Pendahuluan
Ketika seseorang ingin memasuki dunia Perkawinan, tentulah ia membayangkan, mengharapkan dan mendoakan untuk mendapatkan kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan. Mungkin tidak ada orang yang membayangkan apalagi mengharapkan Perkawinannya akan berjalan dalam konflik, pertikaian dan pertengkaran. Akan tetapi perjalanan Perkawinan tidak selalu mulus. Ada hari-hari yang dilalui dalam kebersamaan dengan canda tawa dan kebahagian, namun ada juga hari yang diwarnai dengan perbedaan, kekecewaan, kesalahpahaman maupun kesedihan. Suami istri yang saling mengasihipun masih juga dimungkinkan untuk melakukan tindakan menyakiti dan tersakiti. Konflik sering terjadi bahkan terpicu oleh hanya karena persoalan sepele. Semua itu disebabkan oleh fakta bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Setiap pribadi memiliki kekurangan atau kelemahan. Karena tidak ada pribadi yang sempurna maka tidak ada pula Perkawinan yang sempurna.
Sebagai pribadi yang tidak sempurna, suami atau istri pasti pernah mengucapkan perkataan bahkan melakukan tindakan yang mengecewakan pasangannya. Tingkat kekecewaan atau sakit hati dipengaruhi oleh tindakan apa yang dilakukan oleh pasangannya. Ada kekecewaan yang mudah untuk dimaafkan bahkan dilupakan. Akan tetapi ada juga kekecewaan bahkan lebih tepat disebut sebagai sakit hati yang sangat sulit untuk dimaafkan. Umumnya sakit hati yang disebabkan oleh perselingkuhan, kekerasan dan rumah tangga, baik verbal maupun non verbal, kebohongan yang terus berulang. Pengalaman menyakitkan tersebut disimpan di dalam hati dari tahun ke tahun. Rasa sakit yang tersimpan ini akan muncul kembali setiap ada kekecewaan baru. Luka hati yang tidak segera diselesaikan akan mengganggu jalannya kehidupan Perkawinan. Semakin lama rasa sakit hati itu disimpan, semakin dalam rasa sakitnya maka semakin sulit juga untuk mengampuninya. Lalu, apakah Perkawinan ini terus dilanjutkan dengan rasa kecewa dan sakit hati yang tidak terselesaikan?
Penjelasan
Pentingnya Mengampuni Dalam Perkawinan
Di dalam Matius 19:6 disebutkan “Demikianlah mereka bukan dua, melainkan satu. Karena itu apa yang telah dipersatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia”. Nas ini menjadi dasat Perkawinan Kristen. Firman ini menegaskan bahwa Perkawinan Kristen adalah Perkawinan sekali seumur hidup, sampai maut memisahkan. Doa dan harapan kita, hidup Perkawinan lebih lama dari pada hidup dengan status sendiri.
Di sepanjang perjalanan hidup Perkawinan akan sering sekali terjadi benturan dalam pertemuan dua pribadi yang berbeda. Menyatukan dua pribadi yang berbeda bukanlah hal yang mudah. Perkawinan bukan perjumpaan dua pribadi yang sudah selesai dengan dirinya. Perkawinan adalah proses pertumbuhan bersama dari dua pribadi yang sama sama bertumbuh pula secara pribadi. Situasi inilah yang menjadikan menit dalam Perkawinan rawan kekecewaan dan sakit hati. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana menjalani kehidupan Perkawinan bila tidak ada pengampunan? Apakah hari-hari akan dilalui dengan rasa kecewa yang tersimpan di dalam hati?
Kemauan dan kemampuan mengampuni sangat dibutuhkan dalam perjalanan kehidupan Perkawinan. Setiap kali terjadi kekecewaan diharapkan untuk segera mengampuni. Pengampunan bukan hanya untuk persoalan yang besar. Salah bicara memerlukan pengampunan. Janji tidak ditepati membutuhkan pengampunan. Jika rasa kecewa karena persoalan kecil saja memerlukan pengampunan terlebih lagi rasa sakit hati yang disebabkan oleh persoalan yang besar, tentulah memerlukan pengampunan.
