPS.OR.ID – Sebagai salah satu anggota Lutheran World Federation (LWF), GKPS aktif mengikuti berbagai perkembangan serta kegiatan yang diselenggarakan oleh LWF. Salah satunya adalah kegiatan LWF Asia Youth Gathering yang digelar pada Minggu hingga Kamis, 6–10 September 2026, di Pusat Pembinaan Umat Keuskupan Agung Medan, Pematangsiantar.
Untuk menghadiri acara tersebut, Pimpinan Sinode mengutus Chrisna Angelia Zepanya Girsang, S.H., yang juga menjabat sebagai Koordinator Pelayanan Seksi Namaposo GKPS Distrik VI, sebagai perwakilan resmi dari Namaposo GKPS.
Mengusung Tema “Courageous Communion”
Kegiatan berskala internasional ini dihadiri oleh 35 peserta dari 12 negara di seluruh Asia. Tahun ini, perhelatan tersebut mengusung tema “Courageous Communion” yang bertujuan membekali setiap pemuda gereja anggota LWF di Asia agar mampu membangun persekutuan yang berani di mana pun mereka berada, secara khusus di lingkungan gereja.
Rangkaian acara dibagi menjadi beberapa sesi dengan berbagai metode kegiatan yang menarik, baik dalam kelompok besar (lebih dari 6 orang) maupun kelompok kecil (4–5 orang). Terdapat tiga subtopik yang digunakan untuk mendalami tema utama, yaitu Rooted in Courage (Berakar dalam Keberanian), Reconciled with Courage (Berdamai dengan Keberanian), dan Rising in Courage (Bangkit dalam Keberanian).
Melalui subtopik Rooted in Courage, para pemuda dengan latar belakang yang berbeda diajak kembali menghayati kehidupan yang berakar kuat dalam keberanian di dalam Tuhan. Mereka juga mengulas identitas pemuda yang beriman di tengah-tengah komunitas gereja, terlebih sebagai anggota LWF di Asia.
Tidak berhenti di situ, para peserta kemudian diarahkan untuk melihat dan menyadari kondisi gereja-gereja terkini melalui subtopik Reconciled with Courage. Salah satu topik hangat yang menjadi pembahasan utama adalah Intergenerational Justice atau Keadilan Antargenerasi.
Berdasarkan hasil diskusi, mayoritas peserta sepakat bahwa berbagai fenomena yang terjadi pada pemuda di gereja berkaitan erat dengan isu keadilan antargenerasi tersebut. Oleh karena itu, pemuda harus hadir dan berani berdamai dengan setiap tantangan di gereja sebagai tonggak penerus.
Terakhir, melalui subtopik Rising in Courage, pemuda diharapkan dapat bangkit dan berani bergerak menjadi agen perubahan di gereja. Berbagai ide, pandangan, dan harapan lahir dari kegiatan ini dengan ekspektasi bahwa setiap pemuda berani memulai langkah nyata sejak saat ini.

Belajar Bahasa Isyarat dan Mengenal Disabilitas
Di sela-sela kepadatan sesi diskusi, panitia—khususnya staf Komite Nasional LWF Indonesia—menghadirkan sesi inklusif bersama teman-teman disabilitas binaan Yayasan Idop Ni Uhur GKPS. Teman-teman disabilitas tersebut menyuguhkan kopi hasil racikan mereka sendiri kepada para peserta. Kesempatan ini disambut antusias oleh para peserta yang juga bersemangat mempelajari bahasa isyarat (sign language) langsung dari mereka.
Memukau Asia dengan Budaya Simalungun
Sebagai puncak acara, kegiatan ditutup dengan Cultural Night (Malam Budaya). Pada momen ini, masing-masing peserta mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan budaya dan tradisi dari daerah asal mereka.

Chrisna Angelia tampil anggun mengenakan perangkat busana adat Simalungun yang terdiri atas bulang, suri-suri, dan hiou. Bersama dengan beberapa pemuda Batak Toba, ia menampilkan tor-tor Tolu Sahundulan yang kemudian dilanjutkan dengan tor-tor marhusip. Penampilan tersebut berhasil memukau penonton. Setiap peserta dari berbagai negara tampak antusias dan tertarik untuk mengenal lebih dalam tentang kebudayaan Batak, khususnya kebudayaan Simalungun. (hks/bgs)
Pewarta: Chrisna Angelia Zepanya Girsang