
Sai dalankon horja ni Tuhanta in, janah sai dingat ma bani padan in.
Sai sirsir martonggo na porsaya in, ai podas ma roh Tuhanta in.
Sai mangarap bani padan ni Tuhanta Jesus Kristus.
Sai mangarap, ma hita bai partobuson-Ni in.
“Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya, firman yang diperintahkan-Nya kepada seribu angkatan,” (Mazmur 105:8)
Jemaat Tuhan,
lalu nas kita hari ini membawa kita kepada sebuah pengenalan akan karakter Tuhan Allah yang dinyatakan dan diperlihatkan kepada umat-Nya. Nas ini dalam konteks umat Israel yang telah kembali dari pembuangan Babel, dan telah tiba di tanah mereka, yaitu Kanaan. Dalam menikmati kembali tanah mereka, lalu pemazmur mengajak umat-Nya untuk mengingat dan berefleksi atas karakter Allah yang melekat pada diri-Nya, yang sebenarnya telah dinikmati oleh umat itu. Bahwa Allah adalah Allah yang selalu mengingat janji-Nya. Janji atas apa? Janji Allah kepada umat-Nya, kepada nenek moyang mereka, bahwa Allah akan memberkati dan membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Dan tidak hanya sampai di situ, Allah juga menyertai mereka sepanjang perjalanan mereka selama 40 tahun dari Mesir menuju Kanaan. Allah yang tetap konsisten mengasihi bangsa-Nya, meskipun ada saatnya bangsa-Nya itu tidak mangasihi-Nya dan tidak setia kepada-Nya. Konsistensi Allah diperlihatkan-Nya dalam proses perjalanan kehidupan umat-Nya. Dan ternyata tidak hanya saat mereka berada dalam perjalanan keluar dari perbudakan Mesir, Allah juga berjanji akan tetap memelihara mereka terus menerus. Hal ini dituliskan dalam nas kita, “Firman yang diperintahkan-Nya kepada seribu angkatan,” karena makna seribu angkatan sebenarnya menghunjuk kepada proses yang terus menerus, yang tidak terhenti hanya karena batas dan generasi. Kasih, kesetiaan dan penyertaan Tuhan kepada umat-Nya diperlihatkan secara terus menerus melalui firman-Nya yang diperintahkan kepada seribu angkatan. Konsistensi Allah semakin teruji saat Dia juga memberikan firman-Nya kepada generasi penerus, bukan hanya dalam perjalanan menuju Kanaan, bahkan saat mereka telah tiba di Kanaan, pun Allah tetap memperlihatkan konsistensi-Nya.
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
melalui nas kita hari ini, semestinya kita sampai kepada sebuah rasa bangga dan bahagia. Mengapa? Karena Dia yang tetap konsisten dalam setiap janji dan firman-Nya, bukan hanya kepada bangsa Israel dalam perjalanan dan proses kehidupan mereka, tetapi kepada kita pada saat ini. Benar bahwa terkadang kita juga berjalan dalam medan perjalanan yang tidak mudah, tetapi kita diteguhkan dalam proses ini, karena kita memiliki Allah yang tetap setia, penuh kasih karunia dan menyertai kita. Dan ini telah kita rasakan sampai hari ini. Maka apa yang akan kita lakukan? Maka mari kitapun tetap konsisten mengasihi dan setia kepada-Nya, karena kita telah menikmati kasih dan setia-Nya. Amin.
Kantor Sinode GKPS