
PEMATANGSIANTAR.GKPS.OR.ID. Seperti dua tahun belakangan, GKPS melalui Litbangnya kembali menggelar GKPS Marguru. Di tahun ketiga ini, ada 21 pertemuan dengan topik dan narasumber yang berbeda setiap pertemuan, yang diharapkan akan semakin memperkaya pengetahuan teologi dan wawasan peserta ber-GKPS, sehingga bermanfaat untuk kemandirian jemaat.
Pertemuan pertama GKPS Marguru Tahap III dilangsungkan pada Senin (2/3/2026) malam lewat platform zoom meeting. Pimpinan Sinode GKPS (Ephorus) Pdt. John Christian Saragih, S.Th, M.Sc menjadi narasumber topik “Martangkupas”, dan Kepala Litbang GKPS Pdt. Dian Putra Sumbayak, M.Th sebagai moderator.

Topik Martangkupas dipilih bukan tanpa alasan. Topik ini berkaitan dengan tema GKPS 2026-2030, dimana GKPS diharapkan menjadi Gereja (GKPS) yang produktif-mandiri di tengah tantangan zaman.
Dalam pemaparannya, Ephorus mengupas arti kata martangkupas, satu kata dalam bahasa Simalungun yang memiliki pengertian yang mendalam.
“Merujuk pada Kamus Bahasa Simalungun-Indonesia, kata martangkupas berasal dari kata tangkupas, yang berarti sebagian dari ladang/sawah untuk anak laki-laki dan perempuan yang belum kawin, yang hasilnya diperuntukkan kepadanya. Dari pengertian ini kita dapat mengartikan martangkupas berarti berladang di ladang orang tua untuk memenuhi kebutuhan hidup seorang anak, dan menjadi salah satu syarat kedewasaan seseorang di Simalungun pada masa dahulu,” terang Pdt. John Christian.
Lebih lanjut Ephorus menyebutkan martangkupas merupakan sebuah semangat untuk berbenah, memperbarui dan memperlengkapi diri, dan hal sama merupakan panggilan gereja.
Ditegaskan Ephorus, gereja yang mandiri berarti tidak bergantung secara berlebihan pada pihak luar, melainkan mampu mengelola potensi internal -baik sumber daya manusia, keuangan, maupun spiritualitas- secara berkelanjutan.

Kemandirian yang dimaksud Pdt. John Christian bukan hanya soal kemandirian ekonomi, namun juga kemandirian dalam visi, teologi, dan arah pelayanan. Sehingga pengertian inilah yang ingin dibangun bersama bagi seluruh warga dan pelayan di GKPS, sehingga sebagai gereja, GKPS tidak hanya mandiri namun juga produktif dan menghasilkan buah panggilan imannya.
Mendengar penjelasan martangkupas yang disampaikan Ephorus, peserta semakin bersemangat menggali dan mendalami makna martangkupas, sehingga kata tersebut tidak sebatas slogan melainkan diwujudkan dalam kehidupan berjemaat.
Di sesi diskusi Ephorus menekankan salah satu cara GKPS memaknai martangkupas adalah dengan menghidupkan kembali warisan iman dari pendahulu GKPS, yakni parjumatanganan.
Peserta menyetujui hal yang disampaikan Ephorus. Beberapa dari peserta yang diberi kesempatan berbicara mengungkapkan bahwa melalui pelayanan parjumatanganan, mereka merasakan terberkati dan pelayanan tersebut membawa dampak yang positif dalam kehidupan berjemaat. Seperti yang disampaikan St. Saritua Sinaga, dengan adanya parjumatanganan, ia pribadi semakin tertantang memperlengkapi diri dan memberikan pelayanan yang terbaik bagi jemaat.
Masih menurut Sintua di GKPS Kabanjahe ini, melalui pelayanan parjumatanganan, terjadi peningkatan yang signifikan terhadap kehadiran jemaat di dalam peribadahan.

Di akhir pertemuan pertama GKPS Marguru Tahap III, Pdt. Dian Putra menyimpulkan bahwa semangat martangkupas mendorong para pelayanan di GKPS semakin kreatif memikirkan gereja yang martangkupas, yang tidak hanya untuk jemaatnya sendiri namun juga GKPS secara umum.
Sebelum ditutup di dalam doa, Litbang GKPS membagikan satu buah buku sebagai doorprize kepada satu dari serratus orang peserta. Buku tersebut diharapkan menjadi pemantik untuk semakin memahami GKPS. (hks/bgs)
Pewarta dan Foto: Pdt. Fran Purba