Sumber gambar: https://inigoway.com/tag/kekudusan-keluarga/
Pengantar
Dalam iman Kristen, keluarga adalah “gereja kecil” (ecclesia domestica), disitulah nilai iman Kristen pertama kali diajarkan dan dihidupi. Keluarga adalah anugerah Allah yang paling dekat dengan kehidupan manusia. Gereja memandang keluarga sebagai tempat utama perjalanan iman dan jalan menuju kekudusan.
Jalan kekudusan bukan sesuatu yang abstrak atau hanya urusan altar, tetapi dijalani sehari-hari dalam keluarga. Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat, namun memiliki peranan yang sangat besar dalam membentuk iman, karakter, dan kepribadian manusia.
Dalam perspektif iman Kristen, keluarga bukan sekadar institusi sosial, melainkan tempat pertama dan utama di mana manusia belajar mengenal Allah, mengalami kasih, dan dipanggil untuk hidup dalam kekudusan. Kekudusan tidak hanya dimengerti sebagai kehidupan religius yang terpisah dari dunia, tetapi sebagai cara hidup yang setia, bertanggung jawab, dan penuh kasih dalam relasi sehari-hari, terutama di dalam keluarga.
Dalam konteks kehidupan masyarakat Simalungun, keluarga dan kekerabatan memiliki makna yang sangat dalam dan memiliki posisi yang sangat sentral. Nilai falsafah Simalungun “Habonaron do Bona” (kebenaran adalah dasar hidup) mengajarkan bahwa hidup harus dijalani dengan jujur, adil, dan bertanggung jawab. Nilai ini sejalan dengan firman Tuhan yang tertulis dalam Mikha 6:8: “Hendaklah kamu berlaku adil. Mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati dihadapan Allahmu”. Selain itu falsafah tentang “tolu sahundulan lima saodoran”, gotong royong dan kebersamaan dalam suka dan duka. Hal ini berpadanan juga dengan firman Tuhan yang tertulis dalam Roma 12: 10, “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat”.
Hubungan kekerabatan saling menghormati peran dan relasi budaya Simalungun menjunjung tinggi nilai kebersamaan, hormat kepada orang tua, kesetiaan dalam relasi, serta tanggung jawab antar anggota keluarga dan marga. Nilai-nilai ini sejalan dengan ajaran iman Kristen tentang keluarga sebagai tempat pembentukan iman dan jalan menuju kekudusan, oleh karena itu, mengkaji keluarga sebagai jalan kekudusan dengan menkaitkannya pada budaya Simalungun menjadi sangat relevan, khususnya bagi keluarga-keluarga Kristen Simalungun di tengah tantangan zaman modern.
Perspektif Iman Kristen Tentang Keluarga
Alkitab sejak awal menempatkan keluarga sebagai rancangan Allah sendiri. Dalam Kitab Kejadian, Allah menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan, lalu memberkati mereka untuk hidup bersama dan beranak cucu: “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu.” (Kejadian 1:28). Ayat ini menunjukkan bahwa keluarga adalah sarana Allah untuk melanjutkan kehidupan dan menghadirkan kasih-Nya di dunia. Keluarga bukan hanya tempat pemenuhan kebutuhan biologis, tetapi ruang di mana manusia belajar tanggung jawab, kesetiaan, dan ketaatan kepada Allah.
Dalam Perjanjian Baru, keluarga juga dipahami sebagai tempat pendidikan iman. Rasul Paulus menasihati: “Hai bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” (Efesus 6:4). Ayat ini menegaskan bahwa keluarga adalah “sekolah iman” pertama. Orang tua dipanggil menjadi pendidik iman, teladan kasih, dan pembimbing rohani bagi anak-anak. Dengan demikian, keluarga menjadi jalan konkret menuju kekudusan, karena di sanalah iman dihidupi dalam keseharian.
Makna Kekudusan Dalam Kehidupan Keluarga.
Kekudusan sering dipahami secara sempit sebagai kesalehan pribadi atau ketaatan terhadap aturan-aturan agama. Namun Alkitab menunjukkan bahwa kekudusan juga berkaitan erat dengan relasi. Rasul Petrus mengatakan, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1 Petrus 1:16). Panggilan untuk hidup kudus berarti meneladani karakter Allah yang penuh kasih, setia, adil, dan benar. Dalam konteks keluarga, kekudusan terwujud melalui kasih antara suami dan istri, kesetiaan dalam pernikahan, tanggung jawab orang tua terhadap anak, serta sikap saling menghormati antar anggota keluarga. Rasul Paulus menegaskan relasi suami-istri sebagai gambaran relasi Kristus dan jemaat: “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” (Efesus 5:25). Kasih yang rela berkorban ini menjadi dasar kekudusan dalam keluarga. Kekudusan tidak lahir dari kesempurnaan, melainkan dari kesediaan untuk saling mengampuni, setia dalam kesulitan, dan bertumbuh bersama dalam iman.
