Renungan Mingguan Namaposo GKPS, Minggu, 27 Juli 2025 (6 Set. Trinitatis)
Nas : Yohanes 15:1-8
Usul Doding : Haleluya No. 453:1-2
Tema : Yesus adalah Pokok Anggur yang Benar
Tujuan : Agar Namaposo mengerti bahwa Yesus adalah sumber kekuatan, sehingga hidup kaum pemuda harus menghasilkan buah kebenaran.
Sumber Hidup yang Abadi
Syalom teman-teman!
Ingat tidak teman-teman, lagu yang dulu sering kita nyanyikan ketika masih di sekolah minggu, yap… lagu Yesus Pokok. Begini kira-kira lagunya ‘Yesus pokok dan kitalah carangNya, tinggallah di dalamNya, Yesus pokok dan kitalah carangNya, tinggallah di dalamNya, pastilah kau akan berbuah…’. Sewaktu kita masih kecil dulu kita sangat senang menyanyikan lagi ini, kita bahkan sangat mengetahui bahwa Tuhan Yesus adalah sumber kehidupan kita. Lantas bagaimana dengan saat ini, masihkah kita mengakui bahwa Dia adalah sumber kehidupan kita? Atau jangan-jangan kita malah tidak mengakui keberadaan Yesus yang telah menolong kita. Kita merasa Yesus meninggalkan kita karena keinginan kita tidak terwujud, dan juga karena kita lebih sibuk dengan keduniawian kita. Maka dari itu saudara-saudariku firman Tuhan pada hari ini ingin menjelaskan kepada kita siapakah Yesus dalam hidup kita, dan bagaimana hidup kita jika tanpa kehadiran Yesus.
Teman-teman nas khotbah kita pada hari ini tertulis di dalam kitab Yohanes 15:1-8. Kitab Yohanes diperkirakan ditulis pada akhir abad pertama Masehi (90-100M). Penafsir-penafsir mengatakan bahwa penulis kitab Yohanes adalah murid yang dikasihi Yesus. Kitab Yohanes memiliki tujuan dalam penulisannya yaitu agar para pembacanya memercayai Yesus sebagai Mesias dan Anak Allah, yang memiliki identitas Ilahi Yesus dan misinya sebagai penyelamat dunia. Dalam kitab Yohanes sangat menonjolkan identitas keilahian Yesus sejak awal. Dalam pembukaan kitab ini sangat memperlihatkan hal tersebut ‘Pada mulanya adalah Firman, Firman itu adalah Allah’ (Yoh.1:1).
Teman-teman yang terkasih, Yohanes 15:1-8 merupakan bagian penting dari pengajaran Yesus yang menggambarkan hubungan antara Yesus dengan para pengikutNya. Ayat ini menggunakan perumpamaan Pokok anggur dan ranting untuk menjelaskan bagaimana Yesus adalah sumber kekuatan bagi orang percaya, termasuk menjadi kekuatan kepada anak-anak muda. Perumpamaan Pokok Anggur sudah lama kita kenal, bahkan karena kita merasa telah memahami betul makna dari perumpamaan ini, kita tidak lagi mencari makna lain dari teks ini. Isi teks ini tidaklah sulit, semua dapat menggambarkan apa yang hendak dikatakan dalam nas ini. Kita bisa membayangkan bagaimana sebuah pohon anggur bukan? Pohon itu terdiri dari batang utama (pokok), cabang dan ranting-rantingnya. Yesus adalah batang dan kita adalah cabang-cabangnya. Jikalau batang ditebang maka cabang-cabang dan ranting-ranting akan mati, dan apabila ranting-ranting ingin berdiri sendiri sama saja ia hendak membunuh dirinya sendiri. Dalam tradisi Yahudi, Israel sering digambarkan sebagai kebun anggur atau pokok anggur milik Allah ( Yesaya 5:1-7; Mazmur 80:8-16). Namun Israel digambarkan gagal menghasilkan buah yang baik, sehingga Tuhan menghukum mereka. Dalam Yohanes 15 ini, Yesus menggantikan Israel sebagai ‘pokok anggur yang benar’, yang menunjukkan bahwa hubungan dengan Allah sekarang ditentukan oleh hubungan dengan Yesus.
