RENUNGAN REMAJA GKPS
18 Oktober 2026 (20 Set. Trinitatis)
Nats : Matius 15:21-28
Tema : Perjuangan Ibu
Iman yang tangguh didalam Tuhan
Pengantar
Kita pernah mendengar lagu “maju tak gentar tentu kita menang”. Maju tak gentar bukan hanya melawan penjajah tetapi juga bagaimana soal iman yang tetap tangguh dalam menghadapi dunia ini, melawan setiap nafsu dunia ini sehingga kita tidak jatuh kedalam dosa. Selama kita ada masih hidup di dunia ini, memang kita tidak bisa menjauhkan diri dari suatu pencobaan, tantangan, penyakit, penderitaan maupun pencobaan yang akan terjadi. Hal ini berarti bahwa dalam waktu tertentu kita pasti akan menghadapi dan mengalami hal-hal tersebut. Tidaklah mudah dan bahkan bisa dikatakan sulit untuk menghadapi suatu cobaan, tantangan, penderitaan, maupun ujian iman. Apalagi ketika berbagai upaya yang telah dilakukan tampaknya “sia-sia.
Isi Tulisan
Pada tahun 1995 ada sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Nikita yang berjudul “Di doa ibuku namaku disebut”. Lagu tersebut ditulis oleh seorang yang bernama Peter Philip Bilhorn (1865-1936). Lagu tersebut berjudul “My name in Mother’s Prayer” lagu tersebut menggambarkan betapa besarnya kasih dan perhatian seorang ibu kepada anaknya. Di Indonesia lagu ini sempat menjadi hits di berbagai tempat. Lagu ini tercipta dan sebuah kisah menarik pengarang syairnya yaitu Peter P. Bilhorn. Peter adalah seorang anak lelaki yang ketika baru berumur tiga tahun ditinggal ayahnya meninggal saat terjadi perang saudara di Amerika. Dia hanya tinggal bersama ibunya dan saudara lelakinya di suatu rumah yg sederhana di sebuah desa yang tidak begitu ramai. Pada umur 8 tahun, Peter harus meninggalkan sekolahnya karena harus membantu ibunya menghidupi keluarga, serta pada umur 15 tahun mereka harus pindah ke Chicago. Di sana dia dan adik laki-lakinya jadi tukang gerobak. Layaknya sebagai seorang anak, pasti ada kenakalan-kenakalan yang pernah dia lakukan, bahkan mungkin sampai melukai hati Ibunya. Pada suatu malam yang sangat larut serta sepi, Peter pulang ke rumah, dia melewati pintu kamar ibunya. Peter mendengar sebuah suara, suara yang dia tidak pernah dengar sebelumnya. Dia mendapati ibunya di kamar tidur, sedang bertelut. Ibunya berdoa berurai air mata. Ibunya menutup mata, melipat tangan, dan berdoa, itulah yang terlihat oleh Peter. Peter mungkin tidak pemah menyadari betapa Ibunya ternyata sangat sering mendoakan dia. Dengan jelas Peter dapat menangkap satu kalimat yang sungguh menggetarkan hati “Tuhan Lindungi Peter dalam perjalanannya pulang ke Rumah..Peter…Ajari Peter.……Peter…dan Peter…dan Peter dan Peter”. Singkat kata, begitu banyak nama Peter disebut. Dalam keseharian, Peter memang sering sekali melihat ibunya berdoa, namun Peter tak pernah mencoba untuk mau mengetahui apa yang didoakan Ibu. Sampai tibalah hari itu dimana Peter tahu, betapa ibu ternyata selama ini sangat banyak mendoakan dia. Ibunya sangat mengasihi Peter dan adik-adiknya, sehingga ibunya selalu membawakan Peter kepada Tuhan didalam doanya, agar mereka tidak menderita.
