
Tuhanta Naibata marsuruh Jesus Kristus.
Jadi harga tumang do hita on itobus.
Iporsan Jesus in, dousanta in ganup.
Ase darohNi in papansing haganup.
“Kapal itu dilandanya dan tidak tahan menghadapi angin haluan. Karena itu kami menyerah saja dan membiarkan kapal kami terombang-ambing.” (Kisah Para Rasul 27:15)
Dalam perjalanannya ke Roma, Paulus berada dalam situasi dimana tidak ada lagi pengharapan untuk hidup. Kapal yang ditumpangi oleh Paulus dan orang-orang seperjalanannya diombang-ambingkan selama 3 hari 3 malam oleh angin badai. Kegelapan total menyelimuti mereka. Seluruh muatan kapal harus dibuang agar kapal tidak tenggelam. Akibatnya mereka harus menahan lapar berhari-hari. Dalam kondisi yang sedemikian kritis dan panik, Paulus berdiri dengan keteguhan dan keyakinan penuh menyuarakan pengharapan kepada mereka yang sudah ada di penghujung kematian. Suatu yang lebih indah adalah bahwa mereka tidak hanya mempercayai pengharapan itu, tetapi mereka juga mau mendengarkan dan menuruti saran Paulus. Mereka akhirnya selamat dari amukan badai.
Ada tiga faktor yang menyebabkan mereka menjadi percaya dan menurut kepada Paulus. Pertama, Paulus bersama-sama mereka merasakan ancaman kematian atau maut. Ia tidak hanya berteori saja, tapi mereka semua bisa melihat bahwa Paulus pun menghadapi dan mengalami hal yang sama. Kedua, Paulus percaya penuh akan janji Tuhan bahwa ia akan pergi menghadap Kaisar. Ketiga, pengharapan Paulus dibangun berdasarkan keyakinan yang tumbuh karena hubungan yang erat dengan TUHAN. Melalui nas firman Tuhan hari ini menjadi perenungan bagi kita umat Tuhan atau gereja saat ini harus menjadi sama dengan masyarakat yang miskin. Hal tersebut bukan berarti bahwa gereja harus menjadi miskin. Tetapi di tengah-tengah kemiskinan gereja harus mau untuk tetap menyuarakan pengharapan Injil. Amin.
Huparbois pe gogohkin, ronsi tangis au ijin.
Naha pe hubaen ijin, seng boi tanggal dousangkin.
Pitah bai ugah-Mu in, boi maluah au ijin.
Kantor Sinode GKPS