
Ale Tonduy Sipardamei sai masuki hanai on.
Sai pasada uhurnami, ‘se marbuah ganup on.
Sai tangi ma pinggolnami lao manangar ojur-Mu;
Ase tambah ringgasnami pararatkon Hata-Mu.
“dan dia menjadi damai sejahtera” (Mikha 5:4a)
Prinsip ini perlu mereka pegang karena memang pada saat nubuatan ini disampaikan nabi Mikha, keadaan bangsa Israel pada saat itu tidak sedang baik-baik saja. Ketika itu bangsa Asyur merebut Samaria, ibu kota kerajaan utara, pada tahun 722 SM. Kerajaan selatan, yaitu Yehuda, juga mengalami ancaman militer. Selama pemerintahan Hizkia, raja Asyur, Sanherib, melakukan kampanye militer (701 SM), menyerang beberapa kota di Yehuda (2 Raja-raja 18–19; Mikha 1:10–16) sebelum mundur dari Yerusalem. Karena adanya ancaman dari luar Israel, maka terjadi pula perubahan besar dalam kehidupan umat Israel. Selama era ini, ekonomi Yehuda berkembang dan bergeser dari masyarakat barter menjadi masyarakat pedagang, di mana uang dipertukarkan dengan barang. Menurut sang nabi, korupsi dan kemunafikan merajalela. “Para penguasa Yerusalem memberikan keputusan hukum karena suap, para imamnya mengajar karena bayaran, para nabinya menyampaikan firman karena uang; namun dalam praktik ibadah mereka selalu berkata bahwa mereka bersandar kepada TUHAN dan berkata, “Sesungguhnya TUHAN menyertai kita! Tidak akan ada malapetaka yang menimpa kita.”” (Mikha 3:11)
Dalam situasi yang seperti inilah nabi Mikha menyampaikan nubuatan tentang damai sejahtera. Nubuat Tuhan dalam Mikha 5 dengan tegas menyatakan bahwa perjanjian Allah dengan Israel sejak dahulu selalu nyata dan tidak pernah berubah. Nubuat itu memberikan jaminan bahwa perjanjian Allah dengan Daud—yang “sejak dahulu kala, sejak zaman purbakala”—adalah kekal dan masih berlaku, meskipun Yehuda berada di bawah ancaman. Perjanjian itu akan digenapi dengan pemimpin baru dalam garis keturunan Daud.
Isi perjanjian itu dengan tegas dinyatakan bahwa Ia menjadi damai sejahtera. Pernyataan ini adalah janji mesianik yang menubuatkan kedatangan seorang pemimpin dari Betlehem yang akan membawa damai sejahtera bagi Israel dan semua bangsa. Tentu yang diutamakan umat Tuhan yang mendengar itu adalah damai sejahtera yang sekarang dan langsung terjadi dalam hidup mereka. Dalam penggenapan nubuatan Allah jelas dikatakan bahwa janji itu benar digenapi dalam Kristus Yesus. Maka yang dinyatakan nabi Mikha melalui ayat harian ini adalah bahwa damai sejahtera itu tidak hanya berbicara tentang damai secara teoritis, tetapi juga menuntut umat Tuhan untuk bertindak adil, mengasihi sesama, menjalankan keadilan dan kebenaran sesuai dengan aturan dari Tuhan, tetap hidup dalam kemurahan Tuhan dan hidup dengan rendah hati.
Tentu damai sejahtera yang sama adalah kebutuhan dan keinginan yang kita rindukan. Umat Tuhan dalam kitab Mikha telah pernah gagal merasakan damai sejahtera karena mereka terlalu mengandalkan kekuatan manusia dan berlaku curang dengan melakukan ketidakadilan. Pada saat ini, damai sejahtera itu adalah nubuatan Tuhan yang telah menjadi nyata melalui pribadi kita yang telah dikuduskan dan dipilih Tuhan. Kita adalah alat damai sejahtera Tuhan. Kita adalah utusan Tuhan, sehingga damai sejahtera semakin nyata dengan kehadiran kita. Mari kita jaga hati dan panggilan damai sejahtera itu dengan tetap mengandalkan dan melaksanakan damai sejahtera dari Tuhan Yesus. Amin.
Tonggor idop ni uhur-Ni, na bagas, na gijang in;
Sai tandai ma holong-Ni, seng tarsibar ganup in.
Iparorot Naibatanta, Bapa na tarsulur in.
Pakon Jesus pe, Tuhanta, hita na porsaya in.
Kantor Sinode GKPS