
Age gok dousa pe hita, ijalo Jesus do in.
Holong atei-Ni tumang do, ase talup hita on.
Roh ma podas hita ganup, ai bai Tuhanta sirsir do ganup.
Sai ipaima do hita, pasonangon-Ni ganup.
“Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
Kata berpuasa pada awalnya muncul dalam kitab Imamat 16:29, “Inilah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu, yakni pada bulan yang ketujuh, pada tanggal sepuluh bulan itu kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa dan janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan, baik orang Israel asli maupun orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu.” Jadi bagi bangsa Israel, berpuasa adalah cara untuk menunjukkan seseorang sedang merendahkan diri. Ia disematkan menjadi salah satu ritus yang harus dilakukan pada saat hari raya pendamaian dan penghapusan dosa.
Yesus berpuasa. PuasaNya bukan satu hari, satu minggu, atau satu bulan. PuasaNya adalah empat puluh hari dan empat puluh malam (bdk. Mat. 4:2). Setelah Ia melakukan puasa tersebut, tidak lama berselang Ia pun kemudian menyampaikan khotbah tentang berpuasa. Dalam khotbahNya, Ia menyebut agar saat berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu. Tujuannya adalah untuk orang lain, yaitu: supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa. Lagi pula, apa gunanya orang lain mengetahui kita sedang berpuasa? Sama halnya dengan, apa gunanya orang lain mengetahui bahwa kita sedang berdoa (bdk. Mat. 6:6). Cukuplah hanya Bapa di tempat yang tersembunyi itu yang melihat kita sedang berpuasa. Maka, itulah puasa yang benar. Amin.
Ikut Dikau di sengsara, kar’na janjiMu teguh:
atas kuasa kegelapan ‘ku menang bersamaMu.
Aku ingin ikut Dikau dan mengabdi padaMu:
Dalam Dikau, Jurus’lamat, ‘ku bahagia penuh!
Kantor Sinode GKPS