Mengapa memerlukan pengampunan? Mengapa bukan “memerlukan permohonan maaf”? Bukankah seharusnya orang yang telah menyakiti hati-lah yang seharusnya mohon maaf sehingga mendapatkan pengampunan? Itulah yang umum terjadi. Namun tidak demikian yang diperintahkan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus memerintahkan kita untuk mengampuni seperti Tuhan Yesus mengampuni kita. Di dalam Matius 5:19 disebutkan, Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. Dari kalimat ini sangat jelas bahwa manusia sama sekali belum minta maaf. Jangankan untuk minta maaf, menyadari tindakan tersebut sebagai dosa saja pun tidak. Namun Yesus sebagai Anak Allah meminta Bapa untuk mengampuni manusia yang berdosa itu. Itu artinya Tuhan Yesus sudah mengampuni manusia sebelum manusia mohon pengampunan kepada Tuhan. Nas ini mengajarkan kita pengampunan tidak didasarkan pada permohonan maaf. Tanpa permohonan maaf pun seharusnya pengampunan sudah diberikan. Kita harus mengampuni walau belum ada permohonan maaf dari pasangan yang menyakiti hati kita.
Arti Mengampuni
Dalam kehidupan Perkawinan juga sering ditemukan adanya sikap diam (Silent Treatment). Suami atau istri bersikap diam dan menarik, membatasi atau menghentikan komunikasi sebagai bentuk perlawanan terhadap pasangan yang menyakitinya. Jika ditanya mengapa diam? Jawabannya adalah “Saya butuh waktu untuk mengelola hati”. Orang yang sedang sakit memang memerlukan ruang dan waktu untuk mengelola perasaannya. Akan tetapi tindakan diam atau Silent treatment bukan diam untuk memenangkan hati, melainkan diam yang menghukum dan menghakimi. Pasangan yang melakukan Silent treatment sama sekali belum mengampuni pasangannya.
Pengampunan harus nyata dalam perbuatan. Mengampuni tidak semudah mengucapkannya. Dalam pengampunan, ada hati yang perlu ditata kembali, ada relasi yang harus diperbaharui, ada kepercayaan yang harus dibangun kembali. Mengampuni bukan berarti mengatakan bahwa apa yang diperbuat pasangan itu benar. Mengampuni bukan berarti menyetujui perbuatan tersebut. Mengampuni bukan berarti kita membenarkan hal itu terjadi dan mengijinkan pelakunya untuk berbuat lagi. Mengampuni bukan berarti menganggap bahwa kesalahan itu tidak pernah terjadi. Justru pengabaian seperti menjadikan rasa sakit itu semakin tersimpan rapi di dalam hati. Mengampuni bukan berarti menghilangkan seluruh konsekuensi. Mengampuni bukan berarti mengabaikan rasa sakit hati. Mengampuni adalah keputusan iman untuk tidak membiarkan kesalahan terus terjadi menghancurkan pelaku kesalahan dan melukai dan menimbulkan kepahitan bagi orang lain. Mengampuni adalah mengakui bahwa kita tersakiti. Mengampuni adalah ketika kita yang tersakiti melepaskan hak dan keinginan untuk membalasnya. Sebenarnya setiap orang punya kemampuan untuk membalas dan menjadikan orang lain terluka. Pribadi yang mengampuni adalah orang yang mau melepaskan niat pembalasan dan menyerahkannya kepada Tuhan sebab Tuhanlah yang berhak atas pembalasan. Dalam Roma 12:19 disebutkan “Saudara-saudaraku yang terkasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan. Mengampuni adalah kemampuan kita untuk melepaskan hati dari kepahitan dan memilih hidup dalam damai sejahtera.
Dasar Teologis Pengampunan
Mengampuni dalam Perkawinan bukan sekedar agar hubungan suami istri bisa kembali harmonis. Mengampuni pasangan adalah konsekuensi dari iman kita kepada Tuhan. Kita mengampuni pasangan kita karena Tuhan sendiri yang memerintahkannya. Di dalam surat Efesus 4:32 disebutkan “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. Tuhan memerintahkan kita untuk saling mengampuni. Tuhan memberi perintah ini kepada manusia sebab Tuhan sudah lebih dahulu mengampuni manusia. Bahkan Tuhan mengampuni kita ketika kita masih di dalam dosa. Di dalam Roma 5:8 disebutkan “Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa”. Pengampunan dari Tuhan Yesus adalah pengampunan tanpa syarat. Tuhan tidak menunggu kita bertobat dan berubah terlebih dahulu untuk diampuniNya. Tuhan mengampuni kita saat masih di dalam dosa. Orang yang sudah diampuni dipanggil untuk memberikan pengampunan. Pengampunan seperti pengampunan Tuhan Yesus itulah yang diperintahkan untuk diberlakukan dalam kehidupan Perkawinan.