- Yesus adalah Pokok Anggur yang Benar (Ay.1-2)
‘Akulah Pokok Anggur (ampelos), bukan disebutkan ‘Aku ini seperti pokok anggur’, ini berarti bukan hanya sebagai bahasa kiasan, kata di atas memiliki makna yang sama dengan Allah adalah Bapa. Dalam ayat ini juga disebutkan bahwa Yesus adalah pokok anggur yang benar, maksudnya adalah dapat menjamin berbuah banyak dan baik, tidak busuk. Dalam bahasa Yunani disebut ‘alethine’ yang berarti benar, sejati. Mengapa kita perlu memahami hal ini? Karena dunia ini selalu mengklaim diri sebagai pokok anggur, sebagai sumber kehidupan, padahal sesungguhnya dunia ini pun bersumber pada Yesus Kristus sebagai pohon kehidupan. Yesus menyatakan bahwa Ia adalah ‘pokok anggur yang benar,’ sementara para pengikutNya adalah ranting-ranting. Sebagai pokok anggur, Yesus adalah sumber kehidupan, kekuatan dan pertumbuhan rohani. Anak muda Kristen hanya dapat menghasilkan buah (kebaikan, kasih, iman, dan karya rohani) jika kita tetap melekat pada Yesus. Ini berarti kita perlu membangun hubungan yang erat dengan Kristus melalui doa, membaca firman Tuhan dan ketaatan. Tanpa hubungan ini, kita seperti ranting yang terputus dari pokok anggur, hidup kita akan menjadi kering secara rohani.
‘BapaKu lah pengusahanya’ kalimat ini dapat kita sederhanakan sebagai ‘petani’. Namun menurut LAI terjemahan kata ‘petani’ kurang baik digunakan untuk menyatakan Allah, maka diganti menjadi kata ‘pengusaha’. Dalam Perjanjian Lama hubungan Allah dengan umat Israel sering digambarkan sebagai pengusaha kebun anggur dan tanaman-tanaman anggurnya. Tetapi pada nas ini, ide tersebut berkembang, Allah Bapa adalah pengusaha, dan Yesus adalah satu-satunya pohon anggur dan murid-murid adalah rantingnya. Sang pengusaha yang disebutkan pada nas ini bukanlah tipe yang suka bermalas-malasan. Ia sangat memperhatikan pokok anggurnya, dan terutama ranting-rantingnya. Yang tidak berbuah dipotongnya dan yang berbuah, dibersihkannya, supaya berbuah lebih banyak lagi. Yesus sebagai Pohon Kehidupan, maka berbuah berarti mengembangkan kehidupan, sedangkan tidak berbuah berarti mematikan kehidupan. Ini berarti tidak semua ranting otomatis berbuah.
- Hubungan yang Melekat (ay. 4-5)
‘Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu’, kita sering mengucapakan dalam doa kita agar Yesus tinggal di dalam kita tanpa membayangkan bahwa kita juga bisa tinggal di dalam Yesus. Kita merasa kita terlalu berdosa dan rendah untuk itu. Tuhan datang ke dunia menjadi manusia, maka manusia dengan perkenan Tuhan dapat ambil bagian dalam keilahian, atau dalam bahasa Yunani disebut ‘theosis’. Benar kita tidak boleh meremehkan dosa, tetapi kita jangan mengabaikan himbauan Yesus yang menyatakan dirinya sebagai Pokok Anggur dan bagaimana kita memaknai lagu Yesus Pokok ‘tinggallah di dalamNya’. Maksudnya adalah ranting tidak dapat berbuah kalau tidak tinggal melekat pada pokok anggur, kemudian menerapkannya kepada kita. Pada ayat 5 ucapan Yesus diulangi dan barulah secara eksplisit murid-murid disebut sebagai ranting-ranting. Ayat 4 digantikan dengan janji barangsiapa tinggal di dalam Yesus akan berbuah. Di ayat 2 dikatakan bahwa ada ranting yang tidak berbuah. Maka dari kalimat ‘tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam kamu’ berarti kita tidak cukup hanya menyadari bahwa kita adalah ranting, tetapi kita juga harus menyadari bahwa sebagai ranting kita harus berbuah. Agar kita dapat berbuah maka kita harus hidup dalam komunitas dengan Kristus setiap hari. Pada ayat ini juga menekanknan bahwa tanpa Yesus kita tak dapat berbuat apa-apa. Saudara-saudariku hal ini mengajarkan pada kita bahwa kekuatan untuk menghadapi tantangan hidup seperti tekanan teman sebaya, godaan, atau kebingungan dalam mengambil keputusan hanya dapat diperoleh dengan tetap tinggal di dalam Kristus. KehadiranNya memberikan hikmat, damai, dan kekuatan untuk mengatasi berbagai tantangan.
