Skip to content

SINODE GKPS

Primary Menu
  • Beranda
  • TENTANG GKPS
    • KANTOR SINODE GKPS
    • PIMPINAN SINODE GKPS
    • VISI GKPS 2011-2030
    • STRUKTUR ORGANISASI KANTOR SINODE
    • TATA GEREJA DAN TATA LAKSANA GKPS
    • PERATURAN RUMAH TANGGA GKPS
  • LOGO TAHUN GKPS
    • LOGO TAHUN 2008
    • LOGO TAHUN 2009
    • LOGO TAHUN 2010
    • LOGO TAHUN 2011
    • LOGO TAHUN 2012
    • LOGO TAHUN 2013
    • LOGO TAHUN 2014
    • LOGO TAHUN 2015
    • LOGO TAHUN 2016
    • LOGO TAHUN 2017
    • LOGO TAHUN 2018
    • LOGO TAHUN 2019
    • LOGO TAHUN 2020
    • LOGO TAHUN 2021-2025
    • LOGO JUBILEUM 120
    • LOGO TAHUN 2026-2030
  • DEPARTEMEN-BIRO
    • DEPARTEMEN PERSEKUTUAN
    • DEPARTEMEN KESAKSIAN
    • DEPARTEMEN PELAYANAN
      • PELAYANAN RBM
      • PELAYANAN BKM
      • PELAYANAN WCC
    • DEPARTEMEN PEMBINAAN
    • BIRO ADMINISTRASI
    • BIRO KEUANGAN
    • BIRO LITBANG
    • SATUAN PENGAWAS INTERNAL
    • BIRO HUKUM
    • BIRO USAHA
  • Download
    • VIDEO
    • DOWNLOAD TATA IBADAH
    • DOWNLOAD TONAH
    • DOWNLOAD DODING HALELUYA
  • PARMAHAN NA MADEAR
    • PARMAHAN NA MADEAR (BAHASA SIMALUNGUN)
      • JANUARI BAHASA SIMALUNGUN
      • FEBRUARI BAHASA SIMALUNGUN
      • MARET BAHASA SIMALUNGUN
      • APRIL BAHASA SIMALUNGUN
      • MEI BAHASA SIMALUNGUN
      • JUNI BAHASA SIMALUNGUN
      • JULI BAHASA SIMALUNGUN
      • AGUSTUS BAHASA SIMALUNGUN
      • SEPTEMBER BAHASA SIMALUNGUN
      • OKTOBER BAHASA SIMALUNGUN
      • NOVEMBER BAHASA SIMALUNGUN
      • DESEMBER BAHASA SIMALUNGUN
    • PARMAHAN NA MADEAR (BAHASA INDONESIA)
      • JANUARI BAHASA INDONESIA
      • FEBRUARI BAHASA INDONESIA
      • MARET BAHASA INDONESIA
      • APRIL BAHASA INDONESIA
GKPS CHANNEL
  • Home
  • Bahan PA
  • NAMAPOSO YANG MERDEKA!
  • Bahan PA
  • SEKSI NAMAPOSO

NAMAPOSO YANG MERDEKA!

Admin 13 Agustus 2025
Gambar WhatsApp 2025-08-12 pukul 11.40.51_d0e8afa8

Minggu            : 17 Agustus 2025 (9 Set. Trinitatis)

Nats                 : Yohanes 8 : 31-36

Usul doding    : Hal. No. 490 : 1+ 3

Tema               : Kemerdekaan orang percaya

 

Saudara-saudari yang terkasih di dalam Kristus.

Di dalam pembukaan UUD 1945 NKRI alinea pertama mengatakan, “bahwa sesungguhnya kemerdekaan ialah hak segala bangsa. Dan oleh sebab itu maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan”. Orang yang belum merdeka berarti orang yang masih di jajah. Belum merdeka tidak hanya tentang penjajahan fisik, tetapi juga penjajahan pikiran, penjajahan perasaan dan penjajahan ruang gerak. Negara Republik Indonesia menentang keras penjajahan di dunia ini, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan keadilan. Orang yang menjajah berarti orang yang tidak memiliki hati nurani dan tidak menegakkan keadilan. Orang yang merdeka berarti orang yang memiliki kebebasan dalam kehidupannya. Merdeka berarti bebas, lepas, dan tidak terjajah. Merdeka yang dimaksud tidak hanya merdeka fisik, tetapi merdeka secara pikiran.

Saudara-saudari, kotbah kita hari ini berbicara tentang kemerdekaan orang percaya. Merdeka berarti bebas. Pandangan Alkitab tentang kebebasan dilatar belakangi pemikiran tentang perbudakan. Kebebasan berarti kebahagiaan berdasarkan pembebasan dari perbudakan, yang memasuki kehidupan baru dalam sukacita dan kepuasan yang tak mungkin diperoleh sebelumnya. Kebebasan tidak berarti bebas dari Allah. Kebebasan berarti pelaynaan kepada Allah. Pelayanan Kristus kepada masyarakat adalah pelayanan pembebasan. Paulus sering berkata bahwa Kristus membebaskan orang percaya.