Keluarga Dalam Budaya Simalungun.
Dalam budaya Simalungun, keluarga dipahami bukan hanya sebagai hubungan orang tua dan anak, tetapi sebagai jaringan relasi yang luas, meliputi marga dan kerabat. Sistem kekerabatan Simalungun menekankan nilai “marsahap” (kebersamaan), “habonaron do bona” (kebenaran sebagai dasar), dan “horja” (tanggung jawab sosial).
Orang tua dalam budaya Simalungun memiliki peran penting sebagai teladan moral dan penjaga nilai adat. Anak-anak diajarkan untuk menghormati orang tua dan leluhur, menjaga nama baik keluarga, serta hidup selaras dengan adat. Nilai ini sejalan dengan perintah Allah: “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu.” (Keluaran 20:12). Penghormatan kepada orang tua dalam budaya Simalungun bukan sekadar kewajiban sosial, tetapi sarana pembentukan karakter. Sikap hormat, patuh, dan bertanggung jawab membentuk pribadi yang rendah hati dan siap hidup dalam kekudusan.
Keluarga Sebagai Tempat Pewarisan Iman Dan Budaya.
Keluarga Simalungun Kristen memiliki peran ganda, yaitu mewariskan iman Kristen sekaligus nilai-nilai budaya. Dalam keluarga, anak-anak belajar berdoa, membaca Alkitab, dan mengenal Tuhan, sekaligus belajar adat, bahasa, dan nilai luhur Simalungun. Hal ini sejalan dengan perintah Tuhan kepada umat Israel: “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu,apabila engkau dalam perjalanan,apabial engkau berbaringdan apabila engkau bangun.” (Ulangan 6:6–7).
Pewarisan iman tidak hanya dilakukan melalui pengajaran verbal, tetapi terutama melalui teladan hidup. Ketika orang tua hidup jujur, setia, dan bertanggung jawab, anak-anak akan melihat kekudusan sebagai sesuatu yang nyata dan dapat dihidupi.
Dalam budaya Simalungun, konsep “habonaron” (kebenaran) sangat dijunjung tinggi. Nilai ini sejalan dengan ajaran Yesus yang berkata: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” (Yohanes 14:6). Dengan demikian, keluarga Simalungun Kristen dipanggil untuk menjadikan Kristus sebagai pusat kehidupan keluarga, sehingga nilai adat dan iman saling memperkaya, bukan saling bertentangan.
Tantangan Bagi Keluarga Di Zaman Modern
Perkembangan zaman membawa tantangan besar bagi keluarga, termasuk keluarga Simalungun. Individualisme, kesibukan kerja, pengaruh teknologi, dan perubahan nilai sering kali melemahkan relasi keluarga. Waktu bersama semakin berkurang, komunikasi menjadi dangkal, dan pendidikan iman sering diserahkan sepenuhnya kepada gereja atau sekolah. Dalam situasi ini, keluarga Kristen dipanggil untuk kembali menyadari perannya sebagai jalan kekudusan.
Rasul Paulus mengingatkan: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu.” (Roma 12:2). Nilai budaya Simalungun yang menekankan kebersamaan dan tanggung jawab bersama dapat menjadi penangkal terhadap individualisme modern. Dengan menghidupkan kembali kebiasaan makan bersama, doa keluarga, dan musyawarah, keluarga dapat menjadi ruang pertumbuhan iman dan kekudusan.
Keluarga Sebagai Gereja Kecil (Gereja Na Etek-Etek)
Gereja sering disebut sebagai keluarga Allah, namun keluarga juga dapat dipahami sebagai gereja kecil (gereja na etek-etek). Di dalam keluargalah doa pertama dipanjatkan, firman Tuhan dibacakan, dan kasih Kristus dipraktikkan secara nyata. Yesus berkata: “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Matius 18:20)
Ketika keluarga berkumpul dalam doa dan kasih, Kristus hadir dan menguduskan relasi-relasi di dalamnya. Dalam budaya Simalungun, kebersamaan keluarga menjadi kekuatan untuk menghadapi kesulitan hidup. Jika kebersamaan ini diterangi oleh iman Kristen, keluarga sungguh menjadi jalan kekudusan yang hidup dan relevan.