- Pemurnian untuk Bertumbuh Memuliakan Allah (ay.6-8)
Saudara saudari yang terkasih, dalam ayat ini mengungkapkan bahwa ranting yang tidak menghasilkan buah akan dipangkas, sementara ranting yang menghasilkan buah akan dibersihkan agar lebih banyak berbuah. Dalam kehidupan namaposo, proses pemurnian dapat berupa pengalaman-pengalaman sulit yang digunakan Tuhan untuk membentuk karakter kita. Kendatipun menyakitkan, pemurnian ini adalah bagian dari rencana Tuhan untuk membuat mereka lebih serupa dengan Kristus dan menghasilkan buah yang berkelimpahan, seperti kesabaran, kasih dan kebaikan. Yesus menjanjikan bahwa jika kita tinggal dalamNya dan firmanNya tinggal dalam kita, maka apapun yang kita minta akan diberikan. Anak muda Kristen dapat menemukan kekuatan melalui doa yang didasari oleh hubungan yang erat dengan Yesus dan kehendak Tuhan. Doa yang dijawab bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi juga tentang memberi kuasa untuk menjalankan misi Tuhan dalam hidup kita, seperti menjadi terang dan garam di tengah-tengah dunia ini. Yesus menekankan bahwa tujuan dari menghasilkan buah adalah untuk memuliakan Allah.
Pada ayat 7 masih membahas seputaran ‘tinggal di dalam Aku’ namun yang dimaksud disini bukan lagi “Aku tinggal di dalam kamu” melainkan “FirmanKu tinggal di dalam kamu”. Apa yang sudah disampaikan pada ayat 3 mengenai dimurnikan oleh Firman Tuhan. Menghayati dan mempraktekkan Firman Tuhan, berarti sama dengan membiarkan Yesus Kristus tinggal di dalam kita. Bagian kedua dari ayat ini cenderung disenangi oleh orang-orang saat ini karena berkaitan dengan hal meminta. Bagi kita saat ini agama adalah tentang hal meminta. Apa saja boleh kita minta kepada Bapa, padahal kerangka pemahaman mengenai pohon kehidupan, permintaan yang dimaksud disini berhubungan dengan doa, dan doa yang benar adalah doa yang mengembangkan kehidupan, bukan doa yang merusak kehidupan. Konteks yang menyusuli perikop kita berbicara mengenai ‘buah’ dan ‘minta’ (ay.16). tetapi di situ jelas bahwa keduanya berhubungan erat dengan kasih.
Berbuah banyak bukan tujuan dari dirinya sendiri melainkan untuk kemuliaan Allah Bapa, Sang Pengusaha kebun anggur. Mereka yang berbuat banyak adalah murid-murid Yesus. Penting sekali bagi kita untuk mencari tahu secara aktif bagaimana dunia luar menilai komunitas kita. Walaupun kita merasa telah menjalankan kasih, kalau lingkungan sekitar kita tidak merasakan seperti demikian, maka pasti ada yang salah dalam diri kita. Percuma kita meyakinkan orang lain tentang kebenaran ajaran, jika kita tidak bisa memperlihatkan kepada orang lain secara konkret transformasi dari kehidupan kita maupun dampak dari transformasi kehidupan kita kepada kehidupan bersama dalam masyarakat.
Yesus adalah Pohon Kehidupan atau sumber kehidupan, maka fokus kita adalah pada Kehidupan yang secara konkret. Perlu kita sadari bahwa kehidupan masyarakat kita saat ini sulit sekali dikatakan sebagai kehidupan yang bermakna. Kehidupan kita seakan-akan tercabut dari Pohon Kehidupan dan mengira bahwa justru dengan demikian kita akan berjaya. Hasoman namaposo, kita dipanggil untuk menjalani hidup yang mencerminkan kasih, iman dan kebenaran Kristus sehingga nama Tuhan dimuliakan. Hal ini berarti kita dapat menjadi berkat bagi orang lain di lingkungan sekolah, kampus, pekerjaan atau komunitas kita, dan menunjukkan kasih Yesus melalui tindakan nyata. Kita juga dapat menarik beberapa poin dari nas khotbah kita pada hari ini: 1)Menempatkan Yesus sebagai sumber kekuatan dan kehidupan; 2) Bergantung pada Kristus untuk menghasilkan buah rohani; 3) Mengizinkan Tuhan membentuk karakter kita melalui pemurnian; 4) Memiliki hubungan yang konsisten dengan Yesus; 5) Berdoa dengan iman dan sesuai kehendak Allah; 6) Hidup untuk memuliakan Allah melalui perbuatan dan sikap; 7) Menjalani kehidupan iman dalam kebersamaan dengan komunitas Kristen.
Dengan menjalankan dan mempraktekkan pesan ini, sebagai namaposo kita dapat menjadi terang dunia ini, membawa dampak positif dan menjalani hidup yang berbuah untuk kemuliaan Tuhan. Amin