
Ai dohor Tuhanta, suruh-suruhan-Ni sai marsombah i lobei-Ni.
Ai hapansingonNi ipapuji-puji marhiteihon ni dodingNi.
Hita pe, hajojor, sai ringgas uhurta pasangap Tuhanta.
“Beribadahlah kepada Tuhan dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!” (Mazmur 100:2)
Alasan yang melandasi seruan tersebut adalah bahwa TUHAN memerintah segenap alam semesta ini, sehingga layak menerima pujian dan sembah dari seisi semesta. Lebih dari itu, TUHAN layak menerima penyembahan dari semua manusia yang telah diciptakan-Nya dan dijadikan-Nya umat gembalaan-Nya. Kata “ibadah” dalam arti harafiah lebih luas dari sekedar kegiatan ibadah di rumah TUHAN. Kata itu dipakai pada zaman itu untuk mengungkapkan sikap mengorentasikan hidup sepenuhnya kepada seorang raja, entah manusia atau TUHAN. Jadi konsep ibadah yang dimaksud adalah pengabdian total atas dasar kepemilikan TUHAN atas umat-Nya. Seluruh segi hidup yang taat dan mengasihi TUHAN menyatakan pemerintahan TUHAN.
Pemazmur menjadi inspirasi bagi kita untuk mewujudkan kehidupan bersama di tengah bangsa sebagai arak-arakan syukur dan pujian kepada Tuhan. Hidup kita adalah ibadah di hadapan Tuhan. Ibadah benar berdoa dan membaca Alkitab, tetapi bukan hanya itu saja, lebih dari itu kita beribadah dengan mewujudkan kebenaran dan keadilan Tuhan melalui hidup dan karya kita dan juga memilih yang baik serta melawan kejahatan. Amin.
Puji ma Naibatanta, Sipargogoh na tarsulur in, parsimada harajaon in.
Haleluya! Haleluya! Puji ma Naibata
Pasangap ma goran-Ni, ale ganup na marhosah in, ningon rup ma mamuji ijin.
Haleluya! Haleluya! Pasangap Naibata.
Pahata ma tarompit ‘ge arbab pe, irandu pakon gonrang husapi pe.
Irik homa sarunei ‘ge sordam pe, sonai ampakon ogung marolol bei.
Puji ma! Rumbuk ma baen parhata ni parugas in.
Sombah ma! Marhiteihon ni inggou na lurlur ijin.
Kantor Sinode GKPS