
Tonggokku na lang tarpajojor, Tonduy Napansing patalarhon in.
Au gabe anak-Mu goranon, Tonduy homa do mangkatahon in.
Ase ibagas Kristus Anak-Mu boi au mardilo Bapa hu Bamu.
“Dari pada suara air yang besar, dari pada pecahan ombak laut yang hebat, lebih hebat Tuhan di tempat tinggi.” (Mazmur 93:4)
Jemaat Tuhan,
nas ini memperingatkan kita bahwa Allah lebih besar daripada ciptaan-Nya. Allah menguasai kejahatan, Ia membawa ketertiban keluar dari kekacauan. Tidak ada yang berada di luar kendali-Nya dan tidak ada tempat yang tidak bisa dilihat, dijangkau, dan dipulihkan-Nya. Secara luas, “laut” dalam literatur Ibrani memiliki dua konotasi. Pertama, laut berarti kekacauan dan kejahatan. Sifat Allah ada untuk menertibkan dan menebus dari kekacauan serta kejahatan. Para murid pernah dilanda ketakutan yang luar biasa saat angin ribut besar terjadi. Kala itu, Yesus meredakannya. Tindakan Yesus membuat para murid bertanya seorang terhadap yang lain, “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya? (Mrk. 4:41)” Peristiwa itu lantas mengungkapkan identitas Sang Guru. Yesus, adalah Tuhan yang berkuasa atas kekacauan, termasuk yang terjadi di laut. Kedua, laut sebagai simbol penganiayaan, kesusahan, dan penghakiman. Dalam Perjanjian Lama, lautan dengan ombaknya yang besar acapkali menjadi simbol dunia yang goyah dari bangsa-bangsa non-Yahudi yang ada di sekitarnya. Yesaya 17:12 menyebutkan, “Wahai! Ributnya banyak bangsa-bangsa, mereka ribut seperti ombak laut menderu! Gaduhnya suku-suku bangsa, mereka gaduh seperti gaduhnya air yang hebat!” Lautan dengan massa air yang besar, gelombang yang terus-menerus, dan tekanan yang tiada henti terhadap daratan, adalah lambang dunia non-Yahudi yang terasing dan bermusuhan dengan Tuhan. Oleh sebab itu, jika laut mewakili bangsa-bangsa non-Yahudi, maka teks ini adalah penegasan kedaulatan Allah atas setiap perjalanan dan perkembangan sejarah. Allah adalah Raja alam semesta, bukan hanya kosmos (bumi), tetapi juga dari manusia.
Jemaat Tuhan,
jika Tuhan adalah Raja atas alam semesta ini, tidak diragukan lagi, maka kita adalah hamba-hamba-Nya. Hari ini, kita menghayati peristiwa kenaikan Yesus ke sorga, 40 hari setelah Yesus bangkit dari kematian. Untuk itu, kita harus melayani Dia sebagai Raja yang memerintah. Jika kita melayani Dia ataupun menolak untuk itu, Kerajaan-Nya tidak berubah. Yesus akan tetap Tuhan dan Juruselamat, yang berkuasa atas alam semesta. Oleh sebab Yesus adalah Raja yang berdaulat, maka percayakanlah hidupmu kepada-Nya. Yang kekal itu hanya ada dalam Yesus. Amin.
Marlaksa-laksa Serapim, marribu-ribu Herubim, mamuji Ham na pantas.
Ibaen na pinadomu-Mu, ganupan manisia in, bai Naibata i atas.
Puji, Jesus Kristus, haganupan ilahoi, tinonahkonni Bapa-Ni.
Kantor Sinode GKPS