
Tuhan Jesus do Rajanta na manggomgom haganup;
Pinarorot ni Tuhanta na marhosah haganup.
Anggo lao hata-Ni in, seng tarbaen lang saud in;
Sai na saud do hata-Ni bai ganup manisia-Ni.
“Bersukacitalah bersama-sama Yerusalem, dan bersorak-soraklah karenanya, hai semua orang yang mencintainya! Bergiranglah bersama-sama dia segirang-girangnya, hai semua orang yang berkabung karenanya!” (Yesaya 66:10)
Pengalaman kita sebagai pelayan atau pekerja juga sering mengalami kelelahan karena sibuk dan beban kerja yang tinggi, tuntutan pekerjaan yang besar yang harus diselesaikan sesuai dengan deadline. Lingkungan kerja melalui rekan-rekan bisa muncul konflik kepentingan, sehingga pekerjaan bukan lagi hal mudah tetapi semakin rumit. Ditambah lagi urusan rumah tangga, keluarga yang menjadi beban yang harus kita pikul. Lanjut dengan urusan pelayanan di gereja membuat kita kelebihan aktivitas, akhirnya letih.
Demikian juga pada masa pelayanan Yesaya ini, di mana Israel merasakan kelelahan bahkan hingga menusuk tulang, mereka menderita, selama pembuangan di Babel ketika mereka harus terputus dari tanah dan Tuhan mereka, karena runtuhnya Bait Suci. Keadaan mereka pada saat itu dalam kesulitan, penindasan, secara ekonomi mereka jatuh. Situasi ini menjadikan mereka lelah dan hampir putus asa. Maka Yesaya nabi Allah menyampaikan pada pasal 66 ini janji pembalasan Allah dan pemulihan Sion, Yerusalem. Hal ini menjadi angin segar yang membawa pengharapan dan semangat baru bagi bangsa itu, bahwa Allah akan mengubah keadaan mereka yang dulunya menangisi Yerusalem, bersedih melihat Yerusalem yang jatuh itu, tidak hanya bangunan fisiknya tetapi juga manusianya. Diberi pengharapan bahwa Allah dengan kuasaNya akan memulihkannya.
Maka, Israel dipanggil untuk bersukacita karena Yerusalem dan mereka ini jugalah yang pernah berkabung karena Yerusalem. Yesaya menggambarkan karakter Allah yang keibuan, yang akan memulihkan dan menyegarkan tulang-tulang yang letih dari umatNya. Inilah penghiburan dari Tuhan atas umatNya. Untuk itu umat dipanggil untuk bersukacita. Ada empat kali dalam ayat ini diulangi kata perintah agar umat “bersukacita,” “bersorak-sorak,” “bergirang,” “segirang-girangnya” untuk menggantikan rasa kesedihan dan kehancuran Yerusalem. Yerusalem akan dibaharui. Yerusalem digambarkan seperti seorang yang ibu yang mengasuh anak-anaknya, menyusui anak-anaknya, menggendongnya, menimang-nimang mereka. Israel mendapatkan kasih sayang dan pemeliharaan yang berlimpah. Maka pada saat itu umat akan bersukacita dan bergirang. Kasih Allah yang memelihara menjangkau dan memulihkan umatNya.
Kelelahan adalah bagian dari hidup kita. Kita pasti akan mengalaminya dikarena banyak aspek hidup yang kita jalani. Namun jangan menyerah. Tetaplah teguh jangan goyah. Sebab Allah adalah Allah yang penuh kasih dan keibuan, yang akan menyegarkan kita dengan kasihNya. Ia menimang, menggendong dan memelihara kita. Allah tidak pernah jauh dan meninggalkan kita. Ia hadir untuk memulihkan dan menyegarkan kita dengan kasih sayang, sehingga kita akan dimampukan untuk terus melangkah melanjutkan misi Tuhan di tengah-tengah dunia ini. Amin.
Ningon do marsombah bani Naibata, puji ma Ia pargogoh do in.
Ulang marnaloja sai irikkon ma, rap mambalosi hata-Ni in.
Holsoh haganupan mambur, tubuh ma malas ni uhur.
Gok bai pangarapan holong na totap, rap mandodingkon: Haleluya!
Kantor Sinode GKPS