
PA REMAJA GKPS
Minggu, 09 Juni 2026 (1 Setelah Trinitatis)
Nats Khotbah : Ayub 42:1-6
Tema : Bergaul Akrab Dengan Tuhan
Tujuan : Supaya Remaja dapat:
Kunci Keberhasilan Iman adalah Hubungan Yang Benar Dengan Allah
HUBUNGAN YANG BENAR AKAN MELAHIRKAN SIKAP DAN TINDAKAN YANG BENAR
Ayub menjadi tokoh sentral dalam Perjanjian Lama jika membahas tentang “kesetiaan dalam penderitaan” Dalam kita Ayub sendiri Ayub diperkenalkan sebagai orang yang kaya, saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan (bnd. Ay. 1:1). Ayub seorang yang saleh dan takut akan Allah mengalami penderitaan, harta yang habis, anak meninggal dan bahkan mengalami penyakit kusta yang pada saat itu sebagai penyakit kutukan Allah akibat dosa. Kisah Ayub mengajarkan kita bahwa ke taatan kepada Allah bukan berarti kita tidak mengalami yang namanya penderitaan atau ujian iman, sebagaimana ungkapan Ayub mengatakan “Karena Ia tahu jalan hidupkul; seandainya ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas (Ayub 28:1). Pesannya adalah orang benar bisa menghalami penderitaan, namun respon yang benar adalah berserah dan percaya pada kedaulatan Allah. Ayub menjadi seorang teladan yang kuat dan setia dalam berbagai penderitaan dan satu hal yang dapat kita simpulkan bahwa kunci keberhasilan Ayub adalah tema khotbah hari ini yaitu: “Bergaul Akrab Dengan Tuhan” hubungan atau kedekataan Ayub dengan Allah menjadi kunci dan kekuatan bagi Ayub dalam setia pada penderitaannya.
Teks khotbah ini adalah pengakuan Ayub tetang Allah setelah ia mempertanyakan penderitaan yang dialaminya kepada Tuhan. Ayub menuduh Tuhan telah berbuat tidak adil terhadap dirinya: Ayub mengatakan bahwa Allah telah berlaku tidak adil terhadap aku, dan menebarkan jala-Nya atasku” (Ayub 19:6). Ayub mulai mempertanyakan keadilan Allah atas diri-Nya, mengapa ia menderita, mengapa Tuhan Diam dan tidak menyatakan keadilan atas dirinya. Maka setelah Ayub mendengar jawaban Allah, ia pu mengerti dan pada akhirnya memberikan pengakuan yang benar tentang Allah. Adapun yang menjadi pengakuan iman Ayub:
Salah satu hakikat dari Allah adalah Allah yang omny potence (maha kuasa). Dia adalah Allah yang tidak terbatas. Pengakuan “Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu” pengakuan ini menegaskan bahwa kekuasaan Tuhan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu ataupun keadaan. Tidak ada hal yang terlalu besar dan terlalu kecil bagi Tuhan. Dalam setiap keadaan hidup kita, Tuhanlah yang mempunyai kuasa untuk mengubah dan memulihkan setiap keadaan. Pada akhirnya Ayub mengalami bagaimana kuasa Allah memulihkan keadaanya berkali lipat dari apa yang telah hilang sebelumnya. Dari sini kita bisa mengajarkan kepada anak remaja untuk tetap menyerahkan seluruh hidupnya kepada kuasa Allah bahkan untuk segala cita-citanya, sebab jika Allah telah berkenan maka apapun bisa Allah lakukan.
Allah juga adalah Allah yang berdaulat penuh terhadap ciptaan-Nya, Dia Allah yang memegang kendali penuh atas segala asepek kehidupan seluruh ciptaan-Nya. Semua berjalan seturut dengan rencana Allah yang sempurna. Tidak ada yang dapat mengagalkan rencana-Nya bahkan Iblis sekalipun. Kedaulatan Allah bukan berarti meniadakan kasih dan keadilan Nya. Tetapi dalam setiap rencana-Nya itu selalu mendatangkan kebaikan bagi kita. Kedaulatan Allah tentunya memberitahukan kepada kita bahwa kita yang ciptaan tidak akan pernah dapat terpisah dari Dia yang menciptakan kita. Kita bisa memberikan penjelasan tentang ini kepada anak remaja dengan alat peraga handphone, charger dan sumber Listrik. Dimana secangih apapun handphone kalau dia tidak dicharger dari sumber Listrik maka Handphone yang cangih itu tidak akan berguna. Maka demikian hidup kita, sepintar apapun kita kalau kita tidak memiliki hubungan yang benar atau akrab dengan sang sumber yaitu Allah maka kita juga tidak berarti apa-apa.
Setelah Ayub menyatakan pengakuan iman nya tetang kebagaimaaan Allah, maka hal yang selanjutnya adalah dia mengenal siapa dirinya dihadapan Allah. Ayub paham benar bahwa pengenalan akan diri sendiri itu penting. Ayub berkata “siapakah dia yang menyelubungi Keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat Ajaib bagiku dan yang tidak ku ketahui. Ayub sadar bahwa dia telah melakukan kesalahan untuk mengugat Allah yang terbatas itu dengan pengetahuan dan keberadaan dirinya yang terbatas. Kita sering juga bersikap tidak tau diri di hadapan Allah, sering memaksakan kehendak kita dan bahkan menyalahkan Allah hanya karena rencana Allah tak seperti yang kita inginkan. Hal ini mengajarkan kepada kita satu hal untuk tidak membatasi pekerjaan dan rencana Allah dalam hidup kita dengan pengetahuan, kemampuan dan keberadaan kita yang terbatas. Itulah sebabnya dalam ayat 4 dikatakan “Firman-Mu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; aku akan menanyai engkau supaya engkau memberitahu aku.
Darimanakah datangnya pengakuan iman Ayub yang hebat itu ditengah penderitaan yang dialaminya? Maka jawabannya adalah karena Ayub memiliki hubungan yang benar dengan Allah. Hubungan yang benar (spritualitas) mendatangkan pengenalan yang benar akan Allah, sebagaimana kita melihat pesawat itu kecil kalau kita melihatnya dari kejauhan dan sebaliknya kita akan melihat pesawat itu besar jika kita melihatnya dari kedekatan dan dapat merasakan bagaimana didalam pesawat kalau kita langsung masuk di dalamnya. Demikianlah pengakuan Ayub mengatakan dalam ayat yang ke 5 “hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau”. Ayub sedang memberitahukan kepada kita agar kita mengenal Allah bukan dari apa kata orang tetapi kita yang mengalaminya langsung dengan membangun hubungan yang benar dengan Allah sesuai dengan tema khotbah hari ini Bergaul Akrab Dengan Tuhan”.
Ada tiga K yang perlu di miliki untuk membangun hubungan dengan Allah yang juga perlu kita ajarkan kepada anak sekolah minggu remaja: Kemauan, Komitment dan Konsiten. Dan beberapa kegiatan dasar Rohani untuk membangun spritualitas yaitu: berdoa, membaca firman, Persekutuan, katekisasi dan masih banyak lagi yang lain. Dan kita harus menekankan bahwa jangan jadikan itu jadi runititas kewajiban tetapi kebutuhan.