SANNANGGING BORAS DAN SOLIDARITAS

Refleksi Petikan Sejarah Peringatan 116 Tahun Injil Di Simalungun:  Merajut Semangat Solidaritas dan Pengembangan Pelayanan Berbasis Jemaat di GKPS


Boras (bhs. Simalungun) adalah beras,  yaitu bahan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk benua Asia. Bagi orang Simalungun, boras ternyata dapat menceritakan dan menjelaskan banyak hal dalam kehidupannya. Boras bukan sekedar bahan makanan yang dimasak untuk mengisi perut, bukan juga hanya urusan dapur dan tempat penyimpanannya, tetapi boras memiliki banyak makna dalam budaya dan adat orang Simalungun. Sejak seseorang masih dalam kandungan, lahir, bertumbuh, bergumul dalam hidupnya hingga hari kematiannya, orang Simalungun banyak mengkaitkan diri dan keberadaannya dengan boras. Ada nilai-nilai harapan, kekerabatan dan kesejahteraan di dalamnya.

Dalam kebiasaan adat masyarakat Simalungun, boras sebenarnya memiliki nilai-nilai kesejahteraan, kemakmuran dan keselamatan. Seorang pengetua adat selalu menghubungkan kata “boras” dengan kata “horas” dalam pembicaraan adat. Misalnya :

 

Boras sabur-saburan, ibabou ni pinggan pasu,

Horas hita ganupan, sai jumpahan pasu-pasu,

Boras sansupak ma boras sannangging,

Horas ma nasiam mulak horas homa hanami natading.”

 

Boras ni par Purbatua, iboan hu Tiga Balata.

Horas ma hita sayur matua, itumpak-tumpak Naibatanta.

 Kata “horas” dapat berarti sehat-sehat, damai, makmur, dilindungi. Harapan “horas” itu mula-mula dapat kita lihat dalam berbagai peristiwa kehidupan. Pada saat pesta perkawinan, Setelah acara pemberkatan nikah di gereja, biasanya ada acara “mamboras tengeri” kedua mempelai. Pihak orang tua mengambil sedikit boras dari bakul (balbahul) dan meletakkan ke atas kepala kedua mempelai sambil mengucapkan harapan-harapannya. Kemudian dalam acara adat, mulai dari penyambutan hingga pada akhir acara boras harus disiapkan.  Saat tarian (manortor) menyambut Tondong, selalu saja ada seorang inang yang siap sedia “manghorasi” diawal dan diakhir tortor. Manghorasi artinya menghamburkan boras ke arah atas sambil menyerukan “horas….horas….horas. Sepertinya ini sebuah simbol dari harapan bahwa berkat (horas) itu datangnya dari atas dan jatuh menyebar ke orang-orang yang ada dalam kumpulan pesta tersebut. Pihak Tondong yang datang juga biasanya harus manjujung boras (membawa boras dalam bakul kecil ditaruh di atas kepala kaum perempuan). Selanjutnya ketika sang istri sedang mengandung, ada tradisi mangalop parhorasan kepada pihak Tondong. Apa yang dilakukan di sana lebih kurang sama, Tondong akan “mambere boras tenger” supaya borunya ‘kuat dan teguh’ menyambut anak yang akan dilahirkan. Ketika si anak lahir maka akan ada lagi boras tenger menandakan ucapan syukur karena sehat-sehat, horas-horas. Saat seseorang terkejut atau kecelakaan, yang membuat dia takut dan lemah, maka biasanya keluarga yang berkunjung selalu manaruh boras di kepalanya dengan harapan ia semakin kuat dan teguh. Pada saat kematian, peranan boras selalu muncul, baik dalam adat maupun hingga ke liang kubur, masih diiringi dengan “horas, horas, horas.

Itulah sedikit uraian (pasti perlu dilengkapi oleh sibotoh adat) bagaimana orang Simalungun sangat akrab dengan boras. Bukan hanya untuk makan, tetapi juga sebagai alat untuk mengingatkan tentang berkat, keselamatan dan bagaimana membangun kekerabatan antar sesama dalam suka maupun duka. Model “mambere boras tenger” ini pun sudah diserap dalam pelayanan diakonia GKPS untuk warga jemaat yang ditimpa musibah bencana alam.

