Pimpinan Sinode GKPS (Ephorus) Pdt. John Christian Saragih, S.Th, M.Sc, menerima kunci gereja dari PMJ dan Panitia Pembangunan Gereja GKPS Batu Masagi, pada Minggu (23/11/2025) siang. (Foto: Rinaldi Edwart Purba)
BATU MASAGI.GKPS.OR.ID. Warga GKPS Batu Masagi Resort Serdang IV telah memiliki gedung gereja yang baru. Gedung yang berukuran 10×26 meter, dibangun di atas lahan 20×40 meter. Pembangunan selesai tak sampai hitungan setahun.
Sebagai ungkapan syukur, pada Minggu (23/11/2025) siang, diadakan ibadah pamongkoton (peresmian) yang dilayani Pimpinan Sinode GKPS (Ephorus) Pdt. John Christian Saragih, S.Th, M.Sc.

Turut hadir inang L. br. Sinaga, Praeses Distrik VIII Pdt. Zenriahman Sipayung, Pendeta GKPS Resort Serdang IV Pdt. Jaosner Sipayung, M.Si, dan Pdt. Bernath J. A. Damanik, S.Th yang sebelumnya sebagai Pendeta di resort tersebut.
Sebelum memasuki gedung gereja yang baru, Panitia Umum yang diketuai St. Budiaman Damanik, SKM, M.Si dan Ketua Panitia Pelaksana St. Sarman Tondang, S.Pd., menyerahkan kunci gereja kepada Pimpinan Majelis Jemaat (PMJ) GKPS Batu Masagi. Selanjutnya diserahkan kepada Ephorus untuk membuka pintu gereja di dalam nama Allah Bapa, Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus.
Kemudian diadakan penandangatangan batu prasasti peresmian oleh Pimpinan Sinode, Praeses, Pendeta Resort, Panitia Umum dan Panitia Pelaksana serta PMJ. Momen bersejarah ini disaksikan kurang lebih 200 warga jemaat.

Pamongkoton gedung gereja dilakukan saat ibadah berlangsung. Dipimpin Ephorus GKPS, seluruh Pendeta yang hadir dalam ibadah ini membacakan agenda pamongkoton.
Sebagai peneguhan kepada warga jemaat, Pdt. John Christian Saragih mengutip Wahyu 20:11-15 sebagai pesan khotbahnya.
Dalam khotbanya, Ephorus menyampaikan bahwa penghakiman merupakan keniscayaan, dan tidak bisa dihindari.
“Hidup ini akan selalu berhadapan dengan penghakiman, tidak bisa menghindar dan ingkar. Penghakiman yang terakhir merupakan keniscayaan, yang tak seorangpun luput darinya, yang tidak ada seorangpun bisa menghindar, baik orang benar dan juga orang jahat. Penghakiman terakhir pasti terjadi, ini bukan simbol, tetapi kenyataan”, terang Pdt. John Christian.
Walau demikian, Ephorus menyampaikan bahwa penghakiman terakhir merupakan pemulihan tatanan ciptaan.
“Penghakiman bukan hanya sekadar hukuman, tetapi: Pemulihan tatanan ciptaan, pendamaian antara keadilan dan kasih Allah. Allah adalah Hakim yang benar, dan penghakiman adalah bagian dari pemulihan dunia”, tegas Pendeta yang pernah melayani di Resort Cempaka Putih ini.
Sebagai refleksi atas selesainya pembangunan gedung gereja GKPS Batu Masagi, Ephorus mengajak agar warga jemaat senantiasa memiliki kerendahan hati di hadapan Tuhan.
“Secara filosopis dan teologis, bangunan gereja yang tinggi, menara gereja yang tinggi menyadarkan dan mengingatkan kita semua agar merendahkan diri dihadapan Tuhan, terlebih ketika datang dan masuk ke rumah Tuhan. Tuhan lebih besar dan lebih tinggi dari pada semua prestasi dan pencapaian yang kita peroleh dalam hidup ini. Maka, jangan lagi ada yang meninggikan hati, tapi rendahkanlah hati”, ajak Ephorus.
Mengakhiri khotbahnya, Ephorus mengingatkan fungsi gereja yang sentral dalam kehidupan dan menjalani kehidupan seturut dengan kehendak Tuhan, Sang Empunya Gereja.
Setelah ibadah, diadakan jamuan makan bersama. Dalam kesempatan ini PMJ GKPS Batu Masagi juga memberikan dayok nabinatur kepada Ephorus, Praeses, Pendeta Resort dan Pdt. Bernath J. A. Damanik, S. Th. (hks/bgs)
Pewarta dan Foto: Rinaldi Edwart Purba