
1. Doding: Haleluya No. 337:1-2
Husombah Ham Tuhan tangihon au!
Sai uhur-Mu Tuhan pasaud Ham.
Sai lambin tambah ma holongku hu Bamu,
sai tambah ma holong Bamu.
Sanggah na kahou au, daoh hun Bamu,
sai ipindahi Ham, jumpah Ham au.
Halani in holong do uhurhon Bamu,
sai tambah ma holong Bamu.
2. Tonggo
3. Ayat Harian
“Seng tarbogei be odoh-odoh i tanohmu, hareongon ampa hasedaon i nagorimu; goranon ma tembokmu Hatuahon anjaha horbanganmu Puji-pujian.” (Jesaya 60:18)
“Tidak akan ada lagi kabar tentang perbuatan kekerasan di negerimu, tentang kebinasaan atau keruntuhan di daerahmu; engkau akan menyebutkan tembokmu ”Selamat” dan pintu-pintu gerbangmu ”Pujian”.” (Yesaya 60:18)
4. Renungan: Damai itu Nyata
Jemaat Tuhan,
sepenggal syair lagu, “Damai Bersama-Mu,” berisi seperti ini, “Jangan biarkan damai ini pergi, jangan biarkan semuanya berlalu. Hanya pada-Mu Tuhan, tempatku berteduh, dari semua kepalsuan dunia,” menerjemahkan kerinduan penyair akan situasi kedamaian dalam hidupnya, dan menyadari bahwa hanya bersama dengan Tuhan, ia akan menemukan kedamaian dalam hidupnya. Bahwa kedamaian adalah situasi yang diharapkan oleh siapapun, maka tidak mengherankan ketika terjadi perang di dunia ini, banyak orang yang menyerukan agar peperangan dihentikan, sehingga terciptalah kedamaian.
Jemaat Tuhan,
ternyata situasi bangkit dari keterpurukan dan dari kehancuran juga merupakan sebuah upaya untuk bisa sampai kepada titik merasakan damai dalam hidup. Bangsa Israel yang pada saat nas ini dituliskan telah kembali dari pembuangan Babel, mereka telah kembali ke negeri mereka. Hanya meskipun kembali, bangsa itu harus memulai dari nol, karena situasi yang mereka hadapi sangatlah baru, sebab Yerusalem harus bangkit dari keadaannya yang terpuruk. Melihat situasi ini, maka Allah melalui Yesaya memberikan janji pemulihan kepada bangsa-Nya. Bahwa negeri mereka (Sion) akan dipulihkan kembali menjadi negeri yang menjanjikan kedamaian, dan Yerusalem akan kembali menjadi pusat kemuliaan, penyembahan, dan kesejahteraan, atau menjadi kota yang bangkit dari gelap menjadi terang ilahi. Ini adalah awal dari diakhirinya kekerasan: tanda pemulihan total, dinyatakan melalui peperangan, penyerangan, dan kekerasan tidak lagi pernah terdengar. Masa itu juga merupakan simbol tembok “keselamatan,” yang mencerminkan bahwa perlindungan akhir berasal dari Tuhan, serta gerbang Yerusalem disimbolkan sebagai gerbang “pujian”: dan hal ini menggambarkan pintu masuk kota berintegrasi penuh dengan penyembahan – Sion menjadi pusat pujian dan pertemuan dengan Allah Tembok “Keselamatan” dan gerbang “Pujian” menyimbolkan pergeseran dari masa perang dan penderitaan menuju keselamatan dan syukur yang abadi. Pintu gerbang yang dinamai “Pujian” menegaskan bahwa Yerusalem akan menjadi pusat ibadah dan penyembahan, tempat di mana pujian terus mengalir.
Jemaat Tuhan,
ayat ini menggambarkan janji pemulihan dan kedamaian yang akan dialami oleh umat Tuhan. Di masa depan, tidak akan ada lagi kekerasan, kehancuran, atau keruntuhan di wilayah mereka. Sebaliknya, mereka akan mengalami keselamatan dan pujian. Tembok-tembok yang seharusnya melindungi dari bahaya, akan menjadi simbol keselamatan, dan pintu-pintu gerbang yang seharusnya menjadi tempat masuknya musuh, akan menjadi tempat pujian. Hal ini menjanjikan kedamaian, keselamatan, dan pujian bagi umat Tuhan. Tidak akan ada lagi kekerasan atau kehancuran, tetapi tembok-tembok mereka akan disebut “Selamat” dan pintu gerbang mereka “Pujian.” Hal ini juga akan kita alami sebagai umat-Nya. Benar bahwa kita juga akan pernah berada pada titik keterpurukan dalam hidup, tetapi justru pada saat ini kita dikuatkan dengan jaminan dari Tuhan Allah, bahwa Ia akan memberikan kedamaian bagi kita, bahwa kita akan hidup dalam rasa tenang, dan juga jaminan ketika kita terpuruk, maka Allah akan mengangkat kita dari keterpurukan kita. Amin.
5. Doding: Damai Bersama-Mu
Aku termenung di bawah mentari, di antara megahnya alam ini.
Menikmati indahnya kasih-Mu, kurasakan damainya hatiku.
Sabda-Mu bagai air yang mengalir, basahi panas terik di hatiku.
Menerangi semua jalanku, kurasakan tent’ramnya hatiku.
Jangan biarkan damai ini pergi, jangan biarkan semuanya berlalu.
Hanya pada-Mu Tuhan, tempatku berteduh, dari semua kepalsuan dunia.
Bila ku jauh dari diri-Mu, akan kutempuh semua perjalanan.
Agar selalu ada dekat-Mu, biar kurasakan lembutnya kasih-Mu.
6. Tonggo Ham Bapanami/Doa Bapa Kami
Kantor Sinode GKPS