Teks khotbah kita hari ini menceritakan kisah yang kurang lebih sama dimana ekspresi kasih dari seorang ibu untuk anaknya. Seorang ibu, wanita Kanaan mengalami pergumulan berat karena anaknya perempuan kerasukan setan. Dan tidak dicatat secara spesifik hal tersebut telah terjadi berapa lama, tetapi sang Ibu sangat mengaharapkan pertolongan untuk kesembuhan anaknya dari Yesus. Nats renungan kita hari ini dari kitab Matius 15:21-28 yaitu suatu kisah Injil dengan judul perikop “Perempuan Kanaan yang Percaya.” Ada seorang perempuan Kanaan yang datang mendekati Tuhan Yesus Kristus. Dengan berteriak – teriak meminta tolong karena anaknya kerasukan setan dan sangat menderita. Dalam sejarah Injil Matius ini, kita baca bahwa Yesus sama sekali tidak menjawab permintaannya. Tetapi, perempuan itu terus saja berteriak – teriak minta tolong. Oleh karena merasa terusik; merasa bising sekaligus menjaga kenyamanan Yesus Kristus, dan para murid meminta Yesus Kristus agar perempuan itu diusir saja dari tempat itu. Namun, rupanya Tuhan Yesus tidak seperasaan dengan para murid-Nya. Bahkan Yesus menegur mereka dengan mengatakan, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel”; walau murid-murid menyaksikan juga bahwa tidak ada tanda-tanda Yesus Kristus hendak menolong. Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Yesus sambil berkata: “Tuhan, tolonglah aku.”
Terhadap permintaan perempuan itu; Yesus meresponsnya dengan mengatakan, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing”. Sang perempuan menyahut Yesus katanya, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Atas jawaban dan kesungguhan sang perempuan; Yesus Kristus menyatakan, “Hai ibu, besar imanmu maka jadilah kepadamu seperti yang kau kehendaki”. Bertekun di dalam iman yang benar berarti percaya kepada Allah dalam segala keadaan dan tetap setia kepada-Nya, bahkan ketika dalam kesulitan yang besar sekalipun dan tampaknya bahwa Tuhan tidak memperhatikan. Inilah “ujian iman.”
Refleksi/ Renungan
Melalui kisah ini kita dapat belajar, bahwa:
Pertama, remaja harus berusaha untuk mengembangkan sikap yang penting yaitu daya juang. Terus berupaya untuk memiliki karakter daya juang yaitu kesetiaan, semangat yang tinggi, sikap pantang menyerah dan daya tahan dalam mencari, menemukan dan mendapatkan. Sebab daya juang itulah yang menjadi bukti bahwa kita sungguh-sungguh orang yang beriman di hadapan Allah dan sesama. Apabila daya juang itu telah menjadi bagian dari iman, maka daya juang itu akan semakin memperlebar “pintu” untuk mengalami hidup yang penuh pertolongan-Nya.
Kedua, Agar remaja semakin memiliki keyakinan yang teguh di dalam hati bahwa sampai kapan pun dan di mana pun, Allah itu penuh pengertian dan peduli dengan umat-Nya. Apapun persoalan, cobaan, dan penderitaan yang sedang dialami, Allah pasti akan memberikan pertolongan-Nya
Ketiga, agar remaja semakin memiliki iman yang semakin kuat memiliki karakter dan mentalitas yang lebih dewasa dalam Kristus sehingga remaja semakin memiliki iman yang tangguh, rendah hati, dan pantang menyerah meski dalam situasi sulit atau doa seolah tidak dijawab
Pernahkah kita merasa doa tidak dijawab Tuhan? Merasa diremehkan atau ditolak teman? Jangan langsung menyerah. Perempuan Kanaan dalam teks ini terus berteriak dan mendekat kepada Yesus, dia tidak menyerah sampai harapannya Yesus kabulkan. Iman yang sejati adalah tetap mencari Tuhan meski situasi terlihat mustahil. Yakin dan percaya Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi kita.Seperti perjuangan Perempuan Kanaan, demikian juga perjuangan orang tua kita terlebih ibu untuk tetap memberikan yang terbaik untuk kita, baik untuk pendidikan, kebutuhan jasmani dan juga rohani. Maka kita harus menghargai perjuangan orang tua kita dengan menjadi anak yang taat dan membanggakan orang tua, tetapi terlebih menjadi anak yang takut akan Tuhan. AMEN