Pengorbanan yang Memberi Hidup!
Yohanes 12: 20-28
Tanggal, 15 Pebruari 2026
Tema : “Yesus Memberitakan Kematian-Nya”
Tujuan : Supaya Remaja Dapat:
- Menjelaskan makna Kematian Yesus
- Menyatakan kekagumannya atas tema.
Bayangkan sebuah lilin. Saat dinyalakan, ia mulai menyala terang, menerangi ruangan yang gelap. Tapi tahukah kamu? Lilin itu perlahan-lahan habis. Ia “mengorbankan” dirinya agar orang lain bisa melihat. Terangnya hadir karena ada bagian dari dirinya yang hilang. Begitu juga dengan seorang pemain dalam tim olahraga. Ia rela berlari, jatuh, bahkan terluka demi kemenangan timnya. Ia tidak mementingkan diri sendiri, karena ia tahu: kemenangan bersama lebih penting daripada kenyamanan pribadi.
Demikian juga Yesus. Dalam Yohanes 12:24, Ia berkata, “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Ini bukan sekadar perumpamaan pertanian. Ini adalah gambaran tentang diri-Nya sendiri. Yesus tahu bahwa kematian-Nya di kayu salib bukanlah kekalahan, melainkan jalan menuju kemenangan. Ia menyerahkan diri-Nya agar kita tidak hidup dalam kegelapan, tetapi dalam terang keselamatan. Ia rela mati agar kita semua “menang” atas dosa dan maut.
Apa yang bisa kita renungkan dari bagian ini? Perumpamaan biji gandum menantang kita untuk bertanya: Apa yang harus “mati” dalam hidupku agar aku bisa bertumbuh? Mungkin itu ego yang tinggi, keinginan untuk selalu populer, atau kebiasaan buruk yang merusak diri sendiri. Dalam hidup orang percaya, ada proses yang disebut dying to self—mati terhadap keinginan diri sendiri agar hidup kita bisa menghasilkan buah yang baik.
Itulah pengorbanan. Ya, pengorbanan! Sama seperti Yesus yang mati untuk menyelamatkan dunia, kita pun dipanggil untuk hidup dalam semangat pengorbanan. Bukan karena kita ingin terlihat hebat, tapi karena kita ingin menjadi berkat. Kemuliaan sejati bukanlah soal panggung atau pujian, melainkan tentang melayani dan memberi diri. Remaja dipanggil untuk melihat pelayanan bukan sebagai ajang pamer, tetapi sebagai kesempatan untuk mencerminkan kasih Kristus.
Mari kita kagumi kasih Yesus yang rela mati demi kita. Kematian-Nya bukan tragedi, melainkan kemenangan besar. Dan kita, sebagai pengikut-Nya, dipanggil untuk meneladani pengorbanan itu, dalam hal-hal sederhana: berbagi dengan teman, menolong tanpa pamrih, atau mengalah demi kebaikan bersama.
Karena seperti biji gandum yang mati untuk menghasilkan banyak buah, hidup kita pun akan bermakna ketika kita rela memberi diri. Itulah pengorbanan yang memberi hidup.
Amen