
Ale Tonduy Sipardamei sai masuki hanai on.
Sai pasada uhurnami, ‘se marbuah ganup on.
Sai tangi ma pinggolnami lao manangar ojur-Mu;
Ase tambah ringgasnami pararatkon hata-Mu.
“Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:22-23)
Nabi palsu terlihat seperti biri-biri, namun hatinya sebenarnya adalah serigala. Waktu dan proses akan membuktikan siapa yang benar-benar sebagai pengikut Tuhan. Biri-biri yang sejati atau serigala yang menyamar sebagai biri-biri. Ternyata, bukan orang yang selama hidupnya bernubuat demi nama Tuhan, mengusir setan demi nama Tuhan, dan mengadakan banyak mujizat demi nama Tuhan yang akan diselamatkan pada hari terakhir. Justru terhadap orang-orang yang demikian, Tuhan mengatakan bahwa Ia tidak mengenalnya. Bukan hanya tidak mengenal, melainkan Tuhan juga mengusir dia dan ia disebut sebagai pembuat kejahatan.
Pernahkah kita menganggap bahwa kita sudah sempurna dan mapan dalam menjalankan firman Tuhan? Pernahkah kita merasa bahwa kita adalah orang yang baik dan benar, hanya gara-gara kita menganggap bahwa kita sudah banyak melakukan banyak hal demi nama Tuhan? Mengapa kita yakin bahwa kita adalah orang baik? Suatu ketika, ada seorang yang berlari-lari mendapatkan Tuhan Yesus, dan setelah ia mendapatkanNya, ia berkata, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Apa jawab Yesus? Yesus menjawab, “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja.” (Markus 10:17-18). Oleh karena itu, Yesus pun tidak mengiyakan bahwa Ia adalah baik. Apalagi kita? Apakah kita sebegitu yakinnya bahwa kita adalah orang baik dan setia hanya karena kita bernubuat demi namaNya, mengusir setan demi namaNya, dan mengadakan banyak mujizat demi namaNya? Belum tentu. Kita baru bisa mengatakan dan menjamin seseorang itu baik dan setia atau tidak, yaitu pada saat ia telah mati, dan ketika itulah ia layak mendapatkan mahkota kehidupan, seperti yang dikatakan dalam Wahyu pasal 2, “…. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” Amin.
Kantor Sinode GKPS