
Bai anakMu bobahon ahu, ase Bamu iboban au homa.
Sorapkon TonduyMu hu bangku, manogu au bai dalan na torsa.
Ase tongtong gok damei uhurhin, janah mesek mamuji goranMu.
“Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat,” (Mazmur 103:2+4)
Pengampunan Tuhan luar biasa. Tuhan yang adil seharusnya menghukum setiap dosa setimpal. Namun, Tuhan sangat mengasihi manusia. Ia sadar tidak ada seorangpun dalam kefanaannya yang mampu bertahan terhadap hukuman dahsyat dosa. Oleh karena itu, Tuhan melakukan tindakan yang radikal: Ia mengampuni dosa. Pengampunan Tuhan itu digambarkan oleh pemazmur dengan dua illustrasi yang indah. Kasih setia Tuhan itu setinggi langit dari bumi dan pengampunan-Nya itu sejauh timur dari barat. Keduanya adalah jarak-jarak terjauh yang bisa dibayangkan manusia. Pemazmur menggambarkan rangkulan kasih Tuhan bagaikan pelukan bapa kepada anak-anaknya.
Kebaikan Tuhan luar biasa kepada manusia yang fana, bagaikan bunga rumput yang hanya mekar sekejab kemudian layu. Tuhan menyatakan kasih karunia yang kekal. Oleh sebab itu, kefanaan manusia tidak menyebabkan dirinya tidak berarti. Justru hari-hari singkat manusia yang percaya kepada-Nya menjadi penuh semangat kemudaan yang hidup dalam berkarya bagi Dia.
Merenungkan perbuatan Tuhan tidak saja membuat kita makin sadar akan keberdosaan kita yang terancam kebinasaan, tetapi juga membuat kita takjub bagaimana Tuhan dapat menyerasikan kasih setia-Nya dengan kedaulatan dan keadilan-Nya. Ketakjuban ini menjadi insentif lebih besar bagi hidup tahu bersyukur. Sepatutnyalah kita memuji dan bersyukur hanya kepada Tuhan dengan segenap jiwa. Amin.
Ondos ganupan na dear in, pasu-pasu-Ni na manggoki au.
Songon doding ni malekat in, holong mamitah rap pakon au.
Marmegah-megah mandoding au, mamuji Jesus parholong in.
Marmegah-megah mandoding au, mamuji Jesus parholong in.
Kantor Sinode GKPS