Sannangging Boras : Petikan Sejarah Injil di Simalungun

Bagi warga GKPS, 2 September 1903 adalah sejarah penting. Sebuah titik awal bagi orang Simalungun bangun dari tidurnya yang panjang dalam kebodohan dan kegelapan dimulai saat itu. Momen di mana mata orang Simalungun dicerahkan dengan pandangan yang baru, yang memungkinkan mereka kelak melihat dunia seluas mungkin. Titik itu juga menjadi awal pikiran mereka dimungkinkan berpikir luas dan hebat. Ada banyak orang yang telah mengecap pendidikan yang tinggi, tidak sedikit yang sukses berbakti di pemerintahan, para petani kita juga tidak ketinggalan akan kemajuan-kemajuan yang terjadi. Sulit membayangkan bagaimana orang Simalungun itu sekarang jika peristiwa 2 September itu tidak ada. Inilah hal besar yang harus diperingati dan dirayakan oleh GKPS sekaligus menjadi momen untuk memikirkan arah kemajuan yang sedang ia jalani. Demikianlah terus menerus moment ini menjadi waktu untuk bergembira, merenung dan merancang bangun bagaimana kita seharusnya mewujudkan cita-cita Injil, yaitu kabar baik, kabar yang menggembirakan bagi semua generasi. Banyak sekali yang sudah terjadi sejak saat itu, tak terhitung sudah. Kita dimungkinkan memilih dari sekian banyak petikan-petikan sejarahnya, dan tentu belajar dan berefleksi dari sana untuk melangkah selangkah lagi lebih maju. Ini yang mendasari saya memilih judul tulisan ini, mencoba menilik bagian kecil dari perjalanan setelah 2 September 1903 dimulai hingga awal kemandirian GKPS. Saya sangat terkesan mendengar dan membaca tentang semangat orang-orang Kristen Simalungun kala itu.

Salah satu petikan kegiatan sejarah pekabaran Injil di Simalungun yang saya kutip di sini adalah semangat Sannangging Boras dan bagaimana itu kemudian menjadi salah satu faktor penting dalam pertumbuhan pekabaran Injil di Simalungun. Hemat saya di sini ada rasa solidaritas yang perlu dipelajari dan digali kembali untuk membangkitkan solidaritas kita terhadap sesama di zaman ini. Apa itu gerakan sannangging boras?

Ibu saya (kelahiran 1928, dan sudah meninggal dunia tahun 2013) pernah beberapa kali dulu bercerita tentang pengalamannya semasa perkembangan zending di Simalungun. Salah satu yang paling dia sering sebut bahwa pernah ada gerakan “sanangging boras” untuk mendukung pekabaran Injil di Simalungun. Katanya, setiap seorang inang hendak memasak (mardahan) tentu ia akan menakar boras yang akan di masak ke dalam periuk (hudon) sesuai dengan kebutuhan anggota keluarga. Kemudian boras yang sudah dalam periuk itulah diambil kembali segenggam (sanangging) untuk dikumpul dalam satu tempat dan itulah nantinya diberikan untuk mendukung Pekabaran Injil. Gerakan ini dilakukan sekali setiap hari, biasanya saat memasak untuk makan malam, diambil dari apa yang seharusnya menjadi jatah makan. Bukan satu takar (muk), tetapi hanya sannangging. Isinya pasti kerkurang, namun itu tidak mempengaruhi porsi makan malam. Tidak akan ada yang kekurangan karena boras na sannangging tersebut. Nilai besar “sannagging boras” itu adalah ketika diambil dari dalam periuk, bukan dari tempat penyimpanan, tapi dapat dikatakan, bukan dari sisa makan mereka. Prinsipnya di sini adalah mereka “mendahulukan” dukungan terhadap pekerjaan pekabaran Injil daripada perutnya.

