
Jumpahan ulih do ganupan, na sirsir manangihon in.
Na seng ongga marsidalian, mambalosi Tuhanta in.
Tangihon ma dilo-dilo-Ni, pateleng ham ma pinggolmu.
Ulang manosal holi dob ni, bai ujung ni panorangmu.
“Roh dan pengantin perempuan itu berkata: ”Marilah!” Dan barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata: ”Marilah!” Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!” (Wahyu 22:17)
Untuk itu, kita diminta agar terlebih dahulu mendengar perkataan dari Roh Kudus dan dari pengantin perempuan yang adalah gereja atau mempelai Kristus. Undangan dan perkataan mereka adalah, “Marilah!” Pesan utama dari perkataan ini adalah supaya kita selalu sadar akan karya Roh Kudus dalam kehidupan kita. Roh Kudus menyadarkan kita akan dosa dan menuntun kita kepada pertobatan dan iman. Dalam Yohanes 16:8 disebutkan, “Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman.” Pekerjaan Roh Kudus ini penting bagi kita karena ada kepentingan umat percaya untuk menyadari kebutuhan mereka akan keselamatan di dalam Kristus dan menanggapi panggilan itu untuk hidup dalam kekudusan dan pertobatan.
Panggilan dari pengantin perempuan (mempelai Kristus) yang adalah gereja merupakan panggilan bersama yang harus kita sadari, bahwa sebagai warga gereja yang kudus dan am kita dipanggil untuk menjaga kesatuan, keberagaman, inklusivitas, dan kasih kepada semua orang, termasuk orang-orang yang mungkin tidak kita sukai. Undangan dari mempelai perempuan yang mengatakan, “Marilah!” adalah ketika kita diundang untuk melihat dunia dari sudut pandang Tuhan, Yesus Kristus, dan Roh Kudus. Oleh karena itu, kita harus tetap berada dalam persekutuan yang hidup dalam semua orang percaya.
Ketika kita telah memahami dan mengerti tentang panggilan pribadi dari Roh Kudus dan panggilan bersama sebagai gereja, maka kita juga diminta untuk menjadi umat Tuhan yang bersedia untuk bersaksi. Dalam ayat harian ini disebut bahwa kita juga harus mengundang sesama kita untuk menikmati persekutuan dalam Allah Bapa, Tuhan Yesus Kristus, dan Roh Kudus. Dalam setiap konteks, orang Kristen dipanggil untuk bersaksi tentang kesetiaan Tuhan, dan kesaksian terwujud dalam bentuk memberi harapan, menghibur, dan mengasihi sesama dan orang lain. Ketika kita melakukan panggilan dan bersedia mengundang sesama sesuai dengan panggilan Tuhan bagi kita, maka kita juga sedang membuktikan bahwa kita adalah bagian dari persekutuan yang kudus dan am dari Tuhan yang akan menerima kehidupan kekal dari Allah Bapa. Panggilan Roh Kudus dan mempelai wanita yang bersatu mencerminkan panggilan Tuhan Allah yang menghendaki agar semua orang bertobat dan menemukan hidup kekal di dalam Kristus (2 Petrus 3:9). Undangan mereka untuk “datang” adalah panggilan bagi kita untuk tetap hidup dalam kekudusan dan setia memberitakan Injil sepanjang hidup kita. Amin.
Kita t’lah dengar jeritan dari jauh, “Kirimlah cahyamu!”
Bantuanmu b’rikan, janganlah jemu, “Kirimlah cahyamu!”
Kirimlah pelita Injili, menyentak yang terlelap.
Kirimlah pelita Injili, menyentak yang terlelap.
Kantor Sinode GKPS