Orang yang percaya tidak lagi terikat oleh dosa, melainkan bebas dan lepas dari ikatan dosa. Teks kotbah ini adalah perkataan Yesus kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya (ay.31). Apa yang menjadi tanda dan yang dapat memerdekakan orang percaya? Apakah harta? Nama baik? Jabatan yang bagus? Kehormatan? Atau kepintaran kita? Tentu tidak. Yang dapat memerdekakan kita adalah kebenaran. Kebenaran ini tidak kita peroleh dari banyaknya buku yang kita baca atau jauhnya perjalanan yang pernah kita kunjungi di dunia ini. Kebenaran ini hanya dapat kita peroleh ketika kita tetap di dalam Firman Allah. Artinya, ketika kita memilih untuk tetap mencintai Firman Tuhan, saat itulah kita memperoleh kebenaran yang dapat memerdekakan kita (ay.32). Orang yang mencintai Firman Tuhan adalah orang yang merenungkan Firman-Nya dan menghidupinya setiap hari. Kebenaran yang diajarkan Kristus berkuasa untuk memerdekakan manusia. Orang yang mencintai Firman Tuhan, hatinya akan penuh damai dan sejahtera, bukan amarah dan rasa dendam kepada orang lain.

Kotbah ini berbicara tentang kebebasan sejati bagi orang percaya yang ditawarkan oleh Yesus Kristus. Kebebasan yang dimaksud tidak hanya membebaskan kita dari dosa tetapi juga memberikan kita hidup yang kekal bersama Bapa di sorga. Banyak orang berfikir bahwa kebebasan berarti melakukan apa saja yang diinginkan. Bebas dalam melakukan hal yang tidak baik, bebas bermalas-malasan, bebas dalam berbicara, dan lain sebagainya. Namun melalui kotbah ini, Yesus menekankan bahwa kebebasan sejati hanya dapat diperoleh melalui pengenalan akan Dia (ay. 33). Kebebasan Kristen bukanlah kebebasan dari tanggung jawab. Kebebasan yang sejati itulah yang akan memerdekakan kita dari musuh-musuh rohani kita. Dendam, iri, dengki, ceroboh, sakit hati, dan kecewa yang mengikat kita dan membuat kita tidak bertumbuh secara iman.

Dalam konteks kotbah kita ini, orang-orang Farisi merasa sakit hati karena kata-kata yang menghibur ini diberikan kepada orang yang percaya, orang-orang yang sedang berdiri saat itu, dan tidak hanya kepada mereka. Mereka merasa direndahkan dan dihina oleh hak kebebasan yang diberikan kepada orang percaya. Oleh karena itu dengan sombong mereka berkata, “kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata : Kamu akan merdeka?” Mereka merasa seolah-olah jemaat dan bangsa Yahudi berada dalam suatu perbudakan. Tetapi sebenarnya bukan begitu maksud Yesus. Kita tidak dapat mengatakan kita sebagai ahli waris hanya dengan silsilah kita. Meskipun keturunan Abraham, jika tetap berbuat dosa, adalah hamba dosa (ay.34-35). Kita dapat menganalisa diri kita, apakah kita masih hamba dosa? Meskipun kita berasal dadri keturunan keluarga yang bermartabat tetapi jika kita masih terikat dengan dosa dan kenimatan duniawi, maka kita adalah hamba dosa, bukan orang yang merdeka. Tidak tergantung pada seberapa kita aktif dalam kegiatan rohani tetapi jika masih menyembunyikan banyak dosa dan memelihara dendam dalam hati kita, kita adalah hamba dosa. Allah melihat dan mengenal hati kita.

Yesus adalah sumber kebebasan sejati. Melalui iman kepada-Nya, kita dapat menikmati kebebasan yang tidak terikat oleh dosa dan kematian. Kita merdeka dalam melayani Allah. Kita tidak terhalang oleh dosa-dosa yang mengikat kita, yang membuat kita tidak mampu melayani Dia. Lihatlah bagaimana Paulus yang didalam penjara tetapi tetap menyebarkan Injil. Dia merdeka dalam pikirannya. Kalau kita masih menjadi hamba dosa, marilah kita menerima Yesus dengan pengenalan dan iman yang benar akan Dia agar kita memperoleh kebebasan itu. Ketika kita sudah bebas, kita tidak lagi menjadi tawanan dosa yang menghambat kita untuk melakukan hal-hal yang benar.