Memang saya tidak tahu persis kapan dan untuk jenis dukungan apa yang mereka (ibu saya dengan teman-temannya) lakukan dulu. Hanya saja, itu dilakukan saat dia turut menjadi salah satu murid Parguru Saksini Kristus (berdiri 1941). Dan akhirnya saya membenarkan cerita ibu saya ketika saya membaca tentang sejarah gereja bagaimana gerakan yang dilakukan oleh gereja melalui boras. Sejarah gereja GKPS mencatat bahwa dalam rangka mendukung Sekolah Pendeta di Pematang Raya pada tahun 1950, Sinode (pada saat itu masih Sinode Distrik) membuat keputusan hebat melalui membentuk kepanitiaan untuk menanggulangi dana operasional sekolah ini. Namanya “panitia boras” yang diketuai oleh Gr Rudol Purba. Panitia ini bertugas menerima bantuan boras dari setiap rumah tangga anggota jemaat HKBP Distrik Simalungun untuk mendukung pembiayaan Sekolah Pendeta. Setiap rumah tangga menyediakan setakar boras tiap bulan selama dua tahun untuk mendukung HKBP distrik Simalungun dalam menyelenggarakan Sekolah Pendeta. Melalui gerakan ini, hasilnya adalah ditahbiskan 7 orang Pendeta dari putra-putra orang Simalungun pada tahun 1952. Bisa kita pahami bahwa di tahun-tahun itu orang Simalungun masih jauh dari kemakmuran, masih dalam kesulitan secara ekonomi. Kobaran api semangat memenangkan sesama orang Simalungun menyala-nyala, sehingga gerakan itu merupakan  sukacita tersendiri bagi warga jemaat. Sebuah kerinduan yang mendalam agar sesama orang Simalungun terlepas dari belenggu kebodohan, kemiskinan serta dapat menikamti kemajuan, semakin pintar dan dapat berdiri sendiri.

Solidaritas : Keberpihakan Keaeda yang Lemah

Petikan sejarah di atas bukan berhenti pada sannanging boras, makna terdalamnya adalah soal solidaritas. Kata Solidaritas berarti sifat (perasaan) solider; sifat satu rasa (senasib dan sebagainya); perasaan setia kawan. Berkaitan dengan kata “solider,” berarti mempunyai atau memperlihatkan perasaan bersatu (senasib, sehina, semalu, dsb), atau (rasa) setia kawan. Jadi, solidaritas merupakan sikap ikut merasakan terhadap apa yang dirasakan orang lain, dan biasanya dihubungkan dengan saudara-saudara kita yang miskin, dan yang terpinggirkan. Dalam konteks petikan sejarah tadi, masih banyak orang Simalungun yang miskin, tertinggal, terabaikan dan terpenjara dalam kebodohan,  yang perlu dimenangkan oleh Injil.

Pelayanan Yesus sesungguhnya semua berpusat pada solidaritas yang dituliskan Lukas dengan indah (Lukas 4:18-19). Sejak kelahiran, pelayanan dan kematiannya adalah perwujudan atas solidaritas terhadap manusia yang berdosa. Contoh-contoh pelayanan Yesus yang solider, ia memperhatikan orang yang terhilang, orang yang miskin, orang yang sakit, bahkan kaum perempuan juga ia sembuhkan dan memberi kesempatan untuk menjadi murid-Nya.

Persekutuan jemaat mula-mula menyatakan solidaritas dalam sikap hidup saling berbagi dalam kekurangan. Ada yang menjual harta mereka dan memberi kepada para rasul untuk membagi kepada yang berkekurangan sehingga tidak ada dari mereka yang berkekurangan (Kisah rasul 2:41-44; 4:41-47). Sikap solidaritas serupa juga dibangun oleh Paulus sendiri terhadap jemaat di Yerusalem yang sedang menghadapi bahaya kelaparan karena bencana alam melalui pengumpulan dana dari jemaat-jemaat non Yahudi.  Sistem pelaksanaannya diatur oleh rasul Paulus dalam 2 Korintus 8-9. Ia sendiri yang mengantar bantuan kasih itu kepada jemaat di Yerusalem. Dalam jemaat Yerusalem sendiri untuk mengatur bantuan-bantuan kasih itu diangkatlah para diaken yang memiliki kualifikasi rohani, sosial, maupun intektual (penuh roh kudus, penuh iman, mempunyai kesaksian hidup yang baik dan penuh dengan hikmat) untuk melaksanakan tugas tersebut (Kisah Rasul 6:1-7).

