RENUNGAN PEMUDA GKPS
08 November 2026 (23 Dob Trinitatis)
Nas : Matius 24:15–28
Tema : Siaga di akhir zaman
Shalom, selamat berjumpa saudara/i yang dikasihi Tuhan Yesus!
Pernahkah kita menerima sebuah berita melalui WhatsApp atau media sosial yang membuat kita terkejut, marah, bahkan takut? Misalnya, berita tentang kondisi politik Indonesia, bencana alam, kenaikan harga kebutuhan pokok, atau informasi mengenai suatu peristiwa yang sedang ramai dibicarakan. Dalam hitungan detik, berita tersebut dapat tersebar ke berbagai grup dan menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Apalagi sekarang, dengan perkembangan kecerdasan buatan (AI), gambar, suara, dan video dapat dibuat sedemikian rupa sehingga terlihat seperti kejadian nyata. Kita hidup dalam masa ketika informasi begitu mudah diperoleh, tetapi kebenarannya membutuhkan proses untuk diperiksa.
Kondisi ini mengingatkan kita pada perkataan Yesus dalam Matius 24:15–28. Dalam nas ini, Yesus memperingatkan murid-murid-Nya tentang penderitaan dan penyesatan yang akan terjadi. Ia menyebutkan bahwa mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dengan tanda-tanda serta mukjizat yang dapat menyesatkan banyak orang. Dalam iman Kristen, akhir zaman bukan hanya berbicara tentang kehancuran dunia, melainkan juga masa penantian sejak kedatangan Kristus yang pertama hingga kedatangan-Nya kembali. Kita hidup dalam masa ketika Kerajaan Allah telah dinyatakan melalui Kristus, tetapi kepenuhannya masih kita nantikan. Karena itu, kehidupan orang percaya membutuhkan kewaspadaan dan kesetiaan. Ada tiga hal yang dapat kita pelajari:
1. Belajar membedakan kebenaran di tengah derasnya informasi
Dalam ayat 23–24, Yesus memperingatkan bahwa akan muncul mesias dan nabi-nabi palsu yang melakukan tanda-tanda luar biasa. Hal ini menunjukkan bahwa penyesatan dapat hadir melalui sesuatu yang terlihat meyakinkan, bahkan menggunakan simbol dan bahasa keagamaan.
Di Indonesia, kita menyaksikan bagaimana informasi palsu dapat memengaruhi cara masyarakat berpikir, membangun hubungan, bahkan memandang kelompok yang berbeda. Sebagai pemuda yang dekat dengan teknologi, kita memiliki kesempatan sekaligus tanggung jawab untuk mengembangkan literasi digital. Kita dapat memulainya dengan memeriksa sumber berita, membandingkan informasi, memahami konteks, dan berdiskusi dengan orang yang memiliki pengetahuan. Demikian juga dalam iman, semakin kita mengenal firman Tuhan, semakin kita belajar membedakan ajaran yang membangun kehidupan dengan ajaran yang menyesatkan.
2. Menumbuhkan iman melalui proses kehidupan
Dalam ayat 15–22, Yesus menggambarkan penderitaan besar yang akan dialami manusia. Ia memperlihatkan bahwa kehidupan orang percaya tidak selalu berlangsung dalam keadaan mudah. Ada masa ketika manusia harus menghadapi ketidakpastian dan mengambil keputusan dalam situasi sulit.
Kita sebagai pemuda juga sedang menjalani proses kehidupan. Ada yang sedang menyelesaikan pendidikan, mencari pekerjaan, membangun keluarga, menemukan jati diri, atau masih bergumul menentukan masa depan. Dalam setiap proses tersebut, kita diajak bertumbuh dalam iman melalui doa, membaca firman Tuhan, bersekutu, dan saling menguatkan. Kita juga belajar bahwa keteguhan iman tidak berarti selalu memiliki jawaban, tetapi tetap berjalan bersama Tuhan sekalipun ada pertanyaan dan pergumulan yang belum selesai.
3. Menjalani kehidupan dengan pengharapan kepada Kristus
Dalam ayat 26–27, Yesus menggambarkan kedatangan Anak Manusia seperti kilat yang memancar dari timur sampai ke barat. Kedatangan Kristus bukan sesuatu yang dapat dikendalikan atau ditentukan oleh klaim manusia. Karena itu, perhatian kita diarahkan kepada Kristus dan pengharapan akan kedatangan-Nya.
Menanti Kristus berarti menghidupi iman dalam kehidupan sehari-hari. Kita dapat mengambil bagian melalui pelayanan di gereja, pendidikan, pekerjaan, kepedulian terhadap lingkungan, serta keberanian memperjuangkan keadilan. Setiap pemuda, dengan kemampuan, pengalaman, dan latar belakang yang berbeda, memiliki kesempatan untuk menjadi berkat. Bahkan hal sederhana seperti mendengarkan teman yang sedang kesulitan, membantu orang yang membutuhkan, dan menyampaikan informasi yang benar merupakan bagian dari kesaksian iman kita.
Dari nas ini, kita belajar bahwa siaga di akhir zaman bukan berarti hidup dalam ketakutan, melainkan terus bertumbuh dalam iman dan pengharapan kepada Kristus. Sebagai pemuda, kita pun sedang belajar menghadapi zaman ini. Kita mungkin pernah ikut menyebarkan informasi yang ternyata keliru, pernah merasa takut melihat keadaan dunia, atau bahkan memiliki pertanyaan tentang iman dan masa depan kita sendiri. Semua itu menjadi bagian dari perjalanan kita untuk semakin dewasa. Mari kita saling mengingatkan, saling menguatkan, dan bersama-sama belajar mengenali suara Kristus di tengah begitu banyak suara yang kita dengar setiap hari. Sebab, berjaga-jaga bukan hanya tentang menantikan kapan Kristus datang kembali, tetapi juga tentang bagaimana kita memilih untuk hidup hari ini. Di tengah dunia yang terus berubah, kepada siapa lagi kita akan berpegang kalau bukan kepada Kristus? Amin.