
Hata hagoluhan do nuan iboan Parambilan in.
Na lampot tangaron, in do iberehon bai uhurta in.
Ipodahi hita on ihatahon bei do hita paubah uhurta.
“Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang.”
Bagian kedua dari ayat ini, “di dalam terang-Mu kami melihat terang,” memperkenalkan ide pencerahan dan penerangan spiritual. Terang dipercaya sebagai simbol keilahian, kebijaksanaan, dan kebenaran dalam sejarah iman. Dengan terang Tuhanlah kita dapat melihat dan memahami dunia di sekitar kita. Penekanan pada penerangan ilahi ini menggemakan perasaan yang dalam pribadi manusia, disebut, “roh manusia adalah pelita Tuhan, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya” (Ams. 20:27). Analogi ini menggambarkan manusia sebagai bejana yang melaluinya terang Tuhan bersinar, menerangi kedalaman diri kita dan memandu jalan kita.
Dua hal hal yang disebut yakni, “sumber hayat” dan “terang,” memiliki keterkaitan satu dengan yang lainnya. Kehidupan dan terang, baik secara fisik maupun rohani, terkait erat satu sama lain. Melalui terang hikmat dan kebenaran Tuhan, kita dapat mengalami kepenuhan hidup dan mengerti tentang keberadaan manusia. Oleh sebab itu, dikatakan “melihat terang” yang berarti dalam terang Tuhan ada transformasi cara pandang dan pemahaman yang menunjukkan bahwa melalui penerangan ilahi Tuhan manusia memperoleh kesadaran yang lebih dalam, dalam memahami keberadaannya dan apa tujuan hidupnya.
Allah sebagai sumber kehidupan dan terang merupakan dasar dari pemahaman kekristenan tentang Tuhan. Dalam kisah penciptaan di kitab Kejadian, Allah berfirman tentang terang, memisahkannya dari kegelapan dan menyatakannya sebagai sesuatu yang baik. Hal ini menjadi dasar bahwa terang terus berlanjut sebagai simbol kehadiran, tuntunan, dan pewahyuan Tuhan. Di dalam Perjanjian Baru, Yohanes menyampaikan bahwa Yesus adalah “terang dunia” (Yoh. 8:12), yang semakin menekankan pentingnya terang sebagai simbol kebenaran dan keselamatan ilahi. Tuhan sebagai sumber kehidupan dan penerangan. Untuk mengingatkan orang percaya bahwa kehadiran Tuhan yang terus-menerus bekerja dan dipercayai sebagai pencipta dan pemeliharan kehidupan. Tuhan yang adalah sumber terang itu juga masih memberikan kehidupan bagi seluruh ciptaanNya di dunia ini. Manusia memerlukan terang itu untuk menerangi hati, pikiran, imannya untuk semakin jelas melihat Allah di dalam kehidupannya di dunia ini, sehingga ia menjadi alat Tuhan untuk menjaga kehidupan menjadi lestari dan menjadi terang bagi dunia yang gelap yang belum menerima terang Tuhan. Kiranya kita dimampukan untuk semakin merendahkan hati melihat karya Tuhan lewat kehidupan ini dan menjadi terang, sehingga dunia melihat dan percaya kepadaNya. Amin.
Bah tubuh na mapansing in, in ma Jesusta in;
Isasap do siningta in, ibuat horungkin.
Kantor Sinode GKPS