Renungan Mingguan Namaposo GKPS, Minggu, 13 Juli 2025 (4 Set. Trinitatis)
Nas : Galatia 1:11-24
Usul Doding : Hal.No. 299:1-2
Tema : Paulus Menerima Panggilan Tuhan Menjadi Rasul
Tujuan : Agar Namaposo mengetahui cara Tuhan memanggil Paulus menjadi rasul dan melanjutkan misi pemberitaan Injil.
MENGIKUTI PANGGILAN ALLAH
Apa yang kita pikirkan ketika mendengar nama Paulus? Hampir dari kita semua pasti sudah mendengar kisah daripada Rasul Paulus. Dimana Rasul Paulus yang kita kenal melalui cerita-cerita yang ada di Alkitab, cerita tentang perjalanan imannya yang luar biasa. Dari seorang pemburu umat percaya menjadi penggembala bagi yang sesat dan tak mengenal Yesus. Sebelum pertobatannya ia dikenal sebagai orang Farisi yang sangat taat dan giat mempertahankan hukum Taurat, ia juga merupakan seorang warga negara Romawi yang mahir dalam budaya Yahudi. Karena ketaatannya pada Hukum Taurat ia sangat menolak keras pengajaran yang Yesus berikan, sehingga ia menganiaya bahkan membunuh orang-orang yang percaya kepada Yesus. Salah satu pengikuti Kristus yang mati martir oleh kekejaman Saulus adalah Stefanus (Kis. 7:58-8:3). Namun kisah pembunuhan dan penganiayaan yang dilakukannya di masa lalu bukanlah menjadi fokus kita atas kehidupan Paulus tetapi pertobatan yang dialaminya. Tidak hanya berpaling dari kehidupan lamanya, ia menjadi pengikut setia Kristus bahkan menjadi salah satu rasul yang Yesus pilih dalam memberitakan keselamatan yang Yesus janjikan bagi dunia.
Saudara-saudari yang terkasih dalam nama Yesus, sering sekali kita mendengar seseorang yang bertobat mengisahkan kesaksian hidupnya di masa lalu, tidak ada yang salah akan hal tersebut. Kesaksian yang disampaikan itu merupakan bukti subjektif dari kuasa Injil yang mengubahkan hidup. Dalam kitab Galatia, khususnya pada pasal 1:11-24 menunjukkan bahwa Rasul Paulus memberikan suatu pelajaran bahwa bukti subjektif saja tidak cukup, tetapi juga membutuhkan bukti secara objektif yang meneguhkan fondasi iman kita. Artinya kita membutuhkan sikap jujur, tidak mudah dipengaruhi pendapat orang lain dan teguh dalam mengambil suatu keputusan dan tindakan yang dilandakan fakta yang terjadi bukan tergantung pada kondisi hati dan perasaan kita sendiri.
Dalam konteks firman Tuhan hari kita diajak untuk memahami panggilan Tuhan kepada Paulus. Dalam ayat 11-12 mengatakan ‘Injil yang kuberitakan itu bukan lah injil manusia’ ini menyiratkan bahwa Paulus menyampaikan firman yang telah ia dengar langsung dari Kristus, bukan dari manusia. Injil itu berasal dari ‘penyataan Yesus Kristus’. Namun dalam Kis. 9:3-8 tidak ada menunjukkan bahwa Kristus mengajar Paulus tetapi Yesus menyatakan diriNya kepada Paulus
Dalam pemberitaan injil Paulus tidak menjadi pemberita injil yang meniru para Rasul pendahulunya. Riwayat hidupnya membuktikan hal tersebut pertama ia dahulu merupakan seorang Yahudi saleh yang sekaligus penganiaya jemaat Kristus, namun Allah memilih dia sejak semula, secara langsung menugaskannya untuk memberitakan injil kepada bangsa-bangsa non-yahudi. Kedua, Paulus belajar langsung dari Allah sebelum ia bertemu dengan rasul Petrus dan tokoh gereja lainnya di Yerusalem. Pertemuan Paulus dengan Tuhan lah yang mengubah Paulus penganiaya menjadi pemberita injil yang sejati. Pertemuan Paulus dengan Kristus menjadikan injil sebagai otoritas yang berasal dari Allah, sehingga tidak dapat diragukan atau diubah oleh manusia. Sehingga ia juga menekankan bahwa panggilan Allah tidak dapat dibatalkan oleh manusia. Kita harus memahami bahwa panggilan Allah dalam hidup kita adalah unik dan tidak dapat digantikan.