Saudara-saudari, ketika kita hidup didalam Firman Tuhan, kita merdeka dalam menyebarkan kasih kepada orang lain dan seluruh ciptaan, jika kita sudah dimerdekakan oleh Yesus (ay.36). Kita merdeka dari berbagai prasangka, kesalahan, dan gagasan yang keliru, yang memperbudak dan menjerat jiwa. Merdeka dari kekuasaan hawa nafsu dan keinginan daging. Kemerdekaan itu memulihkan jiwa kita untuk mampu memerintah diri kita sendiri sehingga tunduk pada pencipta kita, Allah tritunggal. Orang yang tidak hidup dalam Firman Tuhan mengaku berpikiran bebas, padahal sesungguhnya yang paling bebas berpikir adalah mereka yang dibimbing oleh iman. Orang yang berpikiran bebas sesungguhnya adalah mereka yang pikirannya ditawan dan ditundukkan untuk taat kepada Kristus. Merdeka dari dendam yang merugikan diri sendiri, menguras energi dan menghilangkan inner beauty dalam diri kita. Kita menjadi kehilangan citra kita sebagai anak-anak Allah. Wajah kita tidak lagi cerah dan ceria, tetapi sebaliknya menjadi murung dan tidak bersemangat karena rasa dendam dan amarah yang mengikat kita.

Kotbah ini mengingatkan kita untuk mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Kita diajak untuk menerima kebebasan sejati melalui iman dan pertobatan. Hiduplah sesuai dengan kehendak Allah. Mari mencerminkan diri sebagai namaposo Kristen yang sudah merdeka. Karena hanya dengan percaya kepada Yesus kita dapat memperoleh kebebasan itu. Sebagai namaposo yang sudah dimerdekakan, kita memiliki tanggung jawab untuk berbagi kebebasan dengan orang lain. Diberkati untuk menjadi berkat. Dibebaskan untuk membawa pembebasan. Jangan mau menjadi tawanan dosa, dan jangan berdiam diri melihat orang lain yang masih ditawan oleh dosa.

Ketika kita memelihara dendam dalam diri kita, itu hanya akan merusak kita. Kita menjadi tidak mampu untuk bersukacita. Memelihara dendam dalam diri kita sama dengan memelihara sampah dalam hati kita yang lama-kelamaan akan menjadi sumber penyakit lain muncul dalam diri kita. Dendam dan sakit hati yang kita pelihara dapat membawa kita untuk melakukan tidakan dosa lainnya, yang mungkin dapat mencelakai orang lain. Orang yang memelihara dendam dan sakit hati cenderung menciptakan sakit hati juga pada orang lain. Sebaliknya, orang yang penuh dengan damai juga cenderung menabur damai kepada orang lain. Sampah yang kita simpan dalam hati kita menandakan kita belum merdeka dari ikatan dosa. Namaposo Kristen yang belum berdamai dengan diri sendiri dan keadaan juga menandakan bahwa dia belum menjadi namaposo yang merdeka. Sering menyalahkan diri sendiri karena kegagalan yang di alami, memaksakan kehendak sendiri, dan memaksakan sesuatu diluar kemampuan kita. Semua dosa ini akan membuat kita sulit membangun hubungan yang sehat dengan diri kita sendiri, dengan sesama manusia bahkan dengan Tuhan. tidak jarang dampaknya juga adalah bersungut-sungut kepada Tuhan dan menyalahkan keadaan. Kita menjadi hamba dosa yang terus menerus tunduk untuk melakukan dosa itu.

Orang yang belum merdeka dalam kehidupannya juga terlihat bagaimana dia memperlakan dan menghormati orang lain. Sebagai makhluk sosial, kita tidak dapat hidup sendiri. Kita membutuhkan orang lain. Oleh karena itu kita patut untuk menghormati orang lain dan memperdulikan sekitar kita. Orang yang merdeka akan memiliki rasa empati dan simpati dalam hatinya untuk tetap menaburkan kasih dimanapun dia berada.

Marilah kita renungkan diri kita. Sudahkah kita menjadi namaposo Kristen yang merdeka? Bagaimana kita dapat menjadi orang yang merdeka? Hiduplah dalam Firman Tuhan. mari membangun hubungan yang intim dengan Tuhan, lewat disiplin rohani kita. Tidak dapat dipungkiri jika kita akan merasakan kecewa, sakit hati bahkan amarah dalam perjalanan kehidupan kita. Tetapi sebagai orang merdeka, kita tidak lagi dikuasai semua dosa itu. Kita dapat mengalahkannya dengan terus mencintai Firman Tuhan dan melakukannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Yesus yang memerdekakan kitalah yang terus kita libatkan dalam setiap musim di hidup kita. Tidak hanya ketika kita mengalami sukacita, tetapi juga ketika kita mengalami dukacita. Ketika kita ingin menentukan sebuah pilihan dalam hidup kita, ketika kita sedih, ketika kita disakiti, mari terus mendekatkan diri kepada Tuhan Yesus agar kita memiliki kekuatan untuk melawan semua perasaan negatif itu. Jangan mau terkungkung dan diikat oleh dosa, sebab kita sudah ditebus lunas melalui kematian Yesus di kayu salib. Kematian-Nya menjadi tanda bahwa kita benar-benar sudah dimerdekakan dari maut. Kita pewaris kerajaan Allah dan memperoleh hidup yang kekal, asalkan kita tetap percaya dan berserah kepada-Nya.