Mengampuni adalah sikap rohani orang yang mengasihi. Jika kita memiliki kasih, kita pasti mampu mengampuni. Jika kita memiliki kasih maka kita tidak akan menyimpan kesalahan orang lain di dalam hati kita. Seperti yang tertulis di dalam 1 Korintus 13:5 “Ia (Kasih) tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia (Kasih) tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Mengapa mengampuni terasa berat dan sulit?
Sekalipun kita sudah mengetahui dengan jelas bahwa mengampuni adalah perintah langsung dari Tuhan Yesus kepada kita tetapi kita sering merasa sulit dan berat untuk mengampuni. Terkadang, rasa sakit itu tidak begitu dalam, namun kita enggan untuk mengampuni. Kita merasa bahwa harga diri kita tercabik-cabik jika kita mengampuni apalagi tanpa didahului oleh permohonan maaf dari pasangan kita. Kita sering terjebak dalam pola pikir, “dia yang salah seharusnya dia yang mohon maaf, kemudian mendapatkan pengampunan”. Namun Tuhan tidak memerintahkan kita untuk menunggu permohonan maaf sebab Tuhan juga sudah mengampuni kita sebelum kita mohon ampun kepadaNya, bahkan sebelum kita menyadari bahwa kita telah berdosa di hadapanNya.
Selain itu, kita juga sulit memberi pengampunan atas kesalahan yang berulang dilakukan. Kita merasa dimanfaatkan. Kita merasa sia-sia memaafkan karena kesalahan yang sama terulang kembali. Kesalahan yang berulang-ulang itu kita hitung dan hitung lagi. Karena terus berulang maka kita tidak lagi mengampuni karena merasa sudah berkali-kali mengampuni. Jika dalam posisi ini kita harus ingat bahwa mengampuni adalah gaya hidup orang yang memiliki kasih dan itu berlangsung seumur hidup. Mengampuni tidak hanya untuk satu kali, dua kali, tiga kali tetapi terus berkali kali di sepanjang hidup. Di dalam Matius 18:21-22 kita menemukan jawaban Tuhan Yesus atas pertanyaan Petrus tentang sampai berapa kali harus mengampuni? Jawab Yesus “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Kita harus terus mengampuni sampai kita tidak ingat lagi berapa kali kita sudah mengampuninya karena terus mengampuninya.
Ketika kita merasa sulit untuk mengampuni (dari pengalaman proses konseling yang penulis lakukan, perselingkuhan menempati nomor pertama dalam daftar dosa yang sulit diampuni) maka pandanglah salib Yesus. Jika Yesus saja bersedia mengampuni dosa kita dan memberi diriNya menjadi kurban keselamatan bagi kita, bagaimana mungkin kita bertahan untuk tidak mengampuni pasangan kita sendiri? Tuhan sangat sering diduakan, dikhianati oleh umatNya namun Tuhan tetap mengampuni umatNya. Kasih pengampunan Tuhan atas perselingkuhan dan zinah yang dilakukan umatNya digambarkan dengan gambaran hidup nabi Hosea yang mengampuni, menerima dan mengasihi istrinya Gomer yang mengkhianati Perkawinannya.
Pelayanan Pastoral Gereja bagi keluarga yang berkonflik
Jika dengan mengingat firman Tuhan belum menjadikanmu mampu mengampuni pasanganmu maka jangan ragu untuk meminta pelayanan pendampingan dan konseling dari gereja. Gereja hadir untuk mewujud nyatakan kasih dan pengampunan Tuhan dalam kehidupan kita. Termasuk dalam relasi pasangan suami dan istri yang berkonflik.