Pada ayat ini Paulus bertujuan agar jemaat Galatia menjadi yakin, ia memberikan riwayat hidup tentang kredibilitas keyahudiannya. Paulus sangat pandai dalam menafsirkan taurat. Sebelum mengenal Yesus, ia melampaui rekan-rekannya sebagai seorang Yahudi teladan. Ia disebut sebagai teroris agama, seorang yang menghancurkan orang-orang yang ia yakini menentang jalan Tuhan (1 Kor. 15:3-10). Segala sesuatu berubah ketika Allah ‘berkenan menyatakan AnakNya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi’. Perubahan dramatis terjadi dan sekarang Paulus memberitakan iman yang pernah ia coba hancurkan.
Pada nas firman Tuhan hari ini juga menunjukkan perubahan hidup dari rasul Paulus. Dalam ayat 13-17 dikatakan ‘kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi’. Rasul Paulus membagikan pengalaman hidupnya sebelum dan sesudah bertemu dengan Yesus Kristus. Ia menekankan bahwa perubahan hidupnya bukanlah karena usaha manusia, melainkan karena kasih karunia Allah. Kita harus memahami bahwa perubahan hidup kita dimulai dari kasih karunia Allah. Kesaksian yang disampaikan Paulus memberikan efek yang pertama dia mengaku maju dalam Hukum Taurat yang dibanggakan pengajar sesat tetapi hal itu malah membawa dia untuk menganiaya jemaat Allah. Kedua, panggilan Allah atas hidupnya dialami bukan dalam ketaatannya terhadap Hukum Taurat, melainkan ketika Yesus berjumpa dengan dia. Di sini kita melihat sifat injil sebagai kasih karunia: Paulus dipilih di kandungan ibunya sebelum dia berbuat baik atau buruk, dan dijumpai Kristus ketika dia telah berbuat buruk dengan menjadi musuh Allah. Ketiga, seperti nabi Yeremia yang dipanggil untuk menjadi nabi bagi bangsa-bangsa, Allah merencanakan kerasulan Paulus sejak dia dikandung. Beda dengan imam dan raja, nabi-nabi dipanggil di luar lembaga-lembaga Israel. Karena dipanggil langsung oleh Allah melalui penyataan diri Yesus. Paulus tidak perlu pergi ke Yerusalem supaya kerasulannya mereka teguskan. Injil yang disampaikannya tidak bergantung pada mereka.
Saudara-saudari yang terkasih ayat 18-20 menunjukkan kepada kita bahwa hubungan antara Paulus dengan para rasul lainnya bersifat terbatas, menunjukkan bahwa Injil yang ia beritakan tidak bergantung pada ajaran manusia, tetapi sepenuhnya berasal dari Allah. Paulus ingin menunjukkan kepada jemaat Galatia bahwa pesan Injil yang ia sampaikan kepada mereka bukanlah sesuatu yang ia pelajari dari manusia. Ia tidak menerima Injil dari para rasul lain, sehingga ia tidak berada di bawah mereka. Pesan Injil itu ia terima langsung dari Tuhan yang bangkit dan naik ke surga. Pesan itu tidak diubah sedikit pun.
Pertama, Paulus pergi ke Arab. Di sana, tampaknya ia menghabiskan tiga tahun untuk belajar dan memberitakan Injil. Selama itu, ia punya banyak waktu untuk menyendiri, merenungkan pengalaman pertobatannya, membaca Kitab Perjanjian Lama, dan memahami bahwa semuanya berbicara tentang Yesus Kristus. Ini juga menjadi tanda bahwa seseorang benar-benar telah bertemu dengan Yesus: Yesus tetap nyata dalam hidup Anda, bahkan ketika Anda sendirian. Di antara pertemuan dengan orang lain, Anda tetap merindukan hubungan dan persekutuan dengan Allah. Jadi, tiga tahun itu seperti “seminari” Paulus. Di masa itu, ia menunjukkan bahwa baik pesan Injil maupun panggilannya sebagai rasul benar-benar bebas dari pengaruh manusia mana pun.
Kedua, Paulus pergi ke Yerusalem dan menghabiskan waktu 15 hari di sana. Tujuannya bukan untuk menerima Injil dari Kefas (Petrus). Waktu 15 hari jelas tidak cukup untuk itu. Ia hanya pergi untuk “mengunjungi Kefas” – untuk bertemu dan mengenalnya. Selain itu, sebagian besar waktunya di sana dihabiskan untuk memberitakan Injil (Kisah Para Rasul 9:28-29). Terakhir, Paulus pergi ke daerah Siria dan Kilikia. Selama tahun-tahun itu, Paulus tidak pernah bertemu dengan jemaat-jemaat di Yudea (ayat 23-24). Kunjungan Paulus berikutnya ke Yerusalem terjadi 14 tahun setelah pertobatannya (Galatia 2:1).