Dalam kemerdekaan yang sudah kita terima, hendaknya kita menjadi teladan kepada orang lain agar mereka pun melihat arti merdeka dari dosa. Menjadi teladan dalam perkataan, dalam pola pikir, dalam cara kita mengambil keputusan, dalam pendidikan dan karier kita sebagai namaposo GKPS. sehingga dengan demikian, nama Tuhan dimuliakan lewat kehidupan kita. Ini adalah tujuan hidup kita sebagai orang percaya. Kita merdeka dalam Tuhan, bukan merdeka atau bebas dari tanggung jawab. Marilah tetap memelihara kemerdekaan yang sudah diberikan kepada kita sampai kita memperoleh mahkota kehidupan. Hanya dengan hidup setia dan tekun menghidupi Firman Tuhan, maka kita dapat sungguh-sungguh mengalami kemerdekaan atas dosa. Namaposo yang merdeka, namaposo yang menabur damai. Namaposo yang merdeka, namaposo yang bahagia.

Tim penulis

Post Views: 598

Continue Reading

Previous: Ibadah Harian Keluarga, Rabu 13 Agustus 2025
Next: RENUNGAN MINGGUAN SEKSI BAPA GKPS, MINGGU 17 AGUSTUS 2025

Related News

download (2)
  • Bahan PA

Bahan Renungan Lansia GKPS, 19 April 2026

dep. persekutuan 13 April 2026
Solo con tu amor
  • Bahan PA

Bahan Renungan Bapa GKPS, 19 April 2026

dep. persekutuan 13 April 2026
download (1)
  • Bahan PA

Bahan Renungan Namaposo GKPS, 19 April 2026

dep. persekutuan 13 April 2026

ARSIP BERITA

KATEGORI

  • AMBILAN (9)
  • ARTIKEL (216)
  • Bahan PA (268)
  • BERITA (309)
  • BERITA PEMUDA (7)
  • BIDANG OIKOUMENE (4)
  • BIRO ADMINISTRASI (62)
  • BIRO KEUANGAN (5)
  • BIRO PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN (15)
  • BIRO USAHA (4)
  • DEPARTEMEN KESAKSIAN (37)
  • DEPARTEMEN PELAYANAN (70)
  • DEPARTEMEN PEMBINAAN (44)
  • DEPARTEMEN PERSEKUTUAN (39)
  • DISTRIK II (1)
  • DISTRIK III (5)
  • DISTRIK IV (2)
  • DISTRIK IX (3)
  • DISTRIK V (3)
  • DISTRIK VII (2)
  • DISTRIK X (2)
  • DISTRIK XI (6)
  • DOWNLOAD TATA IBADAH (11)
  • GKPS DISTRIK I (3)
  • GKPS DISTRIK II (5)
  • GKPS DISTRIK VIII (5)
  • GKPS DISTRIK XII (1)
  • KEUANGAN (3)
  • NEW (1)
  • OIKOUMENE (3)
  • PANITIA SSB GKPS KE-46 (2)
  • PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN (LITBANG) (2)
  • PESAN PASTORAL PIMPINAN SINODE GKPS (2)
  • PIMPINAN SINODE GKPS (36)
  • PPLMG (1)
  • RBM GKPS YAYASAN IDOP NI UHUR (2)
  • Rubrik Pastoral (2)
  • SEKSI NAMAPOSO (7)
  • SEKSI SEKOLAH MINGGU (20)
  • SIBASAON (42)
  • TATA IBADAH (1,789)
  • TONAH PIMPINAN SINODE (23)
  • TUGAH-TUGAH (69)
  • VIDEO (1)
  • YAYASAN BKM GKPS (2)
  • YAYASAN IDOP NI UHUR (2)
  • YAYASAN KESEHATAN GKPS (1)
  • YAYASAN PENDIDIKAN GKPS (9)

Tentang

  • KANTOR SINODE GKPS
  • Jl. Pdt. J. Wismar Saragih No. 23 Pematang Siantar - 21142 . Kel. Bane Kec. Siantar Utara - Sumatera Utara - INDONESIA
  • (0622)23676
  • gkps@gkps.or.id
Copyright © GKPS | MoreNews by AF themes.