
Ai ija ma jumpah be, haholongan in tene? Seng na jumpah in ijon, pitah bani Jesus do.
“Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”
Jemaat Tuhan,
lalu apa yang menjadi ciri umat yang berbeda dari yang lainnya? Nas ini menjawab sebahagian cirinya, yaitu: Hidup dalam ramah, melalui sikap ramah dan penuh kasih yang mengutamakan kebaikan orang lain. Ramah adalah sikap yang memperlihatkan perhatian dan kepedulian kita terhadap orang lain. Saat ini, dalam masyarakat yang sering kali sibuk dengan kepentingan diri sendiri, kita diingatkan untuk memperlihatkan kasih dan keramahan kepada sesama, terlepas dari situasi yang dihadapi. Lalu menghidupi kasih mesra: kasih yang bukan hanya lahiriah, tetapi juga tulus dari hati, mencerminkan kasih Allah. Kasih mesra bukan hanya rasa simpati, tetapi kasih dengan rasa empati yang mendalam dan penuh perhatian, dan kasih ini tercermin dari sikap peduli kepada sesama kita. Kasih mesra menciptakan ikatan yang kuat, yang bahkan menuntut kita untuk siap berkorban. Dan hal itu juga yang memampukan umat percaya untuk dapat menghidupi pengampunan: mengampuni satu sama lain dengan cara yang sama seperti Kristus mengampuni kita. Pengampunan adalah inti dari Injil. Allah, dalam kasih-Nya, tidak lagi mengingat kesalahan kita karena pengorbanan Kristus di kayu salib. Dengan demikian, kita juga dipanggil untuk memberikan pengampunan kepada mereka yang menyakiti kita. Memang mengampuni bukanlah hal yang mudah, terutama ketika luka hati sangat dalam, namun pengampunan adalah langkah menuju penyembuhan.
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
lalu bagaimana kita mampu melakukan ketiga hal tersebut? Rasul Paulus menuliskan bahwa kuncinya adalah hidup dengan meneladani Kristus. Kristus adalah teladan kita dalam segala hal. Dalam hal memperlihatkan keramahan dan kasih mesra, pun dalam hal pengampunan. Ketika kita menempatkan Kristus sebagai teladan bagi kita, maka Kristus yang adalah teladan yang sempurna dalam kasih dan pengampunan, akan memampukan kita juga untuk melakukan kasih dan pengampunan tersebut. Kebaikan, kasih, dan pengampunan kita kepada orang lain adalah refleksi dari kebaikan, kasih, dan pengampunan Allah yang begitu besar kepada kita. Ketika kita mengasihi dan mengampuni, maka kita memuliakan Allah dan menunjukkan Injil dalam tindakan kita. Nas ini sejatinya mengajak dan memanggil kita untuk mengikuti Kristus yang menjadi teladan bagi kita, sehingga akhirnya, karakter kita akan menuju kepada karakter Kristus, semoga. Amin.
Mengasihi, mengasihi lebih sungguh.
Mengasihi, mengasihi lebih sungguh.
Tuhan lebih dulu mengasihi kepadaku, mengasihi, mengasihi lebih sungguh.
Mengampuni, mengampuni lebih sungguh.
Mengampuni, mengampuni lebih sungguh.
Tuhan lebih dulu mengampuni kepadaku, mengampuni, mengampuni lebih sungguh.
Departemen Persekutuan GKPS