Dalam Kisah Para Rasul 8, kita tidak membaca tentang Paulus, tetapi tentang Saulus – nama yang ia gunakan sebelum pertobatannya. Saulus adalah penganiaya jemaat, yaitu gereja yang didirikan oleh Kristus melalui kematian-Nya! Bayangkan saja itu. Ia mungkin adalah penganiaya Kristen paling terkenal setelah kematian dan kebangkitan Kristus. Namun, tanggapan Kristus sangat cepat dan pasti. Yesus menghancurkan Saulus. Ia menghancurkan kesombongan Saulus. Ia menghancurkan tujuan hidup Saulus. Ia menghancurkan misi Saulus. Pada akhirnya, Yesus menghancurkan seluruh kehidupan Saulus. Segala sesuatu yang Saulus tahu dan perjuangkan dihancurkan.
Tapi apa yang ia terima sebagai gantinya jauh lebih berharga. Setelah bertahun-tahun berusaha keras untuk terlihat lebih benar di hadapan manusia dibanding rekan-rekannya, Paulus akhirnya berkata bahwa semua itu tidak ada artinya dibandingkan dengan kebenaran dari Kristus – sebuah kebenaran yang tidak pernah bisa hilang. Paulus menerima hidup yang kekal. Ia menerima Injil untuk diberitakan. Yesus Kristus memenangkan hati Paulus dan mengubah dunianya.
Saudara-saudariku yang terkasih perlu kita ketahui bahwa sebenarnya tidak ada yang layak Paulus terima, ia cenderung menolak semuanya. Tetapi apa yang terjadi? Ia menerimanya, ia meninggalkan hidup lamanya segera setelah bertemu dengan Kristus. Pemanggilan Allah kepad Paulus melalui penyataan Kristus mampu mengalahkan penolakan yang dialami Paulus. Pemanggilan itu juga mengubah cara Paulus melihat segala sesuatu saulus seharusnya dihukum mati, tetapi ia justri diberi hidup. Saulus berniat menghancurkan gereja, tetapi Allah malah menjadikannya salah satu tiang penopang gereja. Demikian pula lah kita, kita tidak layak menerima segala kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Kita sering mengabaikan panggilanNya dalam kehidupan kita, bahkan kita cenderung memilih melakukan kesalahan yang berulang-ulang. Mematikan keberimanan kita dengan kehidupan yang semakin jauh dari Allah. Maka dari itu jadilah seperti Paulus yang pada awalnya menolak Kristus dan ajaranNya bahkan menjadi pemburu para pengikutnya, namun ketika Allah memanggil dan mengutusnya menjadi rasul, ia memilih menerima dan menjalankannya. Kita pun harus lah demikian, tinggal segala kesalahan dan kerusakan iman kita serta berpaling kepada Bapa dan menerima panggilanNya.
Saudara-saudariku apakah saudara melihat diri sendiri dalam cerita ini? Meskipun saudara mungkin tidak menganiaya gereja seperti Paulus, saudara tetap membutuhkan pertobatan seperti Paulus. Apakah saudara menyadari pekerjaan Allah dalam hidup saudara? Jika belum, hari ini adalah hari keselamatan. Jangan menunggu lebih lama lagi! Berbaliklah kepada Kristus tanpa ragu! Pengalaman saudara mungkin tidak persis seperti Paulus, tetapi saudara harus menyadari bahwa saudara adalah orang berdosa dan percaya kepada Yesus Kristus. Jika saudara telah menerima Kristus, maka muliakanlah Allah atas pekerjaan yang telah Dia lakukan dalam hidupmu. Berusahalah untuk mengenal Dia sebagaimana Dia dinyatakan dalam firman-Nya. Tambahkan pada pertobatanmu bukti dari kehidupan yang telah diubah. Perubahan itu mungkin tidak selalu cepat dan dramatis. Tetapi perubahan itu harus ada. Kita mungkin tidak menerima tugas kerasulan seperti Paulus, tetapi setiap pengikut Yesus Kristus telah diberi misi oleh-Nya. Pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Nya! Lakukan pekerjaan Kerajaan Allah di mana pun kamu berada. Karena kita adalah namaposo, tunas na majenges cikal bakal gereja, yang menerima tongkat estafet kepemimpinan di gereja ini. Persiapkan diri untuk menerima panggilan Allah menjadi pewaris kerajaanNya. Amin