Peran Pastoral Gereja Dalam Keluarga, Jalan Kekudusan
Pada akhirnya, keluarga Kristen bukan hanya milik dirinya sendiri, melainkan bagian dari tubuh Kristus yang hidup di tengah gereja dan masyarakat. Setiap keluarga membawa cerita, luka, harapan, dan pergumulan yang nyata. Ada keluarga yang sedang berjuang mempertahankan kesatuan, ada orang tua yang letih membesarkan anak di tengah tekanan zaman, ada pasangan yang belajar kembali mengasihi di tengah keterbatasan. Gereja dipanggil untuk hadir bukan sebagai hakim, melainkan sebagai gembala yang berjalan bersama, mendengar dengan hati, dan menopang dengan kasih Kristus.
Peran pastoral gereja menjadi sangat penting dalam meneguhkan keluarga sebagai jalan kekudusan. Gereja dipanggil untuk mendampingi keluarga dalam setiap tahap kehidupan dari persiapan pernikahan, pembinaan orang tua, pendampingan anak dan remaja, hingga penguatan keluarga dalam masa krisis. Seperti Yesus Sang Gembala yang Baik, gereja dipanggil untuk mengenal domba-dombanya satu per satu, termasuk keluarga-keluarga yang lemah, tersisih, atau terluka. “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah.” (1 Petrus 5:2)
Dalam konteks keluarga Kristen Simalungun, pelayanan pastoral gereja juga berarti menghargai dan menghidupi nilai-nilai budaya yang luhur kebersamaan, musyawarah, dan tanggung jawab bersama seraya meneranginya dengan terang Injil. Gereja tidak memisahkan iman dari kehidupan keluarga sehari-hari, tetapi menolong keluarga melihat bahwa di meja makan, di ladang kerja, dalam adat, dan dalam doa-doa sederhana di rumah, Allah sedang bekerja dan menguduskan mereka. Keluarga yang mungkin merasa jauh dari kata “kudus” justru adalah keluarga yang paling membutuhkan sentuhan pastoral gereja. Sebab kekudusan bukanlah tentang keluarga yang tanpa masalah, melainkan tentang keluarga yang mau berjalan bersama Tuhan, setia bertumbuh, dan tidak menyerah satu sama lain.
Gereja hadir untuk mengingatkan bahwa kasih Allah lebih besar daripada kegagalan manusia, dan bahwa setiap keluarga selalu memiliki harapan di dalam Kristus. Kiranya setiap keluarga Kristen menyadari bahwa panggilan menuju kekudusan tidak harus dimulai dari hal besar, tetapi dari kesetiaan dalam hal kecil: doa yang sederhana, pengampunan yang tulus, kesediaan untuk mendengar, dan keberanian untuk mengasihi. Dan kiranya gereja setia menjadi rumah yang aman, tempat keluarga-keluarga menemukan kekuatan baru untuk terus berjalan. Dengan demikian, keluarga dan gereja berjalan bersama sebagai satu persekutuan kasih, saling menopang dalam iman, hingga melalui kehidupan keluarga, nama Tuhan dimuliakan dan kasih-Nya nyata bagi dunia.
Keluarga adalah anugerah Allah sekaligus panggilan. Dalam keluarga, manusia dipanggil untuk menghidupi kasih, kesetiaan, pengorbanan, dan tanggung jawab. Semua ini merupakan wujud nyata dari kekudusan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks budaya Simalungun, nilai-nilai adat seperti kebersamaan, kebenaran, dan penghormatan kepada orang tua sejalan dengan ajaran iman Kristen dan dapat menjadi sarana yang kuat untuk membangun keluarga yang kudus. Oleh karena itu, keluarga Simalungun Kristen dipanggil untuk menjaga dan menghidupkan iman serta budaya secara seimbang, dengan Kristus sebagai pusat. Dengan demikian, keluarga bukan hanya tempat bertumbuh secara jasmani dan sosial, tetapi sungguh menjadi jalan kekudusan, tempat Allah dimuliakan melalui kehidupan sehari-hari. (hks/bgs)
Pdt. Renni H Damanik. M.Si, M.Min