Jika pembaca tulisan ini adalah pelayan gereja maka ingatlah bahwa gereja harus hadir bagi keluarga yang mengalami konflik. Gereja bukan penonton. Gereja bukan wasit bagi pasangan suami istri yang berkonflik. Gereja adalah tangan Tuhan yang penuh kasih menjamah umat yang bergumul dalam konflik dan sakit hati. Gereja harus hadir sebagai sahabat yang penuh kasih untuk menggerakkan kasih yang dimiliki pasangan suami istri yang berkonflik. Gereja harus memberi ruang bagi suami atau istri untuk mengungkapkan kekecewaan dan sakit hatinya. Gereja harus mampu mendengarkan pergumulan jemaat. Gereja harus terus menyuarakan pengampunan
Langkah-langkah pengampunan
Hal pertama yang perlu dilakukan dalam proses pengampunan adalah mengakui bahwa kita sakit hati. Jangan menyangkal perasaan sakit hati. Jangan katakan “aku tidak apa-apa” padahal sudah sakit hati. Kita tidak dapat mengubah peristiwa tersebut namun kita dapat mengubah suasana hati kita yang ditimbulkan oleh peristiwa menyakitkan itu. Maka yang pertama dilakukan adalah mengakui rasa sakit hati itu sendiri.
Selanjutnya rasa sakit hati atau kecewa itu harus diungkapkan dengan jujur dan terbuka. Utarakan kepada pasanganmu tindakan yang mana yang membuat hatimu tersakiti. Jangan biarkan pasanganmu dalam seribu tanya sebab mungkin saja dia tidak menyadari bahwa tindakannya sudah menyakitimu. Tuturkan dengan jelas peristiwa itu dan bagaimana sakitnya hatimu atas peristiwa tersebut. Penuturan tersebut akan menjadi pernyataan bahwa apa yang dilakukan pasangan tidak benar dan menimbulkan rasa sakit di hatimu. Tentu harus dipertimbangkan situasi yang tepat dan cara yang tepat untuk mengutarakan rasa sakit ini agar tidak menimbulkan sakit hati lainnya.
Setelah mengatakan rasa sakit hati, maka kita harus segera menyatakan bahwa kita mengampuninya. Hal ini sangat penting agar pasangan kita tidak terbebani dengan rasa bersalah. Selain membebaskan diri sendiri dari kepahitan, kita juga perlu memberi ruang pertobatan kepada pasangan kita. Pengampunan yang kita berikan bukan karena diri kita sendiri, bukan juga karena pasangan kita melainkan karena Tuhan Yesus yang memerintahkannya. Bila masih merasa membutuhkan waktu untuk menata hati maka perlu berkata jujur bahwa kita memerlukan ruang dan waktu untuk kembali menata hati yang kecewa, membangun kembali kepercayaan yang sempat rubuh, tanpa mengurangi makna pengampunan yang sudah kita berikan.
Buah dari pengampunan dalam Perkawinan
Walaupun mengampuni itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan akan tetapi banyak buah yang nikmat yang akan didapatkan oleh orang yang mengampuni antara lain:
- Relasi suami istri akan dipulihkan. Kasih itu akan menjadi hijau dan segar kembali seperti kasih mula-mula.
- Komunikasi akan semakin baik dan lebih terbuka. Suami dan istri akan lebih saling menjaga hati pasangannya.
- Hati bebas dari kepahitan. Hati akan dipenuhi suka cita
- Kasih akan terus bertumbuh semakin dalam dan semakin kuat
- Hidup akan lebih sehat dan lebih berbahagia sebab bebas dari kepahitan.
- Bila tindakan pengampunan itu disaksikan oleh anak-anak, maka anak-anak juga akan tumbuh dalam sikap rohani yang siap mengampuni.
- Keluarga akan semakin bersinar sehingga mampu menjadi kesaksian iman di tengah kehidupan bermasyarakat. Keluarga yang saling mengampuni akan menjadi keluarga Allah yang nyata di bumi.
Penutup
Perkawinan adalah perjalan dua orang yang sama-sama tidak sempurna. Sangat dimungkin untuk disakiti dan tersakiti. Oleh sebab itu dalam perjalanan Perkawinan pasangan suami istri harus terus belajar dan berusaha untuk bisa mengampuni. Pengampunan tidak menghapus kesalahan masa lalu. Pengampunan tidak mengubah masa lalu tetapi memberi kesempatan bagi masa depan yang baru. Masa lalu itu mungkin akan teringat kembali namun orang yang sudah mengampuni akan dapat tersenyum saat mengingat peristiwa menyakitkan tersebut.
Pengampunan dalam Perkawinan bukan terutama tentang melupakan kesalahan pasangan akan tetapi lebih mengingat kasih Kristus yang sudah mengampuni kita sehingga kita selalu teguh dalam komitmen untuk tetap mengampuni pasangan walau seberat apapun kesalahan yang ia lakukan.
Penulis : Pdt. Juniati Saragih, MSi