Kedalaman arti solidaritas itu berkaitan dengan apa yang dilakukan Kristus dalam kehadiranNya di dunia ini. “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya”(2 Kor. 8:9). Pemahaman ini diperkaya dengan konsep kenosis-Nya (pengosongan diri Kristus, dalam Filipi 2: 6-11). Pengosongan diri Kristus ini dipahami sebagai tindakan pemiskinan sukarela yang lahir karena cinta dan solidaritas terhadap orang yang menderita. Kristus menebus mereka dari dosa mereka dan memperkaya mereka dengan kemiskinan-Nya. Sebuah sikap sadar untuk melawan keegoisan manusia dan segala sesuatu yang dapat memisahkan manusia dengan sesama: kaya dan miskin, pemilik dan yang dirampas, penindas dan yang tertindas. Tindakan pemiskinan Kritus ini adalah tindakan kasih dan pembebasan, ia memiliki nilai penebusan. Jika penyebab utama hancurnya nilai-nilai kemanusiaan adalah keegoisan, maka alasan terdalam dari kemiskinan sukarela adalah kasih terhadap sesama. Ini bukan berarti mengidealkan kemiskinan, melainkan mengambilnya sebagaimana adanya untuk memprotesnya dan berjuang untuk menghapusnya. Kita tidak bisa benar-benar bersama orang miskin kecuali kita berjuang melawan kemiskinan. Atas dasar ini, teolog Amerika Latin (Gustavo Guttierez dalam bukunya A Theology Of Liberation : History, Politics, and Salvation) menyatakan bahwa pemiskinan sukarela ini adalah bentuk solidaritas terhadap orang miskin dan merupakan protes terhadap kemiskinan. Model ini perlu ditiru oleh gereja dalam menterjemahkan gerakan pelayanannya. Gereja seharusnya tidak boleh terjebak dalam kemegahan atau kemewahan karena panggilannya adalah untuk meneladani Kristus.  Dietrich Benhoffer dalam bukunya Letters & Papers from Prison pernah menyatakan supaya kita terus belajar melihat peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah dunia ini selalu dari bawah, dari perspektif mereka yang terbuang, yang dicurigai, yang teraniaya, yang tak berdaya, yang tertindas, yang dicerca, atau singkatnya dari perspektif mereka yang menderita. Cara pandang sepert inilah yang perlu dibangun gereja jika ia mau tetap menjadi pelopor solidaritas.

Pengembangan Pelayanan Berbasis Jemaat

Kalau kembali ke sanangging boras tadi, apa nilai solidaritas yang bisa kita terjemahkan bagi hidup gereja saat ini? Gerakan itu terjadi di sel-sel komunitas orang Kristen Simalungun (keluarga). Di level basis, di rumah mereka, tempat mereka hidup, dari periuk mereka. Letak kekuatannya adalah kerena melibatkan semua, sebuah pendidikan membangkitkan partisipasi dan tanggungjawab bahwa pekerjaan pelayanan gereja itu adalah bagian bersama. Artinya semua diharapkan turut terlibat dan diberdayakan dalam dukungan pekabaran Injil. Pelayanan gereja mestilah berdasar pada solidaritas. Rasa senasib dengan mereka yang miskin, yang terabaikan, yang dipinggirkan, yang tidak seberuntung kita selalu menjadi pendorong bagi kita untuk berbagi dan berpartisipasi. Ini bukan soal rasa kasihan, tapi tanggungjawab.

Peta dan pengalaman penderitaan jemaat harus selalu dasar berpikir untuk merumuskan pelayanan. Arahnya haruslah keberpihakan. Oleh karenanya, prioritas pelayanan gereja haruslah berpusat pada pembangunan manusianya. Gereja bukanlah gedungnya, tapi adalah orangnya. Jika gedungnya roboh maka orang-orangnya masih bisa tetap berdiri. Tetapi jika orangnya terjerat dalam kemiskinan, terpinggir atau tertindas, tentu gedungnya tidak dapat memberi apa-apa. Orientasi pelayanan gereja bukan pada seremonial semata, tetapi pada kesejahteraan umatNya. Misalnya, bisa kita bayangkan betapa mahalnya ongkos sayembara atau pesta-pesta yang kita rayakan bila dibandingkan dengan kebutuhan pelayanan saudara-saudara kita yang kurang beruntung, penyandang disabilitas, pemuda putus sekolah, anak yatim piatu, korban kekerasan, korban bencana alam dan mereka yang terjerat dalam hutang dan kemisikinan. Rasa solidaritas kita terus diuji dan memanggil kita untuk mengambil bagian di dalamnya.

Dalam praktisnya, sebenarnya sudah dilakukan beberapa jemaat melalui tabungan diakonia (dalam Tahun Diakonia) untuk biaya pelayanan diakonia berbagi di jemaat. Mungkin kita tidak bisa memberi jutaan atau ratusan ribu rupiah, tapi kita mungkin dapat mengumulkan sannangging boras per-hari secara berkesinambungan demi solidaritas kita terhadap sesama. Menarik bila kita merenungkan ungkapan Y.B Mangunwijaya: “Patriotisme masa kini adalah solidaritas dengan yang lemah, yang hina, yang miskin, yang tertindas.” Selamat ber-solidaritas.

Pdt.Aman Saud Purba, MA Penulis adalah Kepala Departemen Pelayanan GKPS